banner 2.png
HOT NEWS

Web Links

Image

Friday, 17 May 2013
m-P3RL Jawab Tantangan Surplus 10 Juta Ton Beras. Pembangunan pertanian Indonesia ke depan dihadapkan pada isu pemenuhan food, feed, fuel, dan fiber. Tantangan tersebut direspon oleh Badan Litbang Pertanian dengan adanya konsep pertanian ramah lingkungan (PRL). PRL merupakan suatu sistem pertanian yang mengelola seluruh sumberdaya pertanian dan input usaha tani secara bijak, berbasis inovasi teknologi untuk mencapai peningkatan produktivitas berkelanjutan dan secara ekonomi menguntungkan serta diterima secara sosial budaya dan beresiko rendah atau tidak merusak/mengurangi fungsi lingkungan. Sistem pertanian ramah lingkungan dilaksanakan dengan menerapkan berbagai inovasi teknologi pertanian ramah lingkungan, baik dari aspek penggunaan benih, pengelolaan usahatani, maupun pascapanen. Inovasi sistem usahatani terintegrasi dapat menjadi salah satu model penerapan usaha pertanian ramah lingkungan. Berbagai titik ungkit yang membedakan model PRL dengan model pertanian eksisting untuk berbagai sistem usahatani (sawah, lahan kering dan perkebunan) atau yang lebih spesisifik pada lahan sawah intensif, lahan sawah tadah hujan, lahan rawa, lahan kering iklim masam, dan lahan kering iklim kering perlu diinkorporasikan di dalam m-P3RL sebagai dasar dalam menyusun dan mengimplementasikan PRL di tiap agroekosistem yang sesuai. m-P3RL adalah suatu konsep perencanaan pembangunan pertanian untuk mencapai tujuan pembangunan yang terintegrasi, yang meliputi peningkatan produksi, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani, dan kelestarian lingkungan dengan penerapan konsep pembangunan pertanian ramah lingkungan. Jika dikaitkan dengan pencapain surplus 10 juta ton beras di 2014 maka konsep pertanian ramah lingkungan ini akan mampu menjawab tantangan dimaksud.  Konsep m-P3RL ini akan mampu meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani. Menurut Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Haryono, tidak mudah untuk mencapai surplus 10 juta ton beras.  Pemicu permasalahannya adalah perubahan iklim global, bencana alam, hingga serangan OPT. Selain itu masalah klasik yang sering muncul adalah keterbatasan infrastruktur, alih fungsi lahan, susut hasil, mekanisasi dan lemahnya sistem perbenihan. Konsep pertanian ramah lingkungan akan meminimalisir permasalahan dimaksud. Dengan demikian penyusunan Decentralized Action Plan dalam Pengembangan Model Perencanaan Pembangunan Pertanian Ramah Lingkungan (m-P3RL), merupakan salah satu langkah antisipatif yang sangat strategis. Perlu segera dirumuskan causal loop model dinamik P3RL di masing-masing BPTP; dan rencana operasional berdasarkan causal loopmodel dinamik P3RL agar segera diimplementasikan secara intensif. Sumber: Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian http://litbang.deptan.go.id Berita terkait : koran-jakarta.com
Image

Wednesday, 13 March 2013
Padi Emas untuk Tingkatkan Kesehatan Mata. Padi emas mengandung beta karoten yang terakumulasi pada endosperm, menyebabkan warna beras berwarna keemasan. Beras tidak mengandung vitamin A namun kandungan beta karotennya akan diubah menjadi vitamin A di dalam tubuh manusia. Dengan adanya padi emas ini, defisiensi vitamin A yang menyebabkan rabun senja sampai buta total dan pertumbuhan yang tidak normal diharapkan dapat dikurangi. HaKI padi emas dibeli oleh Melinda dan Bill Gate Foundation dari Syngenta, kemudian diberikan kepada International Rice Research Institute (IRRI) untuk diadaptasi dan dikembangkan di Negara Filipina, Bangladesh dan Vietnam. IRRI memberikan dua hasil persilangan kepada Indonesia yaitu persilangan antara IR64 dengan Kaybonnet GR2 yang saat ini sudah sampai generasi F5 (BC3F5) dan persilangan antara Ciherang dengan Kaybonnet GR2 saat ini baru sampai generasi F1 (BC2F1). Apabila tidak ada halangan hasil persilangan dengan IR64 akan dilepas tahun 2015 dan yang berasal dari persilangan dengan Ciherang baru bisa dilepas tahun 2016, tentunya setelah lolos uji aman pangan dan aman lingkungan. Wakil Menteri Pertanian Dr. Rusman Heriawan, dalam kunjungannya ke Kebun Percobaan (KP) Muara, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), Jumat (8/3/2013), antusias mendengar penjelasan mengenai kemajuan perakitan padi emas (golden rice) yang adaptif dan sesuai dengan selera konsumen di Indonesia. Wamentan sangat mendorong pengembangan padi emas di Indonesia, karena membayangkan dampaknya terhadap kesehatan mata dan mental pertumbuhan masyarakat. “Mata yang sehat dan pertumbuhan normal sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan bangsa untuk menghadapi persaingan karena pasar bebas regional/global dan perubahan iklim,” ujar Wamentan.   Sumber: Badan Litbang Pertanian
Image

Wednesday, 27 February 2013
Situs Web Badan Litbang Pertanian Tembus 100 Besar Webometrics. Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat membuat semakin banyak situs web bermunculan.  Hal ini mengundang lembaga-lembaga pemeringkatan untuk melakukan pemeringkatan terhadap situs-situs tersebut.  Salah satunya webometrics.  Lembaga ini melakukan pemeringkatan situs web lembaga pendidikan dan lembaga penelitian di seluruh dunia. Salah satunya website milik Badan Litbang Pertanian yang telah bergabung sejak Juli 2009. Periode Juli 2009 hingga Juli 2012 rangking situs web Badan Litbang Pertanian mengalami peningkatan dari 771 menjadi 290.  Pada Januari 2013, situs web Badan Litbang Pertanian berhasil menembus 100 besar yaitu peringkat ke-83.  Peringkat terbaru ini merupakan lompatan besar bagi Badan Litbang Pertanian karena  mampu berada di posisi 100 besar lembaga penelitian terbaik dari total 8.000 lembaga penelitian di seluruh dunia. Dalam pengelolaan situs web Badan Litbang Pertanian secara konsisten memperbaiki kualitas data dan informasi hasil- hasil penelitian.  Selain itu, hal ini menandakan inovasi teknologi dan hasil-hasil penelitian Badan Litbang Pertanian telah banyak dikenal dan dicari oleh penggunanya.   Ke depan Badan Litbang Pertanian akan terus meningkatkan diseminasi inovasi teknologi dan hasil-hasil penelitiannya.
Image

Monday, 13 May 2013
Pelatihan Manajemen Sistem Produksi Padi Berkelanjutan Bagi Penyuluh Pertanian Lingkup Balai Besar Pengkajian dan penerapan Teknologi pertanian (BBP2TP). Dalam mendukung program peningkatan produksi beras nasional untuk mencapai  target surplus beras 10 juta ton pada tahun 2014, Badan Litbang pertanian bekerja sama dengan BP2TP dan PT Temasek Singapura telah melaksanakan pelatihan Manajemen Sistem Produksi Padi Berkalanjutan bagi para penyuluh pertanian yang dilaksanakan di BB Padi pada tanggal 24 April sampai dengan 4 mei 2013.  Pelatihan tersebut dibuka oleh Kepala Badan Litbang Peranian Dr. Haryono serta dihadiri oleh 80 orang peserta perwakilan penyuluh pertanian lingkup BP2T. Kegiatan ini merupakan upaya Badan Litbang dalam meningkatkan keterampilan penyuluh BPTP di bidang  budidaya padi, mulai dari pengelolaan benih, budidaya, pengendalian hama dan penyakit tanaman, panen hingga penanganan hasil.  Dalam pengarahannya Bapak Ka Badan menjelaskan bahwa peran penyuluh dalam pelaksanaan P2BN di lapangan sangat penting dan diwujudkan antara lain melalui:  identifikasi potensi wilayah, identifikasi dan analisis teknologi spesifik lokasi, identifikasi dan pemecahan permasalahan, mengorganisasikan kelompok tani dan gapoktan dalam satu gerakan,  serta memfasilitasi petani dalam akses informasi teknologi produksi dan pemasaran serta merespon  umpan balik dari petani. Dalam kegiatan ini sekaligus telah di launching Tim Koordinasi Kegiatan Penyuluh Pertanian lingkup BBP2TP untuk meningkatkan kinerja dan profesionalisme penyuluh.  Tugas dan tanggung jawab Tim koordinasi adalah: 1) Melakukan perencanaan, evaluasi, serta koordinasi kegiatan penyuluhan pertanian lingkup BBP2TP dan seluruh BPTP di Indonesia 2) Melakukan pembinaan terhadap profesionalisme penyuluh pertanian lingkup BBP2TP dan seluruh BPTP di Indonesia 3) Membuat database penyuluh pertanian  dan seluruh aktivitas mendukung profesionalisme penyuluh pertanian di lingkup BBP2TP dan seluruh BPTP di Indonesia. Pelatihan ini dilaksanakan melalui metode kuliah, praktikum dan kunjungan lapang. Setiap materi disampaikan oleh narasumber melalui presentasi dan diakhiri dengan diskusi. Berbagai materi dilengkapi pula dengan praktikum baik di laboratorium, rumah kaca maupun di lapangan. Praktikum tersebut antara lain : 1) Penyiapan dan pengolahan lahan 2) Penyiapan persemaian dan cara tanam 3) Pengelolaan air dan pemupukan 4) pengenalan defisiensi dan keracunan hara 5) Indentitifikasi gula padi dan teknik pengendaliannya 6) Identifikasi hama dan penyakit utama padi 7) Teknik pengendalian hama tikus 9) Penggunaan alsintan dan 10) PRA Pada penyelenggaraan pelatihan ini, panitia mengevaluasi progress akademik peserta dengan membandingkan capaian nilai pre test dan post test.  Hasil evaluasi menunjukkan kemajuan yang cukup baik dimana rata-rata nilai pre test yang semula 65,94 meningkat menjadi 76,66.  Sebagai tindak lanjut dari pelatihan  ini diharapkan dilakukannya pendampingan penerapan inovasi teknologi khususnya dalam hal manajemen produksi padi oleh para peserta pelatihan kepada penyuluh terkait hingga ke PL2. Masing-masing peserta TOT mempunyai tanggung jawab sharing knowledge kepada 4-5 penyuluh lapangan di lokasi masing masing.  Pelatihan ini diharapkan dapat menghasilkan penyuluh-penyuluh handal dan tangguh di lapangan yang siap menjadi ujung tombak pembangunan pertanian mewujudkan kesejahteraan petani dan keluarganya.
Image

Tuesday, 19 March 2013
Kepala Kebun Percobaan Muara, Bogor Jilid 2. Pada tanggal 18 Maret 2013, kemarin,  dipimpin langsung oleh Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), Dr. Made Jana Mejaya, telah dilaksanakan serah terima jabatan Kepala Kebun Percobaan di Muara, Bogor dari pejabat lama, Ir. Agus Guswara Sedawat (yang kini menjabat sebagai pejabat struktural eselon IV, Kasie PHP) kepada Ahmad Rifki, S.P. “Walaupun hanya memimpin Kebun Percobaan Bogor dalam kurun waktu yang singkat yaitu 7 bulan, Ir. Agus Guswara Sedawat berhasil mengembangkan Kebun Percobaan Bogor menjadi kebun yang istimewa atau KP plus” , ungkap Dr. Made Jana Mejaya dalam sambutannya. KP Muara Bogor berhasil mengembangkan KRPL didaerah lingkungannya dengan menanam padi, jagung, ubi, dan kacang. Bahkan akhir pekan lalu, Wakil Menteri Pertanian menyempatkan diri mengunjungi Kebun Percobaan Muara Bogor.  Tak hanya itu, Kepala Badan Litbang Pertanian juga beberapa kali mengunjungi KP Muara Bogor. “KP Muara Bogor ini berfungsi untuk memaksimalkan display varietas-varietas baru, khususnya produksi padi Hibrida”, jelas Kepala Balai. Selain itu tahun 2013 ini, banyak fasilitas yang dibangun untuk menunjang penelitian, seperti rehabilitasi kandang sapi, auditorium, sarana sanitas, perbaikan jalan, serta membangun koperasi benih.  Oleh karena itu, Kepala Kebun Percobaan Muara Bogor yang baru diharapkan melanjutkan program-program yang sebelumnya dilaksanakan serta meningkatkan kinerja yang ada. Dalam kesempatan ini pula, Ahmad Rifki, S.P. selaku Kepala Kebun Percobaan Muara Bogor yang baru mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kepercayaan yang diberikan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) kepadanya dan memohon dukungan dan arahan serta kerja sama dari semua pihak. “Sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan mohon arahan serta petunjuk untuk Jilid Dua kegiatan kita selanjutnya”, sambutan Ahmad Rifki. Di akhir sambutannya, Dr. Made Jana Mejaya menyampaikan agar Kepala Kebun Percobaan Muara Bogor yang baru meneruskan program-program unggulan yang ada. Selamat bertugas Kepala Kebun Percobaan Muara Bogor yang baru.
Image

Wednesday, 06 March 2013
Mentan Optimis Surplus Beras Mencapai 7,5 Juta Ton. JAKARTA –  Produksi padi nasional tahun 2012, menurut angka sementara  (ASEM) BPS, mencapai 69,05juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau mengalami kenaikan sebesar 3,29 jutaton (5,00 persen) dibanding tahun 2011. Berdasarkan keberhasilan tahun 2012, Mentan Suswono optimis ketersediaan beras tahun 2013 akan surplus 7,5 juta ton.   Angka pertumbuhan produksi 5% pada tahun 2012 jelas lebih baik dari target pertumbuhan yang tercantum dalam roadmap Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) pada tahun 2012 sebesar 3,21%. Capaian ini memberi tambahan semangat dan optimisme bahwa target surplus beras 10 juta ton pada tahun 2014 bisa tercapai.   Berkat kerja keras semua pihak, utamanya para petani di seluruh Indonesia, kata Mentan, "Insya Allah target surplus beras 10 juta ton dapat dicapai tahun depan.’’ Menurut BPS, kenaikan produksi padi nasional tersebut verasal dari kenaikan produksi di Jawa sebesar 2,12 juta ton dan di luar Jawa sebesar 1,17 juta ton. Kenaikan produksi terjadi karena peningkatan luas panen seluas 239,80 ribu hektar (1,82 persen) dan kenaikan produktivitas sebesar 1,56 kuintal/hektar (3,13 persen).   Jika dilihat periode tanamnya, kenaikan produksi padi tahun 2012 sebesar 3,29 juta ton (5,0%n) berasal dari subround Januari−April dan subround Mei−Agustus masing-masingsebesar 1,50 juta ton (4,91 persen) dan 2,45 juta ton (11,62 persen). Sementara pada subround September−Desember, produksi mengalami penurunan sebesar 0,67 juta ton (4,74 persen) dibanding produksi pada subround yang samatahun 2011 (year-on-year).   Selain padi, produksi jagung dankedelai juga tumbuh positif. Sementara  itu, komoditas pangan lain seperti kacang tanah, ubi kayu dan ubi jalar juga meningkat di atas 5%. Produksi jagung tahun 2012 (ASEM) sebesar 19,38 juta ton pipilan kering atau mengalami kenaikan sebesar 1,73 juta ton (9,83 persen)dibanding tahun 2011. Kenaikan produksi tersebut terjadi di Jawa sebesar 1,24juta ton dan di luar Jawa sebesar 0,49 juta ton. Kenaikan produksi terjadi karena peningkatan luas panen seluas 95,22 ribu hektar (2,46 persen) dan kenaikan produktivitas sebesar 3,28 kuintal/hektar (7,19 persen).   BPS juga merilis produksi kedelai tahun 2012 (ASEM) sebesar 851,65 ribu ton biji kering atau mengalami kenaikan sebesar 0,36 ribu ton (0,04 persen) dibanding tahun 2011. Kenaikan produksi tersebut terjadi di Jawa sebesar 29,52 ribu ton, sedangkan di luar Jawa produksi mengalami penurunan sebesar 29,16 ribu ton. Kenaikan produksi kedelai terjadi karena peningkatan produktivitas sebesar 1,32 kuintal/hektar meskipun luas panen mengalami penurunan seluas 54,38 ribu hektar (8,74 persen).   Sumber: Kemtan RI
Image

Monday, 11 February 2013
PADI GOGO. Padi Gogo   Badan Litbang Pertanian mengembangkan varietas unggul baru padi gogo dengan pendekatan PTT di Indramayu, Jawa Barat, pada MH 2011/2012. Padi gogo ditanam dengan sistem tumpangsari dengan tanaman jati muda, tanpa olah tanah (TOT). Dalam kegiatan ini, hasil varietas Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Situ Bagendit, dan Inpari 13 panen  berkisar antara 4,18-5,06 t/ha GKG (Tabel 18). Hasil tertinggi diberikan oleh varietas Inpago 4 yang mencapai 5,06 t/ha GKG, 21% lebih tinggi dari varietas Situ Bagendit (Tabel 18). Angka ini mendekati produktivitas padi nasional dewasa ini 5,1 t/ha GKG. Pengalaman di lapangan menunjukkan padi gogo dapat dikembangkan sebagai tanaman sela (tumpangsari) jati muda, kelapa sawit muda, kelapa dalam, karet muda, dan aneka tanaman tahunan.   Tabel 18. Hasil beberapa varietas unggul padi gogo yang ditumpangsarikan dengan jati muda di  Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, MH 2011/2012 Varietas Hasil (t/ha) GKG Inpago 4 5,06 Inpago 5 4,55 Inpago 6 4,27 Inpari 13 4,56 Situ Bagendit 4,18       Dalam Pekan Nasional Petani dan Nelayan (PENAS) XIII di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada 18–22 Juni 2011, digelar varietas unggul padi Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Danau Gaung, dan Situ Bagendit. Keragaan tanaman cukup menggembirakan dengan hasil berkisar antara 3,12-4,81 t/ha GKG (Tabel 19). Pada peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-31 di Gorontalo pada 20-23 Oktober 2011, dikembangkan pula varietas unggul baru padi gogo Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Limboto, dan Batutugi dengan hasil berkisar antara 3,5-5,1 t/ha GKG. Petani sekitar lebih menyukai varietas Inpago 5 dan Limboto.   Tabel 19. Hasil varietas unggul baru padi gogo pada gelar teknologi di Penas XIII di Kalimantan Timur dan HPS XXXI di Gorontalo, 2011 Varietas Hasil  (t/ha) GKG PENAS di Kalimantan Timur HPS di Gorontalo Inpago 4 4,75 3,5 Inpago 5 4,64 4,5 Inpago 6 4,19 4,7 Danau Gaung 3,12 4,6 Situ Bagendit 4,81 5,1 Limboto - 4,6 Batutegi - 5,1                          

Monday, 01 October 2012
DAMPAK TANAM PADI BERJAMAAH (SEREMPAK). DAMPAK TANAM PADI BERJAMAAH (SEREMPAK) Baehaki, SE. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Jl. Raya No.9 Sukamandi-Subang-Jawa Barat. Telp.  0260-520157, Fax. 0260-520158,  E-mail: baehakise@yahoo.co.id Konsep Model Tindak Lanjut Pengendalian hama (MRTL) atau program aksi pengendalian hama berkelanjutan telah saya cetuskan  di  Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) didukung oleh Kepala BB Padi, Dra. Trinny, Ir. Yamin Samaullah MS, Dr. Usyati,  dan Ir. Nia Kurniati, serta kawan-kawan dari company, dimulai saat ledakan wereng coklat pada MK 2009/2010.   Landasan dasar MRTL adalah tanam padi berjamaah dalam areal luas harus terselesaikan selama 15 hari. MRLT telah diterapkan di Propinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.   Tanam padi berjamaah dalam MRTL harus melaksanakan Triangle strategies yaitu teknologi, Sosial, dan kebijakan pemerintah (Baehaki 2011). Tanam padi berjamaah telah dirancang dan dilaksanakan sejak digelarnya MRTL setelah ada ledakan wereng cokat  tahun 2009. Tanam Padi berjamaah berdampak social untuk membangkitkan rasa gotong royong yang dirasakan sudah hilang.  Bangkitnya rasa gotong royong ditenggarai dengan seringnya para petani berkomunikasi baik  antar individu, poktan, dan gapoktan.  Mereka kumpul lagi di saung meeting atau rumah local leader untuk tidak tanam saling mendahului.  Mereka menyadari bahwa teknologi yang diterapkan pada tanam serempak di jamin berhasil, akurat dan refresentatif hal ini ditenggarai dengan menurunnya populasi hama sehingga tanaman padi aman terhadap serangan hama dan penyakit.  Turunnya populasi hama menyebabkan turunnya input pestisida, ditenggarai dengan pemakaian pestisida dapat ditekan sampai lebih dari 50% dengan produksi yang luar biasa (Table 1). Tabel 1. Success story tanam padi berjamaah dapat mengurangi Hama-Penyakit dan pemakaian pestisida   Lokasi Musim Pola tanam Varietas Aplikasi pestisida Hasil GKP (t/ha) Freq. (kali) Sasaran Sukamandi, Ciasem- Subang (1000 ha) Sebelum 2010 Tidak Serempak Beragam >8 W.Cok 0-6 MP 2010/2011 MK 2011, MP2011/2012 Serempak Serempak Serempak Inpari13 Beragam Beragam 3-4 3 4 W.Cok P.gerek P.gerek 9.3-10.7 8-9 8-9 Ciberes-Subang MK2012 Serempak Ciherang 3 P.gerek 11.3 Polanhardjo Klaten (804 ha) Sebelum 2010 Tidak Serempak Beragam >8 W.Cok 5 musim tidak panen MK 2011 Serempak Inpari13 5 W.Cok 9.3 Karangdowo Klaten (7000 ha) Sebelum  2011 Tidak Serempak Beragam 5-7 W.Cok Banyak gagal MP 2011/2012 Serempak Inpari13 3 W.Cok 10.23   Tanam padi berjamaah memudahkan pemerintah membina para petani dan memudahkan pengawasan  serta monitoring terhadap situasi lahan pertanaman.  Hal ini ditenggarai dengan makin efisiennya waktu yang dibutuhkan oleh petugas lapang untuk membina dan menaksir target produki secara jelas, tepat dan riil. Tanam padi berjamaah meningkatkan agibisnis dan pendapatan petani dengan efisiensi input seperti pengurangan pestisida, pengaturan air saling berbagi, Gropyokan hama tikus bergotong royong dengan tidak perlu mengeluarkan upah berlebihan.  Tanam padi berjamaah meningkatkan kehidupan perekonomian daerah atau membangkitkan industri.  Hal ini ditenggarai dengan tanam yang serempak pada areal yang luas (1000 ha) atau kawasan dalam waktu hanya dalam waktu 15 hari.   Dalam waktu yang singkat ini tentu diperlukan tenaga yang banyak baik itu tenaga pengolahan tanah, tanam, pemeliharaan dan panen.  Tenaga tersebut tidak dapat dipenuhi seutuhnya oleh tenaga kerja manusia.   Untuk itu perlu didukung dengan alat pengolah tanah (traktor), alat tanam (transplanter),  alat panen (harvester).    Penyediaan alat-alat tersebut dapat membangkitkan perekonomian pedesaan dengan pengusaha jasa  dan membangkitkan industri  alat mesin pertanian (alsintan). Pustaka Baehaki S.E.  2011. Strategi  Fundamental   Pengendalian Hama Wereng Batang Coklat  Dalam  Pengamanan Produksi Padi Nasional. Pengembangan Inovasi Pertanian. Badan Penelitian dan     Pengembangan pertanian. Vol. 4, No. 1. P63-75 Baehaki S.E. 2011. Model Rencana Tindak Lanjut (MRTL)  Pengendalian Hama  Wereng Coklat  Berdasarkan Kebijakan  Triangle  Strategi    Dalam Pengamanan Produksi Padi Nasional. Workshop Policy Brief, FKPR.  Badan Litbang TP. 7p.
Image

Friday, 25 May 2012
PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BATANG PADI . Penggerek batang padi merupakan hama utama tanaman padi di Indonesia. Di dunia terdapat 21 spesies penggerek batang yang beradaptasi pada agroekosistem padi (Kapur, 1964), sedangkan di Indonesia terdapat enam spesies (Hattori dan Siwi, 1986). Penggerek batang menyerang tanaman padi sejak di persemaian hingga tanaman pada stadia matang. Cara masuknya hama penggerek batang ke dalam batang padi berbeda antarspesies. Gejala serangan yang disebabkan oleh semua spesies penggerek batang sama pada tanaman padi. Pada tanaman stadia vegetatif, larva memotong bagian tengah anakan sehingga aliran hara ke bagian atas tanaman terganggu yang menyebabkan pucuk layu dan kemudian mati. Gejala serangan pada tanaman stadia vegetatif disebut sundep. Kehilangan hasil padi akibat serangan penggerek batang pada stadia vegetatif tidak terlalu besar karena tanaman masih dapat membentuk anakan baru. Namun tetap ada pengurangan hasil karena anakan yang baru lebih kecil yang menghasilkan malai yang kecil pula. Berdasarkan simulasi pada stadia vegetatif, tanaman padi masih sanggup mengkompensasi kehilangan hasil akibat serangan penggerek batang sampai 30% (Rubia et al., 1990). Pada stadia generatif, larva menggerek tanaman yang akan bermalai, sehingga aliran hasil asimilasi tidak sampai ke dalam bulir padi. Gejala serangan pada tanaman stadia generatif disebut beluk. Tidak semua tunas tanaman padi yang terserang muncul menjadi beluk, tetapi juga terdapat calon malai yang terserang tidak sempat muncul. Pada tingkat serangan yang tinggi, jumlah malai berkurang. Penurunan hasil pada stadia ini disebabkan oleh adanya pengurangan jumlah malai akibat gejala beluk. Kerugian hasil yang disebabkan oleh setiap persen gejala beluk berkisar antara 1– 3% (Pathak dan Khan, 1994) dengan rata-rata 1,2% (Halteren, 1977). Rubia et al. (2001) melaporkan bahwa kehilangan hasil padi pada stadia generatif tidak sebanding dengan tingkat serangan beluk, karena adanya aliran hasil asimilasi dari anakan dengan gejala beluk ke anakan yang sehat. Hal ini dipengaruhi oleh varietas padi, iklim, kesuburan dan kelembaban tanah. Pengurangan hasil oleh penggerek batang padi kuning di Asia  berkisar antara 2–5% (Chen, 2008). Hasil padi sangat bergantung pada potensi hasil dari setiap varietas. Respon varietas terhadap kerusakan tanaman akibat serangan penggerek batang berbeda antarvarietas. Hasil varietas padi tipe baru, padi hibrida, dan varietas unggul baru berkorelasi dengan tingkat kerusakan tanaman pada stadia primordia, sedangkan dengan padi hibrida (varietas Intani 2) tidak berkorelasi. Padi hibrida varietas Intani 2 relatif cepat pulih dari gejala sundep sehingga jumlah anakannya tetap banyak (Hendarsih dan Usyati, 2005). Padi hibrida atau varietas padi yang beranak banyak lebih toleran terhadap serangan penggerek yang tinggi.   A. Spesies   Untuk menentukan spesies penggerek batang padi berdasarkan morfologi larva, pupa, imago, dan organ genetalia imago jantan dapat dilihat pada kunci yang diajukan oleh Hattori dan Siwi (1986). Mereka mengidentifikasi bahwa di Indonesia terdapat enam spesies penggerek batang padi, yang terdiri dari lima famili Pyralidae dan satu spesies  dari famili Noctuidae. Keenam spesies tersebut adalah penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas Walker (Lepidoptera: Pyralidae), penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata Walker (Lepidoptera: Pyralidae), penggerek batang padi bergaris Chilo suppressalis Walker (Lepidoptera: Pyralidae), penggerek batang padi kepala hitam Chilo polychrysus Meyrick (Lepidoptera: Pyralidae), penggerek batang padi berkilat Chilo auricilius Dudgeon (Lepidoptera: Pyralidae), dan penggerek batang padi merah jambu Sesamia inferens Walker (Lepidoptera: Noctuidae). Semua spesies penggerek batang melalui metamorfosa sempurna sehingga siklus hidupnya terdiri atas stadia telur, larva, pupa, dan dewasa atau imago. Larva merupakan stadia yang menggerek tanaman dan menimbulkan kerusakan. Imago bersifat nocturnal, yaitu aktif di malam hari dan disebut ngengat atau moth. Semua spesies penggerek batang padi menjalani proses yang sama, yaitu telur diletakkan pada daun atau pelepah daun. Larva yang baru menetas dari telur, yaitu larva instar 1, bergerak ke dalam tanaman melalui celah antara pelepah dan batang dan menuju bagian tengah anakan padi. Sebagian larva mengeluarkan benang halus dan dipakai untuk bergelantung pada bagian ujung daun dan berayun-ayun sampai ke rumpun padi yang lain atau permukaan air.  Larva hidup dalam tanaman sampai instar ke-5 atau ke-6  larva, bergantung pada lingkungan dan larva pindah dari satu tunas ke tunas lainnya.   A.1  Penggerek Batang Padi Kuning Penggerek batang padi kuning merupakan spesies penggerek yang penyebarannya meluas dari daerah bermusim dingin, subtropik sampai daerah tropik. Perilaku penggerek batang padi kuning bergantung pada geografi, di mana di daerah subtropik terjadi diapause sedangkan di daerah tropis seperti di Indonesia tidak terjadi diapause (Goot, 1925). Di  banyak kabupaten di Jawa, penggerek batang padi kuning merupakan spesies yang dominan (Hendarsih dkk., 2000; Hendarsih dkk., 2007). Lama siklus hidupnya dipengaruhi oleh temperatur, sehingga di daerah subtropik siklus hidup penggerek batang padi kuning lebih panjang. Di daerah tropik, penanaman tanaman padi secara terus-menerus sepanjang tahun menyebabkan penggerek batang padi kuning akan terus berkembang sehingga dalam satu tahun terdapat 7–8 generasi. Ngengat penggerek batang padi kuning mudah diidentifikasi yang ditandai oleh sayap berwarna kuning dengan titik hitam. Panjang ngengat jantan 14 mm dan betina 17 mm, dapat hidup 5–10 hari. Siklus hidup penggerek batang padi kuning berkisar antara  39–58 hari, bergantung pada lingkungan dan makanan. Jangkauan terbangnya mencapai 6–10 km. Ngengat bertelur pada pukul 19.00–22.00 dalam 3–5 malam. Setiap betina bertelur sebanyak 100–600 butir secara berkelompok, tiap kelompok terdiri atas 50–150 butir, dan kelompok telur ditutupi oleh bulu halus. Dalam 6–7 hari telur menetas, larva terdiri atas 5–7 instar, dan lama stadium larva 28–35 hari. Larva bersifat kanibal sehingga  hanya ada seekor larva yang hidup dalam satu tunas. Larva instar akhir menuju pangkal batang untuk berubah menjadi pupa. Sebelum menjadi pupa, larva membuat lubang keluar pada pangkal batang dekat permukaan air atau tanah, yang ditutupi oleh membran tipis untuk jalan keluar setelah menjadi imago. Pupa berwarna kekuning-kuningan atau agak putih, dengan kokon berupa selaput benang berwarna putih. Panjang pupa 12–15 mm dan stadium pupa 6–23 hari. Pupa berada di dalam pangkal batang. Di daerah subtropik, jika temperatur turun, larva instar akhir menuju pangkal batang menjadi prepupae, dan jika temperatur naik prepupa berubah menjadi pupa dan keluar menjadi  ngengat. Tanaman inang utama penggerek batang padi kuning adalah padi, tetapi dapat bertelur pada tanaman lain (Reissig et al., 1985). Penggerek batang padi kuning lebih berkembang pada pertanaman padi yang diusahakan secara terus-menerus sepanjang tahun (Goot, 1925). A.2  Penggerek Batang Padi Putih Penggerek batang padi putih menyebar di  Asia Tenggara, Asia  Selatan, dan Australia. Di Indonesia, hama ini ditemukan di Kalimantan, Jawa, Sulawesi Selatan, Sumatera, Sumbawa, dan Madura (CABI, 2001). Di Jawa, penyebaran penggerek batang padi putih terbatas di dataran rendah yang kurang dari 200 m dari permukaan laut dengan musim kemarau yang kering, curah hujan dalam bulan Oktober–November kurang dari 200 mm (Goot, 1925). Ngengat sangat tertarik pada cahaya, pada awal musim hujan ngengat keluar serempak dari populasi prepupa yang berdiapause. Puncak hasil tangkapan ngengat sangat jelas selama 10–14 malam untuk tiap generasi. Sayap ngengat berwarna putih, panjang betina 13 mm dan jantan 11 mm, hidup 4–7 hari dan maksimum 13 hari. Perbandingan populasi betina dan jantan adalah 2:1. Ngengat meletakkan telurnya berkelompok, 50–250 butir/kelompok dengan rata-rata 160 butir/kelompok, satu kelompok setiap malam selama 4 hari. Bentuk kelompok telur penggerek batang padi putih sama dengan  kelompok telur penggerek batang padi kuning, ditutupi bulu dan telur diletakkan di permukaan daun bagian bawah. Dalam 5–8 hari telur menetas, 85% telur menetas sebelum pukul 13.00 (BALITPA, 1992). Bentuk larva penggerek batang padi putih mirip dengan larva penggerek batang padi kuning, panjang maksimal 21 mm dan berwarna putih kekuningan. Stadium larva 19–31 hari, kecuali untuk larva yang berdiapause. Larva instar terakhir akan menuju pangkal batang dan menjadi pupa. Lama periode pupa 6–9 hari, dan berada di pangkal batang. Larva instar terakhir pada tanaman stadia generatif muncul pada musim kemarau,   tidak langsung berubah menjadi pupa, tetapi berdiapause di dalam pangkal batang untuk kemudian berubah menjadi pupa setelah ada hujan pada awal musim hujan berikutnya. Di  Australia, larva berdiapause dalam tunggul padi dan padi liar (Oryza australiensis) selama  musim dingin yang kering. Di Indonesia 2–18% larva tidak berdiapause (Sosromarsono, 1990). Pada tahun 1990 populasi penggerek batang padi yang tidak berdiapause meningkat menjadi 75% . A.3  Penggerek Batang Merah Jambu Penyebaran penggerek batang merah jambu luas, bersifat polifag, dan hidup pada  tumbuhan keluarga Graminae seperti padi, tebu, jagung, sorgum, padi liar, aneka rumpun seperti Panicum sp. dan Paspalum sp. Ngengat penggerek batang merah jambu kekar dengan sayap depan bergaris memanjang,  berwarna coklat tua, dan sayap belakang putih, panjang 4–17 mm, dan kurang tertarik pada cahaya. Ngengat spesies ini penerbang yang kuat bisa terbang sejauh 32 km  untuk ngengat betina dan 50 km untuk ngengat jantan. Siklus hidup ngengat berlangsung 46–83 hari. Telur diletakkan pada 2–3 baris/kelompok yang menyerupai manik-manik dengan jumlah 30–100 butir/kelompok telur dalam pelepah atau batang. Lama stadia telur 6 hari, larva berwarna merah jambu dengan panjang maksimal 35 mm. Dalam satu tunas didapatkan beberapa larva. Lama stadium larva 28–56 hari. Di antara spesies penggerek batang yang menyerang atau hidup pada  tanaman padi, penggerek batang merah jambu paling rendah serangannya. Serangan berat terjadi jika populasi sangat tinggi, limpasan dari kebun tebu atau tanaman lain di sekitarnya. A.4  Penggerek Batang Padi Bergaris Penggerek batang padi bergaris menyebar dari daerah tropik sampai 40° lintang utara, dan di Indonesia merupakan hama minor. Ngengat bisa hidup sampai satu minggu dan aktif mulai senja. Kepala ngengat berwarna coklat muda dan warna sayap depan coklat tua dengan venasi sayap yang jelas, panjang ngengat 13 mm. Seekor betina bisa bertelur 100–550 butir, dalam kelompok yang terdiri atas 60–70 telur/kelompok selama 3–5  malam. Telur diletakkan pada pangkal daun adakalanya pada pelepah. Telur berwarna putih dan tidak ditutupi rambut dengan lama stadium telur 4–7 hari. Larva berwarna abu-abu, kepala coklat dengan garis coklat sejajar tubuhnya, panjang maksimal 26 mm, dan stadium larva 33 hari. Beberapa ekor larva bisa hidup pada satu buku dari satu tunas. Bergantung pada temperatur dan ketersediaan makanan,  satu siklus hidup bisa mencapai enam generasi/tahun. Larva instar akhir berpupa di dalam batang, setelah membuat lubang untuk imago keluar dari pupa. Warna pupa coklat tua dengan stadium pupa 6 hari. A.5  Penggerek Batang Padi Berkepala Hitam Penyebaran hama ini dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Ngengat bertelur sampai 500 butir selama 3–4 malam. Telur diletakkan berkelompok berbaris pada helaian daun pada pukul 19.00 dan 23.00. Telur menetas setelah 4–7 hari pada pagi hari. Stadium larva 30 hari, dengan panjang 18–24 mm, beberapa larva dapat hidup pada satu tunas. Pupa berwarna coklat tua dan stadium pupa 6 hari. Kepala ngengat berwarna hitam. Sayap depan bersisik, bagian tengah keperakan. Sayap belakang kuning muda dengan panjang 10–13 mm. Siklus hidup berlangsung selama 26–61 hari.  Tanaman inang penggerek batang padi bergaris adalah padi, padi liar, jagung, tebu, sorgum, dan beberapa jenis rumput. A.6  Penggerek Batang Padi Berkilat Penggerek batang padi berkilat  dilaporkan dari  Bangladesh, Bhutan, Cina, Hongkong, India, Indonesia (Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera), Malaysia, Myanmar, Nepal,  Filipina, Taiwan, Thailand, dan Vietnam (CABI, 2001). Tanaman inangnya adalah tebu, sorgum, dan rumput-rumputan. Larva biasanya terdiri atas lima instar, bergantung pada kondisi musim setempat, di daerah musim dingin dapat mencapai delapan instar. Lama larva berkisar antara 16–51 hari dan lama pupa 6–10 hari. Ekologi dan biologi spesies ini pada tanaman padi menyerupai penggerek batang padi bergaris.   C. Dinamika Dominasi Penggerek Batang Spesies penggerek batang padi yang beradaptasi pada satu agroekosistem akan mejadi  spesies yang dominan. Dari enam spesies penggerek batang yang ditemukan pada  tanaman padi di Indonesia, empat di antaranya lebih dominan. Keempat spesies tersebut  adalah penggerek batang padi kuning, penggerek batang padi putih, penggerek batang merah jambu, dan penggerek batang  bergaris. Di Pantai Utara Jawa Barat, penggerek batang padi putih merupakan penggerek yang dominan sebelum kemerdekaan Indonesia (Goot, 1925). Dibangunnya jaringan irigasi Jatiluhur dan dam lainnya menyebabkan 300.000 ha sawah berpengairan teknis, sehingga pola tanam dalam setahun berubah dari satu kali padi umur panjang menjadi dua kali padi umur genjah. Dinamika dominasi spesies penggerek batang  yang diketahui dengan menganalisis data ngengat dari tahun 1972 sampai 2007 dapat dilihat pada Gambar 1. Pada tahun 1972 di Sukamandi 50% dari ngengat yang tertangkap oleh lampu perangkap merupakan penggerek batang padi kuning dan 50% lagi penggerek batang padi putih. Penelitian Soehardjan (1976) menunjukkan bahwa penggerek batang padi kuning mendominasi di Cilamaya, Karawang. Perubahan spesies tersebut disebabkan sebagian besar lahan sawah di Sukamandi telah mendapat air irigasi dari jaringan irigasi Jatiluhur, sehingga tanaman padi dapat diusahakan dua kali setahun, sesuai dengan penggolongan air. Penggerek batang padi kuning yang semula hanya hidup pada satu tanaman inang (dalam hal ini padi) dan beradaptasi dengan baik pada lingkungan basah mendapatkan lingkungan yang cocok untuk berkembang setelah dibangunnya jaringan irigasi dari Jatiluhur. Kondisi tersebut tidak menguntungkan penggerek batang padi putih, yang  lebih beradaptasi pada kondisi pola tanam padi-bera, hama penggerek batang padi putih memerlukan diapause, atau mengalami dorman selama musim kemarau atau kekeringan pada tunggul padi. Sejak 1988 terlihat adanya peningkatan populasi penggerek batang padi putih dan mencapai puncaknya pada tahun 1990. Pada saat terjadi ledakan penggerek batang pada tahun 1990, spesies dominan di Kabupaten Subang adalah penggerek batang padi putih (Manwan dkk., 1990), sedangkan penggerek batang padi kuning hanya  ditemukan  di bagian barat Kabupaten Karawang dan dekat Kabupaten Cirebon. Timbulnya kembali spesies penggerek batang padi putih diduga dipengaruhi oleh makin meluasnya pertanaman varietas IR64 (Hendarsih dkk., 2000). Menurut Litsinger et al. (2006), ledakan penggerek batang padi putih di Indonesia pada tahun 1990 diawali oleh penyimpangan iklim di selatan equator (ENSO) yang menyebabkan kemarau panjang pada tahun 1982/83, sehingga populasi penggerek batang padi putih yang berdiapause berkembang. Sedangkan dominasi penggerek batang padi putih di Filipina tidak berubah karena tidak dipengaruhi ENSO. Di Subang, populasi penggerek batang padi putih sudah mulai meningkat sejak 1988. Hal tersebut disebabkan pola curah hujan pada MH 1989/90 menyebabkan sebagian besar larva yang berdiapause keluar menjadi ngengat. Sejak 1990 tidak ada perubahan dalam bercocok tanam dan pola tanam di kawasan Pantai Utara Jawa, namun secara perlahan penggerek batang padi kuning kembali mendominasi. Pada tahun 1995, populasi penggerek batang padi putih rendah sekali, sedangkan populasi penggerek batang padi kuning meningkat menjadi 30%. Sejak itu penggerek batang padi kuning lebih mendominasi dengan populasi lebih dari 90%. Kerusakan tanaman padi yang disebabkan oleh penggerek batang padi kuning hampir sama dengan yang disebabkan oleh penggerek batang padi putih. Penggerek batang padi bergaris selalu ditemukan dalam populasi yang rendah, namun survei pada tahun 2007 menunjukkan tidak ditemukan spesies ini, baik ngengat maupun larva. Tanaman padi bukan inang utama penggerek batang bergaris. Di Jepang dominasi penggerek batang padi bergaris cepat berubah dengan berubahnya varietas yang ditanam. Dominasi penggerek batang padi merah jambu berfluktuasi sejak tahun 1969 (Gambar 1). Pada tahun 1980, 1990, dan 1998 populasinya rendah sekali, tetapi meningkat pada tahun 1995. Pada tahun 2007 juga ditemukan penggerek batang padi merah jambu. Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di Sukamandi, tetapi juga di Jawa Barat dan Jawa Tengah pada umumnya. Hasil survei di Jawa pada tahun 2007 menunjukkan, berdasarkan morfologi larva,  populasi penggerek batang padi merah jambu meningkat dibanding tahun 1999 (Hendarsih dkk., 2007). Kondisi ini dapat disebabkan oleh meluasnya areal pertanaman jagung, sehingga populasi penggerek batang padi merah jambu bisa berkembang pada jagung maupun padi. Populasi penggerek batang merah jambu biasanya  tinggi  jika tanaman inang yang lain ditanam di sekitar padi, seperti jagung, tebu, atau rotasi dengan gandum. Menurut Boer (2007), perubahan keberadaan penggerek batang merah jambu ini disebabkan oleh perubahan iklim, di mana dalam tahun terakhir frekuensi kekeringan makin sering terjadi dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Gambar 1. Komposisi spesies penggerek batang padi di Kecamatan Ciasem, Subang, pada tahun 1969–2007.   D. Penyebaran Penggerek Batang Padi Kuning di Jawa Dominasi Scirpophaga spp di 23 kabupaten lebih dari 85%, sedangkan di 15 kabupaten berkisar antara 50–85%. Jika dihimpitkan (overlayed) peta dominasi Scirpophaga spp dengan peta iklim pertanian dari Oldeman (1975), tidak ada pengaruh iklim atau distribusi dan jumlah curah hujan (dari tipe iklim A sampai E) terhadap dominasi Scirpophaga spp. Demikian juga bila dilihat elevasi semua kabupaten, maka tidak ada pengaruh ketinggian lokasi dari permukaan laut terhadap penyebaran Scirpophaga spp. Rendahnya dominasi Scirpophaga spp di tiga kabupaten (Kuningan, Sukabumi, dan Bandung) lebih disebabkan oleh keragaman  tanaman (Hendarsih dkk., 2000). Penggerek batang padi kuning (S. incertulas W) lebih sering dijumpai dibanding penggerek batang  padi putih, kecuali di Indramayu. Penggerek batang padi kuning     mendominasi semua spesies penggerek dan dominasinya lebih dari 90%. Spesies penggerek ini tetap dominan pada areal tanaman padi yang ditanam serempak maupun tidak serempak (Hendarsih dkk., 2000). Pada MH 1998/99, di Kecamatan Gabus Kulon ditemukan penggerek batang padi kuning dan penggerek batang padi putih, sedangkan di Babakan Jaya dan Kroya hanya penggerek batang padi putih. Di Karang Ampel pada tahun 2005 ditemukan ngengat penggerek batang padi putih. Pada tahun 2007 ngengat penggerek batang padi putih dijumpai di Segeran Kidul, sementara di Tambi campuran penggerek batang padi putih dan penggerek batang padi kuning, sedangkan di Widasari hanya penggerek batang padi kuning. E. Pengendalian Secara Terpadu Pengendalian hama penggerek batang padi mengedepankan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dalam hal ini pengendalian difokuskan pada hama sasaran dengan mempertimbangkan kelestarian ekosistem. PHT penggerek batang padi memerlukan bioekologi setiap spesies penggerek dan teknologi pengendalian sebagai komponen PHT. Penggunaan insektisida dalam PHT merupakan alternatif terakhir kalau komponen teknologi lainnya tidak efektif. E.1  Pengendalian Secara Biologi Banyak musuh alami yang membatasi populasi penggerek batang padi, terdiri atas predator dan parasitoid. Predator adalah musuh alami yang langsung memakan hama, sedangkan parasitoid adalah serangga yang memarasit penggerek batang. E.1.1  Predator Lebih dari 100 spesies serangga yang berasosiasi dengan penggerek batang, tetapi populasinya rendah. Predator pada umumnya menyerang semua serangga, dan terdapat beberapa predator yang spesifik. Stadia penggerek batang yang rentan terhadap predator adalah ngengat, larva instar pertama, dan telur. Predator spesifik telur penggerek batang adalah belalang Conocephalus longipennis (CABI, 2001). Predator pada ngengat antara lain adalah laba-laba, capung, dan burung. Larva dan pupa terdapat di dalam batang padi dan  terhindar dari musuh alami. E.1.2  Parasitoid Telur Penggerek Parasitoid adalah serangga yang hidup sebagai parasit selama masa pradewasa penggerek. Parasitoid dapat memarasit telur, larva, atau pupa. Parasitoid larva dan pupa tidak banyak diketahui dan umumnya kurang efektif dibandingkan dengan parasitoid telur. Beberapa parasitoid larva dan pupa yang diketahui adalah Apanteles chilonis, Bracon chinensis, Tropobracon schoenobii, dan Temelucha bigutella (Soejitno, 1988). Parasitoid telur paling banyak dikembangkan untuk mengendalikan serangga-serangga hama ordo Lepidoptera. Hal ini disebabkan karena parasitoid telur mampu mengendalikan hama sebelum merusak tanaman. Parasitoid telur penggerek batang padi adalah Trichogramma japonicum Ashmead, Telenomus rowani (Gahan), dan Tetrastichus schoenobii Ferriere (Soejitno, 1991; Rauf, 2000). Parasitoid T. japonicum termasuk famili Trichogrammatidae dan ordo Hymenoptera. Parasitoid dari famili Trichogrammatidae tidak kurang dari 100 spesies, umumnya berupa serangga dengan ukuran tubuh sangat kecil (0,47–0,69 mm). Siklus hidup T. japonicum berkisar antara 7–9 hari. T. japonicum lebih suka memarasit telur  umur 2 hari, dan kemampuan bertelurnya rata-rata 38,6 butir. Nisbah kelamin jantan dan betina adalah 1:3 (Laba, 1998). Di lapangan, T. japonicum mampu memarasit telur Chilo sebesar 98%, tetapi pada telur Scirpophaga paling tinggi 4% (Rothschild, 1970 dalam Rauf, 2000). Survei Meilin (1999) menunjukkan, bahwa tingkat parasitisasi T. japonicum di lapangan berkisar antara 13–36%. Umumnya tingkat parasitisasi spesies-spesies Trichogrammatidae relatif rendah dan dapat ditingkatkan melalui beberapa cara, di antaranya dengan pelepasan massal parasitoid secara inundatif (Herlinda, 1995; Djuwarso  dan Wikardi, 1997). Hal ini diperkuat oleh pernyataan Fitton dan Walker (1992) bahwa pengendalian yang efektif menggunakan spesies Trichogramma adalah melalui program pelepasan inundatif secara ekstensif. Pengalaman Cina menunjukkan, pengendalian Chilo suppressalis dengan pelepasan 450.000 ekor/ha T. japonicum dinilai efektif dengan tingkat parasitisasi 89,1% dan kerusakan tanaman berkurang sekitar 80%. Telenomus rowani termasuk famili Scelionidae dari ordo Hymenoptera.  Telenomus berwarna hitam dan ukurannya (0,62–1,08 mm) lebih kecil dari Tetrastichus. T. rowani meletakkan telur pada satu kelompok telur penggerek, tetapi seekor Telenomus hanya dapat berkembang dalam tiap telur. Perkembangan dari fase telur hingga dewasa membutuhkan waktu 10–14 hari. Telenomus meletakkan telurnya di dalam telur penggerek batang yang baru diletakkan sebelum telur ditutupi rambut. Seekor  Telenomus betina memarasit 20–40 telur dan hidup selama 2-4 hari atau lebih lama, bergantung pada ketersediaan nektar (Shepard, et al. 1995). Di lapang, T. rowani mampu memarasit 55,8% telur penggerek batang padi putih (Rauf, 2000). Sementara Usyati dkk., (2003) melaporkan bahwa Telenomus memarasit telur penggerek batang padi kuning sebanyak 39,5%. Tetrastichus schoenobii Ferriere termasuk famili Eulopidae dari ordo Hymenoptera. Ukuran tubuh T. schoenobii lebih besar dibanding Telenomus dan Trichogramma, yaitu 1,0-1,6 mm. Perkembangan T. schoenobii dari telur sampai dewasa membutuhkan waktu 10-14 hari (Shepard, et al. 1995). T. schoenobii adalah parasitoid telur penggerek batang padi yang lebih efektif dibanding T. rowani dan T. japonicum.  Hal ini terkait dengan sifat parasitoid T. schoenobii yang juga berperan sebagai predator.  Dilaporkan bahwa setiap larva T. schoenobii mampu memangsa 2-3 butir telur penggerek batang padi dan daya kompetisinya lebih kuat daripada parasitoid lainnya. Jumlah telur yang terparasit oleh T. schoenobii tidak dipengaruhi oleh ukuran kelompok telur. Hal ini berbeda dengan T. japonicum dan T. rowani yang tingkat parasitisasinya menurun dengan makin besarnya ukuran kelompok telur (Rauf, 2000). Keperidian T. schoenobii dua kali lipat lebih tinggi daripada T. japonicum dan T. rowani (Soejitno, 1990). Tingkat parasitasi penggerek batang di lapang berfluktuasi. Di Sukamandi pada tahun 1994 penggerek batang padi putih terparasit oleh parasitoid Telenomus dignus Gahan, T. rowani Gahan, Trichogramma japonicum Ash yang muncul sejak awal pertanaman, dan Tetrastichus schoenobii Ferriere baru muncul setelah tanaman mencapai stadia primordia. Aplikasi insektisida mengurangi jumlah telur penggerek batang padi putih yang terparasit (Sasmita dan Baehaki, 1997). Oleh karena itu, penggerek batang sebaiknya dikendalikan secara preventif, di antaranya mengkombinasikan kultur teknik dengan cara pengendalian lain tanpa menggunakan insektisida agar musuh alami dapat hidup dan mengendalikan penggerek batang. Upaya lainnya adalah menambah populasi musuh alami di lapangan dari hasil biakan. Trichogramma yang dapat memarasit telur Corcyra cephalonica dapat dipakai untuk membiakan Trichogramma. Daya parasitasi hasil biakan tersebut mencapai 50% kelompok telur penggerek padi kuning. E.2  Pengendalian Secara Mekanik Pengendalian secara mekanik dengan mengambil kelompok telur sebaiknya dilakukan secara intensif dilakukan di persemaian. Pengambilan kelompok telur setelah tanam membutuhkan banyak tenaga dan banyak telur yang terlewati. Penggerek batang padi putih  dan kuning  akan menuju pangkal batang atau tunggul padi jika sudah mencapai stadia akhir. Pada saat panen banyak hama penggerek yang masih berada dalam batang dan belum sampai ke tunggul. Pemotongan batang padi (pada saat panen) yang lebih dekat ke tunggul mematikan banyak larva sehingga mengurangi populasi penggerek generasi berikutnya. Penangkapan ngengat secara massal juga dapat dilakukan dengan memakai lampu. Tetapi ngengat yang tertangkap kebanyakan sudah meletakan telur sebelum tertangkap. Supaya efektif, penangkapan ngengat secara massal diperlukan 23 lampu petromak/ha (Rauf et al., 1992). Penangkapan massal dengan perangkap feromon nyata mengurangi serangan penggerek batang padi putih (Hendarsih dan Rahayu, 1995). Pada populasi rendah, penangkapan massal dengan perangkap feromon juga dapat menekan serangan penggerek batang padi kuning ((Hendarsih dkk., 1996a). E.3 Pengendalian  Secara Kultur Teknik Pengendalian penggerek batang secara kultur teknis merupakan cara yang paling ramah lingkungan dan tidak mengganggu musuh alami sehingga dapat efektif mengendalikan penggerek batang. Kombinasi pengendalian secara kultur teknik dengan mekanik sudah sering dipraktekkan sebelum ditemukan insektisida. E.3.1  Pengaturan waktu tanam Pengaturan waktu tanam adalah satu dari beberapa komponen pengendalian secara kultur teknik. Penelitian selama 12 tahun menunjukkan bahwa pengendalian dengan pengaturan waktu tanam terbukti dapat menekan populasi penggerek batang padi putih (Goot, 1948). Waktu tanam diatur berdasarkan penerbangan ngengat dari larva yang berdiapause. Tebar benih padi di persemaian baru dilakukan jika sudah ada penerbangan ngengat, sehingga telur yang diletakkan oleh generasi pertama penggerek batang padi putih bukan pada tanaman padi tetapi pada rumput atau tanaman lain. Tanaman inang penggerek batang padi putih hanya padi sehingga larva dapat berkembang dan persemaian terhindar dari serangan dan populasi penggerek generasi kedua akan rendah. Percobaan di Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada tahun 1998 menunjukkan tanaman padi yang ditanam paling awal (September) mendapat serangan berat oleh penggerek batang padi kuning di Karanghegar, Kecamatan Pabuaran, bahkan sebagian tanaman puso. Penggerek batang padi kuning dari pertanaman awal ini merupakan sumber infestasi bagi pertanaman berikutnya. Kerusakan tanaman akibat serangan penggerek batang padi kuning lebih berat pada tanaman fase vegetatif dibanding fase generatif (Soejitno, 1986). Di Desa Karanghegar, yang didominasi oleh lahan tadah hujan, padi umumnya ditanam lebih awal, sehingga merupakan “hot spot” atau sumber penggerek batang padi kuning bagi tanaman padi sawah irigasi yang ditanam berikutnya (BALITPA,  1998). Waktu tanam mempengaruhi tingkat serangan penggerek batang padi kuning, baik pada saat populasi ngengat tinggi maupun populasi rendah, seperti terbukti pada penelitian di Karawang, MK 2003. Penelitian waktu tanam juga dilakukan berdasarkan ketersediaan air golongan III dari waduk Jatiluhur. Pada perlakuan tanam ke-1, dua minggu lebih awal dari kebiasaan petani atau bersamaan dengan waktu tanam pada kawasan golongan air II, tingkat serangan penggerek batang tertinggi. Hal ini disebabkan oleh sinkronisasi antara puncak populasi penggerek batang dengan adanya tanaman padi di lapang. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa untuk daerah Karawang pada golongan air III, agar pertanaman padi terhindar dari serangan penggerek batang padi perlu dilakukan monitoring populasi ngengat secara berkesinambungan. Penanaman dilakukan setelah dua minggu adanya penerbangan penggerek batang padi. Tanam yang dilakukan bersamaan dengan puncak penerbangan ngengat menyebabkan tingkat serangan penggerek tinggi (Gambar 2). E.3.2  Rotasi tanaman Rotasi tanaman padi dengan tanaman selain padi dapat mengurangi serangan  penggerek batang. Hal tersebut terutama berlaku untuk penggerek batang padi kuning dan putih, karena kedua-duanya hanya mempunyai tanaman inang utama padi. Rotasi tanaman padi dengan jagung tidak banyak mengurangi serangan jika spesies dominan adalah penggerek batang padi bergaris dan merah jambu karena kedua spesies ini juga bisa hidup pada tanaman jagung. Gambar 2. Pengaruh waktu tanam padi terhadap tingkat serangan penggerek batang padi kuning pada golongan air III. Karawang, MK 2003 (Hendarsih dan Usyati, 2005). E.3.3 Pengaturan pengairan tanaman Ketersediaan air pada sawah tadah hujan ditentukan oleh curah hujan dan pada sawah irigasi ditentukan oleh pengaturan pengairan Selain rotasi tanaman dan pengaturan waktu tanam, pengaturan pengairan juga dapat menekan populasi hama penggerek batang padi, terutama dalam areal yang luas. E.3.4 Pemupukan Pemupukan N dapat berperan ganda, jika pupuk N diberikan dengan takaran terlalu tinggi maka perkembangan penggerek lebih cepat. Namun pemupukan N juga dapat membantu menyembuhkan tanaman yang terserang penggerek. Pemupukan K menyebabkan tanaman lebih kuat atau sehat sehingga lebih tahan terhadap serangan penggerek. Penggunaan pupuk organik sebanyak 2 ton/ha dapat meningkatkan populasi musuh alami sehingga dapat pula menekan serangan penggerek batang (Settle dalam Chen, 2008). Aplikasi silikat (SiO2) pada varietas Ciherang dan Situ Patenggang dapat mengurangi serangan penggerek batang padi kuning dan tanaman lebih sehat (Kartoharjono et al., 2008). E.3.5 Penanaman varietas tahan Penanaman varietas tahan merupakan salah satu komponen pengendalian hama secara terpadu (PHT), mudah diterapkan dan tidak mencemari lingkungan. Sampai saat ini belum ada varietas padi yang tahan terhadap penggerek batang padi kuning karena terbatasnya sumber gen ketahanan. Di antara varietas yang ada, jika terserang hama penggerek sampai batas tertentu masih dapat memberikan hasil. Tanaman yang beranak banyak dapat mentoleransi 20% kerusakan tanaman akibat  sundep dan 10% akibat beluk (Bandong dan Litsinger, 2005). Varietas yang ditanam dengan karakter agronomi yang berbeda tidak memperlihatkan perbedaan toleransi terhadap serangan penggerek batang padi kuning. Galur PTB02 dan varietas Gilirang (padi tipe baru atau semi tipe baru), padi hibrida varietas Maro dan Intani, dan padi inbrida Cilosari, IR72, dan IR62 rentan terhadap penggerek batang padi kuning. Percobaan di Sukamandi dan Karawang, MH 2004/05, menunjukkan galur padi tipe baru  BP226, galur padi hibrida H-9, galur padi inbrida S4663, dan varietas Ciherang juga rentan terhadap penggerek batang padi kuning. Toksin bakteri Bacillus tungiriensis telah lama diproduksi oleh perusahaan multinasional sebagai insektisida untuk mengendalikan hama serangga dari famili Lepidoptera. Melalui penelitian bioteknologi telah dilakukan rekayasa genetik sehingga menghasilkan varietas yang mengandung Bacillus thuringiensis (Bt). Varietas tersebut mengeluarkan endotoksin (racun) yang dapat membunuh serangga lepidoptera, termasuk serangga penggerek yang menggerek atau yang memakan daun tanaman. Tanaman padi aromatik dapat dimasukkan gen Cry1Ab dan menunjukkan ketahanannya terhadap penggerek batang bergaris dan penggerek batang padi kuning (Ghareyazie et al., 1997). Padi Japonica dengan gen Cry1Ab tahan terhadap penggerek batang padi kuning (Wu et al., 1997). Penelitian di laboratorium menunjukkan, galur-galur asal varietas Rojolele yang mengandung Bt Cry1Ab tahan terhadap penggerek batang padi kuning (Satoto dkk., 2003) dan galur-galur tersebut sudah mantap secara molekuler. Pengujian lapang pada tiga lokasi dengan tiga tingkat populasi penggerek batang padi kuning menunjukkan varietas  Cilosari, Ciherang, Rojolele dan beberapa galur padi transgenik memiliki ketahanan yang bervariasi, dari agak tahan sampai sangat tahan (BALITPA, 2004). Meskipun telah diperoleh galur-galur padi transgenik tahan penggerek batang, pelepasan galur untuk tujuan komersial belum dapat dilakukan. Masalah yang menjadi perdebatan dalam hal ini adalah kekhawatiran sebagian masyarakat akan dampak negatif tanaman transgenik terhadap kelimpahan dan keragaman serangga nontarget dan serangga berguna. Pengujian keamanan lingkungan merupakan salah satu syarat dalam mendapatkan izin pelepasan Produk Pertanian Hasil Rekayasa Genetik (PPHRG) dari pemerintah. Hal ini dituangkan dalam Peraturan Pemerintah No.21 tahun 2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik. Pengujian terhadap keamanan lingkungan atas galur-galur padi transgenik tahan penggerek batang tersebut sedang dilakukan dan pelepasannya sebagai varietas unggul masih memerlukan pengujian keamanan pangan.   E.4 Pengendalian  Secara Kimiawi E.4.1 Pemantauan ngengat Pemantauan di lapang merupakan bagian dari PHT. Di Indonesia, pemantauan serangan hama padi untuk wilayah yang luas dilakukan oleh Balai Besar Peramalan Organime Pengganggu Tanaman (BBPOPT). Untuk skala hamparan atau lebih kecil, pemantauan sebaiknya dilakukan untuk mengetahui keberadaan penggerek batang dan menentukan perlu tidaknya aplikasi insektisida. Pemantauan ngengat penggerek batang diperlukan untuk menunjang peringatan dini akan adanya serangan penggerek batang. Pemantauan ngengat dapat menggunakan lampu perangkap atau perangkap feromon. Pemantauan tingkat kerusakan tanaman, terutama pada stadia vegetatif, diperlukan untuk menentukan waktu aplikasi insektisida. Pemantauan ngengat penting artinya untuk mengatasi penggunaan insektisida secara berlebihan yang berdampak buruk terdapat keberadaan populasi musuh alami predator dan parasitoid. Pengalaman Hamilton (2008) di IRRI menunjukkan pemantauan ngengat dalam periode 1993 – 2007 berdampak terhadap penurunan penggunaan insektisida hingga 95,8%. Data pemantauan ngengat dengan lampu perangkap diperlukan untuk menunjang pengendalian penggerek batang. Untuk penggerek batang padi putih, hasil pantauan ngengat dengan lampu perangkap diperlukan untuk menentukan jadwal tanaman. Untuk penggerek batang padi bergaris Chilo suppressalis, ambang kendalinya menurut Kondo dan Tanaka (1995) adalah jika hasil tangkapan sudah mencapai 56 ekor ngengat. Aplikasi insektisida berdasarkan pemantauan pada lahan seluas 250 ha di Sukamandi nyata menekan populasi serangan penggerek batang hingga menjadi kurang dari 3%. Sementara aplikasi insektisida tanpa pemantauan ngengat, serangan hama ini mencapai 13–19% (Kusdiaman dan Kurniawati 2007). Pemantauan dapat dilakukan dalam satu hamparan dengan waktu tanam yang sama. Dalam hal ini peranan penyuluh dan petani sangat menentukan.   E.4.2 Pemantauan  tingkat kerusakan tanaman Larva penggerek batang hanya beberapa jam berada di luar  tanaman, yaitu  larva instar  satu yang baru menetas. Pengendalian dengan insektisida hanya efektif sebelum larva masuk ke dalam tanaman. Pada saat tanaman dalam fase vegetatif, insektisida yang efektif menekan populasi larva adalah dari jenis butiran yang bersifat sistemik, tetapi kurang efektif pada saat tanaman telah memasuki stadia generatif (Reissig et al., 1985). Kondisi air pengairan tanaman turut mempengaruhi efektivitas insektisida butiran dan akan lebih efektif jika air tersedia dalam yang jumlah yang cukup. Penelitian di Batang dan di Karawang, Jawa Barat, menunjukkan bahwa insektisida cair dengan bahan aktif fipronil, dimehipo, thiacloprid, dan bensultaf cukup efektif menekan serangan penggerek batang padi  kuning . Aplikasi insektisida cair dapat menyentuh telur ngengat dan larva, tetapi mempengaruhi musuh alami pada kanopi tanaman padi. Aplikasi insektisida butiran mempengaruhi predator dan mikroorganisme lain yang hidup di dalam air. Oleh karena itu, aplikasi insektisida perlu mempertimbangkan banyak hal, seperti populasi ngengat, stadia tanaman, dan tingkat serangan. Gejala sundep dan beluk baru muncul 1–2 minggu setelah  larva  masuk ke dalam batang padi, sehingga mempersulit pengendalian larva. Aplikasi insektisida pada puncak tangkapan ngengat dan puncak peneluran akan lebih efektif. Oleh karena itu, ambang ekonomi berdasarkan kelompok telur akan lebih realistis. Untuk penggerek batang padi kuning, insektisida dapat diaplikasikan jika terdapat dua kelompok telur/20 rumpun tanaman padi sebelum inisiasi malai atau satu kelompok pada stadia selanjutnya (Reissig et al., 1985). Jika telah tercapai ambang ekonomi, kelompok telur diambil dan dipelihara, dan jika larva lebih banyak yang menetas dibandingkan dengan parasitoid yang keluar maka insektisida dapat segera diaplikasikan. Jumlah tangkapan ngengat dari lampu perangkap dapat digunakan sebagai dasar untuk memulai pemantauan kelompok telur Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan (2002), menetapkan ambang kendali berdasarkan kerusakan tanaman pada stadia vegetatif sebesar 6% dan pada stadia generatif 10%, sementara Reissig et al. (1985) menetapkan 20% pada stadia vegetatif dan 10% pada stadia generatif. Banyak teknologi yang diajurkan untuk mengendalikan penggerek batang, tetapi insektisida masih menjadi pilihan bagi banyak petani hingga saat ini. Pada tahun 1950an, pengendalian penggerek batang lebih mengutamakan cara kultur teknik dan mekanik, di samping aplikasi insektisida. Pada tahun 1984 pengadaan insektisida mencapai 7.026,22 ton/kl; 59% di antaranya terdiri atas berbagai bahan aktif dari  golongan  organofosfat dan sisanya senyawa karbamat. Pada tahun yang sama terdapat 55 nama dagang insektisida yang terdaftar untuk pengendalian penggerek batang yang terdiri dari golongan organofosfat dan karbamat (Soejitno, 1990). Pengembangan aplikasi insektisida golongan organofosfat untuk mengendalikan penggerek batang diduga menyebabkan resurjensi pada wereng coklat. Oleh karena itu, keluar INPRES No 3 tahun 1986 yang melarang 56 insektisida organofosfat untuk tanaman padi, dan hanya satu yang terdaftar untuk penggerek batang, yaitu karbofuran. Saat ini terdapat 49 nama dagang insektisida yang terdaftar dan terdiri atas  delapan bahan aktif. Empat bahan aktif bersifat sistemik, yaitu karbofuran, tiokloprid, fipronil, dan karbosulfan sedangkan yang bersifat racun kontak dan lambung adalah dimehipo, bensultaf, mitac, dan imidakloprid (Anonim, 2006). Petani mengaplikasikan beragam insektisida (nama dagang) untuk mengendalikan penggerek batang, dengan alasan untuk menggilir insektisida, tetapi mereka sebenarnya mengaplikasikan insektisida dengan bahan aktif yang sama secara berulang. Hal ini dapat menimbulkan ketahanan penggerek batang terhadap insektisida tertentu sehingga tidak efektif. Insektisida butiran yang dianjurkan untuk mengendalikan hama penggerek batang antara lain adalah karbofuran. Hasil kajian pada tahun 1993 di Plumbon, Cirebon, dan Kandanghaur, Indramayu, menunjukkan penggerek batang padi putih resisten terhadap insektisida karbofuran (Soejitno et al., 1994). E.5  Alternatif Pengendalian Pengendalian penggerek batang dengan teknologi feromon seks dinilai lebih baik dikaitkan dengan upaya pelestarian lingkungan. Dengan teknologi feromon seks, komunikasi antara ngengat betina dengan ngengat jantan akan terganggu, sehingga mengganggu perkawinannya. Feromon seks adalah senyawa kimia yang dikeluarkan oleh ngengat betina yang masih virgin. Senyawa ini memiliki sifat yang merangsang serangga jantan menemukan serangga betina untuk melangsungkan perkawinan. Senyawa yang dikeluarkan oleh ngengat betina ini dimanfaatkan dalam pembuatan senyawa sintetik untuk mengendalikan hama penggerek batang. Bagi ngengat jantan, daya tarik senyawa sintetik ini sama dengan senyawa alami. Daya tarik senyawa tersebut digunakan untuk memantau populasi penggerek batang atau mengendalikannya dengan teknik mating disruption, yaitu teknik mengacaukan komunikasi antara ngengat betina dengan ngengat jantan sehingga tidak terjadi perkawinan. Pengendalian selanjutnya adalah dengan teknik mass trapping atau penangkapan ngengat jantan secara massal, sehingga menurunkan intensitas komunikasi antara ngengat jantan dengan ngengat betina. E.5.1 Pemantauan dengan perangkap feromon Ada berbagai bentuk perangkap untuk menempatkan dispenser yang dilengkapi feromon seks. Berdasarkan serangkaian pengujian diketahui bahwa perangkap air dengan dispenser feromon lebih cocok digunakan untuk menangkap penggerek batang padi putih (Beevor et al., 1994). Perangkap feromon dapat mendeteksi populasi ngengat yang rendah, sehingga dapat dipakai untuk peringatan dini. Pengamatan terhadap ngengat pada perangkap feromon dapat dilakukan oleh petani dengan selang waktu seminggu sekali (Hendarsih dkk., 1999). Kelemahan perangkap lampu adalah menjadi daya tarik bagi serangga lain, termasuk musuh alami. Tingkat serangan penggerek pada tanaman yang terletak di sekitar lampu perangkap lebih tinggi, karena ngengat betina yang bertelur tertarik pada cahaya lampu. Kelebihan lampu perangkap adalah efektif memantau ngengat migrasi. Senyawa aldehida yang paling efektif menarik ngengat jantan penggerek batang padi kuning adalah campuran senyawa Z9-16: Ald dan Z11-16:Ald dengan perbandingan 3:1 (Hendarsih dkk., 2000). Hasil tangkapan pada perangkap feromon dengan campuran senyawa tersebut sejalan dengan hasil tangkapan perangkap lampu (Hendarsih dan Usyati 2005). Namun tidak terdapat hubungan antara hasil tangkapan dengan keberadaan telur dan tingkat serangan penggerek batang di Bekasi. Hal ini disebabkan karena spesies penggerek di lokasi tidak hanya didominasi oleh satu jenis spesies. Selain itu, penanaman padi di Bekasi tidak serempak sehingga ngengat dari lokasi lain akan berdatangan dan bertelur (Hendarsih dkk., 1999). Pada generasi yang seragam, hasil tangkapan perangkap feromon dapat dipakai untuk menentukan ambang kendali penggerek batang padi bergaris. Kondo dan Tanaka (1995) mendapatkan persamaan linier antara hasil tangkapan ngengat dengan tingkat serangan hama penggerek. Hasil tangkapan sebanyak 56 ekor ngengat merupakan ambang kendali. Untuk penggerek batang padi putih, ambang kendali adalah jika hasil tangkapan 200 ngengat/minggu dengan serangan telah mencapai 20% dua minggu kemudian (Hendarsih dan Wityanara, 1994). E.5.2 Matting  disruption Penelitian di Indramayu teknik mating disruption cukup berhasil mengurangi tingkat serangan penggerek batang padi putih (Hendarsih dan Rahayu, 1995). Pengujian mating diruption pada penggerek batang padi kuning telah dilakukan di Bekasi pada MK 1995. Aplikasi feromon seks sebanyak 40 g/ha efektif mengganggu komunikasi ngengat betina dan ngengat jantan sebesar, tetapi tingkat serangan pada petak tanpa feromon seks rata-rata 73,4% sedangkan pada perlakuan mating disruption 57,1% (Hendarsih dkk., 1996b). Di Indonesia,  teknik mating disruption pada  penggerek batang padi kuning juga telah dilakukan di Yogyakarta pada populasi yang rendah dan ternyata berhasil (Mangoendihardjo et al., 1995). Penggerek batang padi kuning mampu beradaptasi dengan lingkungan air dalam sehingga menyebabkan kehilangan hasil padi sebesar 17–20% per tahun di Bangladesh dan Thailand (Islam, 1990 dalam CABI, 2001). Pada lingkungan air dalam tidak mudah untuk mengaplikasikan insektisida. Untuk mengendalikan penggerek batang padi kuning, Pemerintah Bangladesh saat ini berupaya mengembangkan teknik mating disruption melalui kerja sama dengan pihak swasta . Di Spanyol, penggerek batang padi bergaris dikendalikan dengan teknik mating disruption untuk menghindari penggunaan insektisida (Casagrande, 1993). Hal ini terkait dengan peraturan yang menekankan bahwa beras yang dipasarkan di Eropa harus bebas dari residu insektisida. E.5.3 Mass trapping Penangkapan ngengat secara massal dengan memasang 9–16 perangkap feromon dengan dispenser yeng mengandung Z11-18Ald per ha efektif mengendalikan penggerek batang padi putih di Indramayu (Tabel 1) (Hendarsih dan Usyati, 1997)  dan penggerek batang padi kuning di Sukamandi (Hendarsih dan Rahayu, 1995). Berdasarkan pengalaman melalui penelitian di berbagai lokasi, pengendalian hama penggerek batang dengan seks feromon dianjurkan pada areal yang luas (25–50 ha) yang serempak tanam. Tabel  1. Pengaruh kerapatan perangkap terhadap serangan penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata Wlk), Indramayu, MH 1996/1997 (Hendarsih dan Usyati, 1997).   Perlakuan Rerata serangan penggerek batang (%)** 2 MSP 4 MSP 6 MSP 8 MSP Panen 9 trap/ha 1,39 a 0,60 a 4,02 a 1,13 b 2,15 b 16 trap/ha 1,42 a 0,84 a 3,91 a 1,49 b 1,90 b 25 trap/ha 1,07 a 0,66 a 3,91 a 1,06 b 1,65 b 36 trap/ha 1,69 a 2,71 a 4,14 a 0,99 b 1,73 b Kontrol 2,50 a 1,65 a 4,57 a 6,02 a 3,41 a *) Rerata yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5% MSP = minggu setelah aplikasi   ( Sumber : Hendarsih Suharto dan  N. Usyati )                        
Image

Friday, 03 May 2013
Seminar Nasional 2013. Silahkan Download Leaflet Seminar Nasional 2013  
Image

Thursday, 02 May 2013
Temu Teknologi Padi Nasional (TTPN) 2013. Silahkan Download Leaflet TTPN 2013
Image

Monday, 18 March 2013
Cilacap Sukses Panen Padi 10 Ton/ Hektar.   Wakil Menteri Pertanian, Dr. Rusman Heriawan mengapresiasi kinerja para petani di Kabupaten Cilacap, khususnya di   Desa Bojong, Kecamatan Kawunganten terkait dengan keberhasilan program Gerakan Tanam Serentak 1000 Hektar di Kawasan Ini. Hari ini, saya sangat berbahagia, paling tidak bisa ikut memanen padi bersama Gubernur dan Bupati. Harus jujur kita mengatakan bahwa ini salah satu program penanaman padi yang sangat berhasil, katanya.   Sebagaimana diketahui, pada program Tanam Serentak ini, petani di Cilacap mampu memanen padi inpari hingga 10 – 11 ton per hektar. Hasil ini lebih tinggi dari rata – rata panen padi nasional yang hanya sebanya 5 ton/ hektar.  Apalagi kalai dilihat Kabupaten Cilacap memiliki lahan paling luas di Jawa Tengah yakni sekitar 63.000 hektar lebih. Jadi, kita sayang sekali dengan Cilacap karena turut berkontribusi dalam produksi beras, katanya.   Terkait dengan itu, pemerintah berupaya untuk menjadikan Cilacap sebagai sebagai kawasan percontohan dalam hal manajemen pertanian. Ini (Desa Bojong, red.) bersama Kabupaten Grobogan (Jateng) akan dijadikan percontohan manajemen karena modalnya sudah ada, gerakan tanam serentak, panen serentak. Nanti akan dikemas dalam manajemen yang sama, farming. Jadi, nantinya jika perlu bibit bisa bersama-sama, panen bersama-sama sehingga dalam penanganan persoalan seperti hama dapat dilakukan bersama-sama, katanya.   Wamentan menjelaskan hingga saat ini Jawa Tengah memiliki kontribusi luar biasa dalam memenuhi target-target produksi pertanian secara nasional. Bahkan produksi padinya paling tinggi karena hampir mendekati 9 persen, padahal nasional hanya 5 persen.   Ini konsisten dilakukan dalam lima tahun terakhir. Saya atas nama Kementerian Pertanian menyampaikan terima kasih kepada Jawa Tengah, katanya.   Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengatakan bahwa kawasan Cilacap sangat cocok ditanami padi jenis inpari sehingga hasil padinya maksimal dimana dari hasil ubinan, dalam satu hektar mampu menghasilkan 10 – 11 ton padi. Kepada para petani di Cilacap mari kita manfaatkan lahan ini dengan sebaik – baiknya dengan menanam padi jenis inpari untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, katanya.   Sumber Berita : Sekretariat Jenderal
Inpari 29 Rendaman DESKRIPSI INPARI 29 RENDAMAN Umur Tanaman ±110 hari setelah semai Tinggi Tanaman ±103 cm Kerontokan Sedang Kerebahan Sedang Tekstur Nasi Pulen Kadar Amilosa ±21,1 % Rata-rata Hasil 6,5 t/ha Potensi Hasil 9,5 t/ha Ketahanan terhadap   Hama Agak rentan terhadap wereng batang cokelat biotipe 1. Rentan terhadap biotipe 2 dan 3. Penyakit Agak rentan terhadap hawar daun bakteri patotipe III. Rentan terhadap patotipe IV dan VIII. Anjuran Tanam Cocok untuk ditanam disawah irigasi dataran rendah sampai ketinggian 400 m dpl terutama didaerah rawan banjir dengan rendaman keseluruhan fase vegetative selama lebih dari 14 hari. Pemulia Yudhistira Nugraha, Supartopo, dan Suwarno Dilepas tahun 2012  
Inpari 28 Kerinci DESKRIPSI INPARI 28 Kerinci Umur Tanaman ±120 hari setelah sebar Tinggi Tanaman ±97 cm Kerontokan Sedang Kerebahan Tahan Tekstur Nasi Pulen Kadar Amilosa ±23,7 % Rata-rata Hasil 6,6 t/ha GKG Potensi Hasil 9,5 t/ha GKG Ketahanan terhadap   Hama Agak rentan terhadap wereng batang cokelat biotipe 1, 2, dan 3. Penyakit Tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III. Agak rentan terhadap patotipe IV dan VIII. Agak tahan terhadap blas ras 033 da 073. Rentan terhadap ras  133 dan 173. Rentan terhadap tungro. Anjuran Tanam Cocok untuk ditanam di ekosistem sawah sampai ketinggian 1100 m dpl. Pemulia Aan A. Daradjat, Nafisah, Cucu Gunarsih, dan Trias Sitaresmi. Dilepas tahun 2012  
Inpari 26 DESKRIPSI INPARI 26 Umur Tanaman ±124 hari setelah sebar Tinggi Tanaman ±80 cm Kerontokan Sedang Kerebahan Tahan Tekstur Nasi Pulen Kadar Amilosa ±20,9 % Rata-rata Hasil 5,7 t/ha GKG Potensi Hasil 7,9 t/ha GKG Ketahanan terhadap   Hama Agak rentan terhadap wereng batang cokelat biotipe 1, 2, dan 3. Penyakit Tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III.  Agak rentan terhadap patotipe IV dan VIII. Tahan terhadap blas ras 033. Agak tahan trhadap ras 073 dan 173. Rentan terhadap ras 133. Rentan terhadap tungro. Anjuran Tanam Cocok untuk ditanam di ekosistem sawah dataran tinggi sampai ketinggian 900 m dpl. Pemulia IRRI, Aan A. Daradjat, Nafisah, Cucu Gunarsih, dan Trias Sitaresmi. Dilepas tahun 2012  
PENGENDALIAN PENYAKIT TUNGRO Padi merupakan tanaman pangan pokok bagi penduduk Indonesia. Tiap tahunnya produksi padi perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang terus bertambah. Sejarah pertanian nasional telah pernah mencatat terjadinya peningkatan produksi padi yang sangat tinggi hingga 276%, yaitu dari 13,6 juta ton pada 1966 menjadi 51,2 juta ton pada 1996 (Khush dan Virk, 2002). Tingginya produksi, yang diperoleh petani setelah mengadopsi teknologi revolusi hijau, ternyata bermata ganda. Pasokan beras yang memadai dan datang tepat pada waktunya merupakan salah satu sisi positifnya, karena banyak jiwa manusia telah terhindar dari bahaya kelaparan dan kematian. Di sisi yang lain ditemukan akibat yang merusak yang waktu itu (1970-an) belum sepenuhnya diperhitungkan. Pertanaman varietas-varietas padi unggul generasi pertama, seperti PB5, PB8 dan beberapa nomor sesudahnya pada hakekatnya telah mengubah ekosistem pertanian yang ada. Suatu hal yang pada periode sebelumnya jarang terjadi, karena varietas lokal yang banyak ditanam petani diyakini mampu menjaga keseimbangan genetik pada agroekosistem setempat. Bertahun-tahun pascaintroduksi varietas unggul dan penerapan yang intensif teknik bercocok-tanam modern menyebab­kan terjadinya perubahan mendasar pada iklim mikro di bawah kanopi tanaman padi (Azzam dan Chancellor, 2000; Hibino, 1996). Perubahan itu terjadi di suatu hamparan yang sangat luas bagai ”petri dish” raksasa yang memberikan sumber kehidupan yang berlimpah untuk berbagai jenis organisme dan mikroba; tak terkecuali serangga hama yang juga merupakan vektor penyakit virus padi, antara lain wereng hijau (Nephotettix virescens Distant) dan wereng batang coklat (Nilaparvata lugens Stal). Sejak saat itu penyakit virus padi telah muncul, berkembang berlipat ganda dan datang silih berganti satu setelah yang lain. Tiga dari 15 jenis penyakit virus padi dunia (Hibino, 1996) dilaporkan menyerang tanaman dan merugikan hasil panen padi di berbagai daerah di Indonesia, yaitu penyakit tungro (Ou, 1965; Rivera et al., 1967), penyakit kerdil rumput (Tantera et al., 1973) dan penyakit kerdil hampa (Hibino et al., 1977; Palmer et al., 1978). Hibino (1996) juga melaporkan penyebaran dan epidemi tiga penyakit tersebut di negara-negara Asia lainnya, sehingga pada tahun 1970-an dan 1980-an boleh dikatakan telah terjadi pandemi. Selain virus-virus padi, wereng hijau diketahui dapat pula menularkan fitoplasma penyebab penyakit kerdil kuning (rice yellow dwarf disease) (Satomi et al., 1978) dan penyakit daun jingga (rice orange leaf disease) (Hibino et al., 1980). Akan tetapi sejak penerbitan buku padi 1990 belum ada tambahan informasi yang signifikan dan nilai ekonomisnya dapat diabaikan, maka bagi yang membutuhkan informasinya dapat merujuk pada terbitan itu. PENYAKIT TUNGRO Etiologi Tungro merupakan penyakit padi yang kompleks, disebabkan oleh dua jenis virus yang secara taksonomis berbeda satu dengan lainnya, yaitu virus batang tungro padi (rice tungro bacilliform virus, RTBV) dan virus bulat tungro padi (rice tungro spherical virus, RTSV) (Hibino et al., 1991; Jones et al. 1991). Kedua virus ditularkan secara semi persisten oleh beberapa spesies wereng hijau dan wereng daun lainnya (Ling, 1969; Hibino et al., 1978). RTBV berbentuk batang dan berukuran (150-350) x 35 nanometer (nm) (Hibino et al., 1978; Hibino et al., 1991). Tiap partikel virus mempunyai asam deoksiribonukleat berutas ganda (double-stranded deoxyribonucleic acid, ds-DNA) yang melingkar dan dengan besaran genom kurang lebih 8,5 kpb (kilopasangbasa). Karena cara replikasinya dengan transkripsi terbalik, RTBV merupakan pararetrovirus. Pernah ditetapkan sebagai anggota dari genus badnavirus (Hull, 1996), tetapi RTBV kini digolongkan dalam kelompok sementara “RTBV-like group” di bawah famili Caulimoviridae (Mayo dan Pringle, 1998). Laporan hasil penelitian jaringan tanaman padi yang terinfeksi virus-virus tungro dengan menggunakan elektron mikroskop (Sta Cruz et al., 1993) menunjukkan bahwa partikel RTBV dapat ditemukan di dalam pembuluh tapis (floem) maupun dalam pembuluh kayu (silem). RTSV berbentuk bulat dengan garis tengah 30 nm (Hibino et al., 1991; Jones et al., 1991). Paket genetik virus ini terdiri atas asam ribonukleat berutas tunggal (single-stranded ribonucleic acid, ss-RNA) yang mengandung poly-A dan berukuran 12 kb (kilobasa). Menurut Mayo dan Pringle (1998), RTSV mempunyai genus Waikavirus dan di bawah famili Sequiviridae; tatanamanya ialah rice tungro spherical waikavirus. Berdasarkan kesamaan fiturnya dengan “animal picornavirus”, maka virus ini pun dikenal sebagai pikornavirus tanaman. Berbeda dengan RTBV, partikel RTSV ditemukan terbatas di dalam pembuluh tapis (floem) saja (Sta Cruz et al., 1993). RTBV dan RTSV tidak ditularkan melalui telur serangga vektornya, dan juga tidak dapat menular melalui biji, tanah, air dan secara mekanis (misal pergesekan antara bagian tanaman yang sakit dengan yang sehat) (Ling, 1969). RTBV dan RTSV mempunyai beberapa vektor dari spesies wereng hijau Nephotettix cinticeps, N. malayanus, N. nigropictus, N. virescens, dan N. parvus serta wereng loreng Recilia dorsalis; dibandingkan dengan spesies lainnya N. virescens Distant merupakan vektor yang paling efisien (Ling, 1972). N. virescens bertelur dalam kelompok hingga berjumlah 44 dan diletakkan di dalam jaringan pelepah daun tanaman padi (Cheng dan  Pathak, 1971). Daur hidup wereng hijau dari fase bertelur, menetas, menjadi nimfa (pradewasa) dengan lima stadia, hingga dewasa membutuhkan waktu rata-rata 25 hari, sehingga mungkin ditemukan 11 generasi di daerah yang ditanami padi sepanjang tahun. Nimfa N. virescens dilaporkan tidak menularkan virus-virus tungro setelah ganti kulit, tetapi kemampuannya itu akan datang kembali setelah mencucuk dan mengisap cairan tanaman sakit (makan perolehan/akuisisi virus). Waktu yang dibutuhkan serangga ini untuk menularkannya sangat singkat di mana waktu minimum untuk makan akuisisi dan makan inokulasi (penularan virus pada tanaman sehat), masing-masing lima dan tujuh menit. Walaupun dapat bertahan dalam tubuh vektor dua hingga enam hari (masa retensi), virus-virus tungro tidak terbukti masuk dan mengikuti sirkulasi darah vektor; hubungan virus-vektor demikian disebut nonsirkulatif. Para peneliti menganggap bahwa virus-virus yang tergolong nonpersisten atau semipersisten menghuni atau menempel pada bagian alat mulut (cucuk) serangga vektor atau ”stylet-born” (Hibino, 1995). Hasil penelitian terkini pada caulimovirus, anggota dari famili Caulimoviridae, menunjukkan bahwa antara protein virus P2 dan reseptor dari sel vektor berinteraksi di bagian ujung dari cucuknya (Uzest et al., 2007). Lebih lanjut disebutkan bahwa situs pengikatan protein itu sangat spesifik dan tidak ditemukan pada serangga nonvektor. Di masa yang akan datang penelitian tentang hubungan virus-vektor ini diharapkan dapat membuka tabir ilmiah dan memfasilitasi perakitan teknik pengendalian tungro yang lebih efektif.   Interaksi Virus-Vektor-Inang Di dalam patosistem tungro, RTBV dan RTSV, N. virescens dan tanaman padi berinteraksi secara spesifik dan unik (Hibino, 1995). Tanaman padi merupakan inang utama virus-virus tungro dan N. virescens. Varietas padi yang rentan dapat terinfeksi ganda (RTBV + RTSV), tetapi pada varietas yang agak tahan ditemukan juga tanaman yang terinfeksi tunggal, baik oleh RTBV ataupun RTSV. Hal ini menunjukkan bahwa replikasi kedua virus tidak saling bergantung antara satu dengan lainnya. RTSV dapat ditularkan langsung oleh wereng hijau dari tanaman yang terinfeksi tunggal (RTSV) atau dari yang terinfeksi ganda. Sedangkan penularan RTBV dilaporkan mempunyai pola yang berbeda, karena ternyata RTBV tidak dapat langsung ditularkan oleh wereng hijau dari tanaman yang terinfeksi RTBV saja. Setelah makan akuisisi pada tanaman terinfeksi RTSV atau pada tanaman terinfeksi ganda, wereng hijau akan dapat menularkan RTBV. Dalam hal ini RTSV dianggap membantu penularan oleh vektor untuk RTBV. Kekecualian dalam sistem penularan dapat dibaca di bawah subjudul teknik agroinokulasi. Di dalam tanaman yang terinfeksi tunggal (RTSV) maupun yang terinfeksi ganda telah diproduksi “helper factor” atau “helper protein” yang mungkin disandi oleh suatu gen dalam genom RTSV, dan protein ini tidak ditemukan pada tanaman yang terinfeksi RTBV saja (Hibino et al., 1978). Pengetahuan ini penting untuk diketahui, karena dapat dijadikan sebagai dasar dalam merakit strategi pengendalian tungro, di antaranya teknik eliminasi sumber inokulum RTSV. Pada prinsipnya RTSV membantu penyebaran tungro, sedangkan RTBV berperan dalam menginduksi gejala tungro. Teknik Agroinokulasi Dasgupta et al. (1991) dan Sta. Cruz et al. (1999) melaporkan bahwa cara agroinokulasi dapat digunakan dalam penularan RTBV secara independen. Caranya meliputi pengklonan genom RTBV, perekatan klon tersebut ke dalam plasmid Ti yang diperoleh dari bakteri Agrobacterium tumifaciens strain C58 yang telah dihapus fungsi onkogeniknya, pengintegrasian plasmid ke dalam genom A. tumifaciens dan perbanyakan biakan bakteri murni yang mengandung genom RTBV yang dapat menular saja. Untuk melakukan agroinokulasi, biakan infektif diperbanyak di dalam media cair (Luria Broth), setelah tumbuh sesuai yang dikehendaki biakan diendapkan dan dilarutkan dalam air murni steril. Sediaan sudah siap disuntikkan (diinokulasikan) ke pangkal batang tanaman padi muda. Tanaman uji akan menghasilkan gejala khas tungro dan dapat dideteksi dengan cara serologi (ELISA) atau cara molekuler (PCR). Sebagai catatan penting, pascaproses agroinokulasi telah terjadi suatu pembentukan partikel virus, dari bahan yang semula hanya nukleotida yang terintegrasi pada plasmid. Secara teknis cara ini dapat digunakan untuk uji ketahanan varietas padi. Akan tetapi, selama ini penularan dengan cara agroinokulasi pada beberapa varietas yang toleran belum menghasilkan varietas yang terhindar dari infeksi RTBV atau semua varietas uji tergolong tidak tahan. Kontroversi ini mungkin perlu dicermati, karena tujuan inokulasi ialah untuk memperoleh hasil infeksi RTBV yang setara dengan tingkat infeksi alamiah. Selain itu cara agroinokulasi hanya dapat dilakukan dengan pengawasan ketat, yaitu dilakukan di rumah kaca yang mempunyai fasilitas khusus (containment laboratory). Hal ini perlu ditekankan, karena bakteri A. tumifaciens yang mengandung genom RTBV yang merupakan hasil rekayasa genetika dianggap sangat berbahaya kalau sampai terlepas di alam bebas. Gejala Penyakit Tungro Tanaman padi yang terinfeksi virus-virus tungro umumnya tampak kerdil dan menunjukkan adanya diskolorasi daun yang bergradasi dari kuning hingga jingga (Ou, 1972). Sebenarnya tingkat keparahan gejala penyakit ini sangat bervariasi bergantung pada umur tanaman, varietas padi dan strain atau komposisi virus yang menginfeksi. Makin rentan varietas padi dan makin muda umur tanaman terinfeksi, makin parah gejala yang ditimbulkan, demikian pula sebaliknya. Interaksi kedua virus tungro dapat menyebabkan gejala penyakit yang parah. Sebaliknya pada kasus infeksi tunggal gejala yang ditimbulkan sedang-sedang saja (oleh RTBV) atau bahkan tidak jelas, karena tanaman tampak sehat, walaupun agak kerdil (oleh RTSV) (Hibino, 1983). Lebih lanjut Rivera and Ou (1965) dan Ling (1969) menguraikan bahwa gejala penyakit tungro umumnya muncul kurang lebih seminggu setelah inokulasi, dimulai dari adanya diskolorasi kekuningan pada ujung daun muda, kemudian diikuti klorosis di antara vena daun. Tanaman yang sakit parah mempunyai anakan sedikit, pertumbuhan akar terhambat, sangat kerdil, dan menghasilkan panikel yang kecil dengan bulir-bulir gabah kosong. Gejala penyakit akan persisten pada varietas yang rentan, sedangkan pada varietas yang agak tahan gejala tidak berkembang pada daun muda dan ada kecenderungan sehat kembali. Serangan tungro di suatu hamparan sawah pada umumnya terlihat berkelompok, suatu indikasi bahwa waktu infeksi berbeda-beda. Sebaran tanaman sakit yang mengelompok dapat menyebabkan hamparan tanaman padi terlihat seperti bergelombang karena adanya perbedaan tinggi tanaman antara tanaman sehat dan sakit. Pada varietas yang agak tahan, setelah petani memberikan tambahan pupuk nitrogen, pertanaman padi yang semula sakit tampak seperti sembuh, menghijau kembali dan memberikan harapan untuk memperoleh hasil panen, walaupun sebenarnya virus-virus tungro masih tetap ada dan berkembang di dalamnya. Yang sering terjadi pada varietas yang rentan, pertanaman tampak merana sampai waktu panen atau sampai ada usaha sanitasi untuk menghilangkan sumber penyakit. Pada kasus yang lain apabila pertanaman padi terhindar dari infeksi sampai umur dua bulan, maka virus-virus tungro tidak akan mengakibatkan kerusakan tanaman dan kehilangan hasil panen (Ling, 1972;  Pathak, 1972). Sejarah dan Penyebaran Penyakit Penyakit mentek yang telah lama diketahui menyerang tanaman padi di Indonesia merupakan penyakit yang sifat-sifatnya mendekati atau hampir sama dengan tungro (Ou, 1965). Outbreak yang terjadi pada tahun-tahun 1850-an dan beberapa kali kejadian  serangan sebelum 1960-an (Van der Vecht, 1953) menunjukkan bahwa penyakit ini telah lama berkoevolusi dengan tanaman inangnya. Hal ini didukung oleh data tentang virus tungro dan tanaman inangnya. Virus-virus tungro memiliki banyak strain dan di Indonesia ditemukan lebih spesifik dan jumlahnya agak lebih banyak dibandingkan dengan yang terdapat di negara-negara Asia Tenggara lainnya (Azzam et al., 2000a dan 2000b). Di samping itu suatu laporan menyebutkan bahwa varietas-varietas padi lokal tahan tungro berasal dari Indonesia, seperti Utri Merah, Utri Rajapan, dan Balimau Putih (Cabunagan and Koganezawa, 1993). Daerah-daerah pusat kejadian penyakit dan pusat perkembangan spesies tanaman biasanya merupakan daerah yang kaya dengan sumber daya genetika (Leppik, 1970), misalnya sumber ketahanan terhadap tungro. Selain itu, di Indonesia tungro dengan nama lain/daerah telah lebih dahulu populer di daerah langganan (endemik) tungro, seperti penyakit habang (Kalimantan), cellapance (Sulawesi Selatan), atau kebebeng (Bali). Penyebarannya mula-mula terbatas di daerah tertentu seperti di Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Utara. Pada tahun 1980, terjadi ledakan penyakit tungro di Bali, selanjutnya meluas ke Jawa Timur, Yogyakarta, dan Jawa Tengah. Penyakit tungro juga terdapat di beberapa negara tetangga seperti Filipina, Malaysia, Muangthai, dan Vietnam; dan ditemukan juga di Cina, India, Bangladesh, Srilanka, dan Nepal. Sedangkan di Jepang terdapat penyakit virus padi yang disebut penyakit "Waika" yang ditemukan tahun 1978 di daerah Kyushu, wilayah Jepang bagian Selatan. Penyakit ini disebabkan oleh virus waika yang sekerabat dengan RTSV dan juga ditularkan oleh wereng hijau (Saito, 1979). Teknik Deteksi dan Diagnosis Penyakit Di lapang/sawah, tanaman padi yang terinfeksi virus-virus tungro seringkali memperlihatkan gejala penyakit tungro yang jelas. Berdasarkan pengetahuan ini, hasil pengamatan gejala penyakit dan juga ditambah dengan data populasi vektor (wereng hijau) pada prinsipnya dapat digunakan untuk menetapkan (diagnosis) bahwa suatu tanaman terserang virus-virus tungro. Mengingat unsur kemudahannya, metode ini banyak digunakan, meskipun bersifat sementara. Untuk lebih menguatkan lagi dalam penetapan penyakit, biasanya dilakukan uji penularan atau bioassay, baik dengan menggunakan wereng hijau yang diambil dari tempat kejadian serangan maupun yang sengaja dipelihara untuk keperluan penularan. Beberapa kelemahan pada sistem ini, seperti jika ditemukan adanya gejala penyakit yang tidak spesifik, karena ada penyebab lain (seperti penyakit kerdil rumput strain 2 (Hibino, 1996) yang menghasilkan gejala seperti tungro, dan waktu (dua minggu) yang dibutuhkan bioassay cukup lama. Virus-virus tungro dapat juga dideteksi dengan teknik berbasis pada kelainan fisiologis penyakit tanaman (yodium), serologi (lateks dan enzyme-linked immunosorbent assay, ELISA), molekuler (berbasis polymerase chain reaction, PCR) dan mikroskop elektron (Bajet et al., 1985; Hibino, 1996; Muhsin, 1999a dan 1999b; Takahashi et al., 1993). Deteksi dengan yodium adalah warna hitam untuk positif dan warna coklat muda untuk negatif. Teknik ini termasuk sederhana dan kurang spesifik. Teknik serologi seperti uji lateks, parafilm mini ELISA, RIPA, dan ELISA bekerja berdasarkan pada afinitas antibodi yang spesifik hanya mengikat virus-virus tungro, sehingga hasil uji ini dapat membedakan tanaman yang terinfeksi RTSV dan RTBV. Teknik serologi ELISA tergolong yang paling banyak digunakan untuk deteksi virus baik untuk skrining varietas, maupun untuk studi epidemiologi, karena sensitif, relatif cepat (hitungan jam), mudah dilakukan, bahkan untuk contoh tanaman dalam jumlah banyak. Tingkat sensitivitasnya cukup tinggi, yaitu dapat mendeteksi virus pada tingkat pengenceran ekstrak daun sampai 1.000 kali. Selanjutnya tentang teknik PCR yang mempunyai cara kerja meng­amplifikasi beberapa saja potongan DNA/RNA target, kemudian mendeteksi produk PCR-nya dengan meng­elektroforesis pada gel agarose dan pengecatan etidium bromida. Dengan teknik ini konsentrasi virus yang kecil sekalipun dapat dideteksi dan tingkat sensitivitasnya 1.000-10.000 kali lebih teliti dari hasil ELISA. Mungkin PCR tergolong teknik yang peka dan mahal. Teknik lain yang sangat tergantung pada alat mikroskop elektron, ialah metode “leaf dip” ataupun metode gabungan dengan serologi (ISEM) dapat memberikan gambaran yang lebih jelas, karena kita dapat melihat langsung partikel virusnya. Epidemiologi Perkembangan penularan RTBV dan RTSV pada tanaman padi di lapang dilaporkan oleh Hasanuddin dkk. (1999). Tanaman padi terinfeksi RTSV terdeteksi lebih awal dari RTBV. Tanaman sakit ini terdeteksi sejak tanaman berumur dua minggu setelah tanam (MST). Tingkat infeksi pada saat awal hanya 10%, selanjutnya meningkat terus sampai 80% saat tanaman umur 6 MST. Tanaman terinfeksi RTBV baru terdeteksi saat tanaman umur 4 MST. Gejala visual infeksi tungro telah jelas terlihat pada saat kedua virus telah terdeteksi. Perkembangan komposisi virus tersebut juga terjadi di Filipina seperti laporan Tiongco et al. (1988). Wereng hijau yang dapat menularkan RTSV telah terdeteksi di pertanaman yang berumur 2 MST. Dengan demikian diketahui sejak awal wereng hijau imigran yang membawa RTSV telah mampu membantu penyebaran RTBV. Komposisi spesies wereng hijau di lapang dapat mem­pengaruhi intensitas serangan virus tungro. Pergeseran dominasi spesies ke arah spesies yang efisien penularannya, wereng hijau N. virescens, maka potensi infeksi tungro semakin tinggi (Hibino dan Cabunagan, 1986) Virus tungro tidak memberikan pengaruh negatif kepada vektor. Apabila inokulum virus sudah ada di lapang, keberadaan tungro dipengaruhi oleh fluktuasi vektor. Dengan demikian dinamika populasi vektor penting dipahami untuk menyusun strategi pengendalian penyakit tungro. Infeksi tungro dapat terjadi mulai di persemaian. Pada stadium ini tanaman sangat sensitif terhadap in­feksi virus. Apabila infeksi terjadi pada stadia awal pertumbuhan maka gejala tungro akan tampak pada tanaman umur 2–3 MST. Tanaman muda yang ter­infeksi merupakan sumber inokulum utama setelah padi ditanam di lapang. Selama satu periode pertumbuhan tanaman padi terjadi dua puncak tambah tanaman terinfeksi yaitu pada saat 4 dan 8 MST (Suzuki et al., 1992). Puncak infeksi pertama disebabkan oleh serangga imigran pada 2 MST, sedangkan puncak infeksi kedua disebabkan infeksi yang terjadi  saat 6 MST oleh keturunan serangga imigran. Sumber inokulum penyakit tungro terdapat pada bibit dari ceceran gabah terinfeksi (voluntir), tanaman, ratun serta mungkin rumput inang yang sakit. Tanaman inang tungro selain padi, yang sudah diketahui adalah: rumput belulang (Eleusine indica), rumput bebek atau tuton (Echinochloa colonum), jajago­an (Echinochloa crusgali), juhun randan (Ischaemum rugosum), tapak jalak atau rumput katelan (Dactyloctenium aegyptium), rumput asinan (Paspalum distichum) dan padi liar. N. virescens hanya dapat berkembang dengan baik dan menjadi penular yang efisien pada padi. N. nigropictus dapat berkembang pada padi maupun rerumputan, meskipun berkembang dengan lebih baik pada rerumputan. N. nigropictus dapat menularkan virus dari rerumputan ke tanaman padi. Dinamika Populasi Vektor Saat ini N. virescens mendominasi komposisi spesies wereng hijau di Pulau Jawa dan Bali. N. nigropictus terutama pada musim hujan kadang-kadang mendominasi komposisi spesies wereng hijau di Kalimantan Selatan. Di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan ada kecenderungan pergeseran dominasi N. virescens ke N. nigropictus. Dalam satu musim tanam, N. virescens umumnya melewati tiga generasi. Pada pola I peningkatan kepadatan populasi terjadi terus menerus dari G0 sampai G2, pola II dicirikan oleh peningkatan kepadatan populasi hanya sekali dari G0 ke G1, sedangkan pada pola III dari sejak G0 kepadatan populasi tidak meningkat sama sekali. Pada pola tanam padi-padi-padi pertumbuhan kepadatan populasi sebagian besar (45%) mengikuti pola II, sedangkan pada pola tanam padi-bera-padi/padi-palawija-padi sebagian besar (54,4%) mengikuti pola III. Dengan demikian pada pola padi-padi-padi pada sebagian besar kasus populasi wereng hijau dapat berkembang sampai pertengahan pertumbuhan tanaman, sedangkan pada pola tanam padi-bera-padi/padi-palawija-padi dari sebagian besar kasus populasi wereng hijau tidak ber­kembang sama sekali. Hasil analisis Widiarta dkk. (1999a) dengan menggunakan analisis faktor kunci (key-factor analysis) (Podoler and Rogers, 1975) diketahui bahwa kematian pada periode nimfa termasuk pemencaran imago menjadi faktor kematian kunci untuk populasi wereng hijau pada pola padi-padi-padi maupun padi-padi-bera/palawija. Analisis menggunakan analisis tanggap bilangan (numerical respond analysis) diketahui, pada pola tanam padi-padi-padi tidak ditemukan adanya tanggap bilangan antara kematian nimfa dengan kepadatan populasi pemangsa, tetapi tanggap bilangan ditemukan pada pola tanam padi-padi-bera/palawija. Hal tersebut menunjukkan adanya perbedaan faktor yang mempengaruhi perkembangan populasi wereng hijau antara kedua pola tanam tersebut. Pemencaran imago (dispersal) berperan pada pola padi-padi-padi terutama yang tidak serempak tanam, sedangkan pada pola padi-padi-bera/palawija faktor penyebab kematian (mortality) berperan penting. Implikasi dari pemahaman tersebut terhadap strategi pengendalian tungro adalah pada  daerah pola tanam padi-padi-padi, dapat dilakukan dengan mengurangi kemampuan pemerolehan dan penularan virus oleh wereng hijau sebagai komponen utama pengendalian. Sedangkan  pola tanam padi-padi-palawija/bera peran faktor penyebab kematian wereng hijau seperti predator, parasit serta patogen khususnya jenis jamur (jamur entomopatogen) penting dan perlu ditingkatkan perannya guna menekan kepadatan populasi wereng hijau sebagai penyebar penyakit tungro. Pengembangan Komponen Pengendalian Pengendalian penyakit tungro dilakukan dengan meng­integrasikan komponen-komponen pengendalian dalam satu sistem yang dikenal dengan konsep pengendalian penyakit secara terpadu. Usaha tersebut meliputi cara bercocok tanam, penanaman varietas tahan, menghilangkan atau mengurangi sumber virus (eradikasi), dan penggunaan pestisida (Pathak, 1972; Sama et al., 1982; Singh, 1969; Shukla dan Anjaneyulu, 1981). Di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, usaha pengendalian penyakit virus tungro dilakukan dengan mengatur waktu tanam yang tepat untuk penanaman musim hujan dan musim kering, mengadakan pergiliran varietas yang memiliki gen tahan wereng dan menggunakan insektisida (Mochida et al., 1975). a. Tanam Serempak Tanam serempak dapat memperpendek waktu keberadaan sumber inokulum atau waktu perkembangbiakan. Tanam serempak mengurangi sumber tanaman sakit dan membatasi waktu berkembang biak vektor penular patogen. Untuk mengurangi serangan penyakit tungro, tanaman serempak dianjurkan minimal luasan 20 ha berdasarkan gradasi penyebaran  penyakit (disease gradient) dari satu sumber inokulum (Widiarta dkk., 1997). b. Waktu Tanam Tepat Tanam pada saat yang tepat dimaksudkan untuk membuat tanaman terhindar dari serangan pada saat tanaman peka. Waktu tanam tepat digunakan untuk mengendalikan  penyakit tungro (Sama et al., 1982 dan 1991). Tanaman padi diketahui peka terhadap infeksi virus tungro saat tanaman berumur kurang dari satu bulan setelah tanam. Dengan mengamati pola fluktuasi populasi wereng hijau dan intensitas serangan tungro sepanjang tahun, akan diketahui saat-saat ancaman paling serius oleh penyakit tungro. Waktu tanam diatur sehingga pada saat ancaman tungro serius, tanaman sudah berumur lebih dari 1 bulan setelah tanam. Waktu tanam tepat hanya efektif mengendalikan penyakit tungro di daerah dengan pola tanam serempak. Waktu tanam serempak berhasil mengendalikan luas serangan tungro di Sulawesi Selatan, namun sulit untuk diterapkan pada daerah yang tanam padinya tidak serempak seperti di Bali. Waktu tanam yang tepat dapat menghindarkan tanaman dari serangan wereng maupun infeksi virus tungro (Sama et al., 1982; Yulianto dan Hasanuddin, 1997). Di Maros, penanaman padi pada awal musim hujan (Desember–Januari) atau musim kemarau (Juni–Juli) dapat terhindar dari serangan wereng dan tungro yang serius (Sama et al., 1982). c. Varietas Tahan Secara garis besar ketahanan terhadap tungro dapat diklasifikasikan sebagai varietas tahan terhadap vektor, tahan terhadap RTSV dan RTBV (Imbe, 1991; Tabel 1). Varietas tahan tungro dapat dirakit secara konvensional, konvensional plus marka molekuler, dan teknologi transgenik. Hasil perbaikan varietas tahan tungro pada awalnya diketahui hanya tahan terhadap vektornya, tetapi setelah metode ELISA diterapkan, yaitu suatu teknik yang dapat membedakan tanaman terinfeksi RTSV dan RTBV, perakitan varietas ini dapat lebih mudah dilakukan. Varietas tahan tungro yang sampai saat ini dilepas ke petani merupakan hasil pemuliaan dengan teknologi tersebut. Dengan majunya bidang biologi molekuler, maka penetapan ketahanan terhadap RTSV yang selama ini menggunakan metode inokulasi, dapat dilakukan dengan menggunakan marka molekuler. Beberapa marka mikrosatelit, seperti RM 10, RM 70, RM 170, RM 190, RM 336, merupakan kandidat marka yang dapat digunakan untuk pemuliaan berbantuan marka. Teknologi transgenik, yaitu dengan mengintroduksi gen asing ke dalam tanaman padi. Di laboratorium Dr. R. Beachy (Amerika Serikat) gen asing seperti yang menyandi selubung protein dan yang menyandi replikase dari RTSV telah digunakan untuk merakit galur-galur padi tahan RTSV. Dalam uji ketahanan di laboratorium, galur-galur tersebut dilaporkan tahan terhadap RTSV (Huet et al., 1999; Sivamani et al., 1999). Sedangkan galur padi transgenik yang dirakit dengan tujuan tahan RTBV,  ternyata pada uji penularan belum menunjukkan ketahanan yang diinginkan (Azzam et al., 1999). Hal ini berkaitan dengan adanya kendala yang belum sepenuhnya dapat dijelaskan. Dengan teknologi transgenik pula para peneliti di India telah memanfaatkan gen yang menyandi zat toksik terhadap serangga hemiptera, yaitu lektin sebagai transgen untuk memperoleh tanaman padi tahan tungro (Saha et al., 2006). Penelitian ini menghasilkan galur padi transgenik tidak saja tahan vektor tungro, juga mempunyai sifat yang dapat mereduksi titer virus RTBV dan RTSV; akan tetapi belum ada laporan yang mengonfirmasi lebih lanjut tentang keberhasilan penanaman varietas padi dari jenis ini. Varietas padi yang tahan wereng hijau dikelompokkan berdasarkan sumber gen-tetua tahannya menjadi T1, T2, T3, dan T4 (Sama et al., 1982 dan 1991) (Tabel 2). Anjuran penggunaan varietas tahan wereng hijau sebagai berikut: di Jawa Barat  dapat ditanam varietas tahan golongan T1, T2, dan T4; di Jawa Tengah semua golongan varietas tahan; di Yogyakarta varietas tahan dari golongan T2 dan T4; di Jawa Timur dan Bali hanya dianjurkan varietas tahan golongan T4; dan di NTB dianjurkan untuk menanam varietas tahan virus. Sumber Ketahanan Terhadap Virus-virus Tungro. Sumber Ketahanan Reaksi Terhadap Gen Tahan RTSV pada NIL RTSV RTBV N. virescens ARC 115554 R T R 1 dominan Balimau Putih S T S Utri Merah (16680) R T S 1 resesif Utri Merah (16682) R T S 1 resesif Habiganj DW8 R T S 1 resesif Utri Rajapan R T S 1 resesif Oryza rufipogon R T R 1 resesif O. longistaminata R T R 1 resesif O. officinalis ? T R 1 resesif R = tahan; S = rentan; T = toleran. Sumber: Choi, 2004 Varietas Tahan Wereng Hijau untuk Mengendalikan Penyakit Tungro Golongan Varietas Gen tahan T0 IR5, Pelita, Atomita, Cisadane, Cikapundung, Lusi - T1 IR20, IR30, IR26, IR46, Citarum, Serayu Glh1 T2 IR32, IR38, IR36, IR47, Semeru, Asahan, Ciliwung, Krueng Aceh, Bengawan Solo Glh 6 T3 IR50, IR48, IR54, IR52, IR64 Glh 5 T4 IR66, IR70, IR72, IR68, Barumun, Klara. Glh 4 Lima varietas padi tahan tungro yang telah dilepas: Tukad Petanu, Tukad Unda, Tukad Balian, Kalimas, dan Bondoyudo (Widiarta dan Daradjat, 2000) dengan kesesuaian seperti pada Tabel 3. Tukad Petanu dapat dianjurkan untuk seluruh daerah endemis, sedangkan varietas Tukad Unda dianjurkan untuk ditanam di NTB dan di Sulawesi Selatan. Varietas Tukad Balian, dianjurkan untuk ditanam di Bali dan di Sulawesi Selatan. Kalimas dan Bondoyudo diketahui tahan di Jawa Timur. Selain di Jawa Timur Bondoyudo  dapat ditanam di Bali dan Sulawesi Selatan. Pewilayahan Kesesuaian Varietas Tahan Virus Tungro Varietas Kesesuaian di Jabar Jateng Jatim Bali NTB Sulsel Tukad Petanu + + + + + + Tukad Unda - - - - + + Tukad Balian - - + + - + Bondoyudo - - + + - + Kalimas - - + - - - + = sesuai (tungro < 50%) ; - = tidak (tungro > 50%) Sanitasi, gulma, ratun, dan ceceran gabah saat panen yang tumbuh (voluntir) dapat menjadi inang serangga maupun patogen pada saat tanaman padi tidak ada di pertanaman. Wereng coklat hanya dapat berkembang dengan baik pada tanaman padi, ratun dan voluntir. Wereng hijau spesies N. virescens yang paling efisien sebagai vektor tungro juga hanya dapat melengkapi daur hidupnya dengan baik pada tanaman padi. Sedangkan wereng hijau spesies lainnya seperti N. nigropictus dan N. malayanus berkembang baik pada gulma. Virus tungro di samping dapat menginfeksi padi, juga bisa ditularkan oleh wereng hijau kepada gulma (Yulianto dan Hasanuddin, 1997). Keberadaan gulma dan ketiga spesies wereng hijau tersebut menyebabkan penyakit tungro endemis di lokasi tersebut. Pada saat tidak ada tanaman padi, ratun atau voluntir, virus tungro bertahan pada gulma. Wereng N. nigropictus dan N. malayanus menularkan virus pada gulma dan pada saat mulai ada tanaman padi menularkannya ke tanaman padi. Virus pada tanaman padi disebarkan kembali oleh N. virescens sehingga penyakit tungro dapat bertahan terus. Menghilangkan gulma, ratun dan voluntir akan mengurangi sumber inokulum pada awal pertumbuhan tanaman. Disarankan petani membuat persemaian setelah lahan dibersihkan atau tanam padi dengan cara tabur benih langsung (tabela). Pada cara tanam padi dengan tabela, lahan dibersihkan dan diratakan terlebih dahulu sebelum benih ditabur. Dengan demikan inokulum tungro khususnya telah berkurang pada awal per­tumbuhan tanaman. Tabela akan lebih efektif mengurangi serangan tungro bila dilakukan serempak minimal 20 ha. Tabela yang dilakukan tidak serentak sehamparan akan menjadikan tanaman padi yang ditanam paling lambat mendapat akumulasi vektor maupun inokulum tungro. Di beberapa daerah di Sulawesi Selatan telah mempraktekkan tabela, namun karena waktu tabur yang tidak bersamaan, serangan tungro tetap meluas. d. Tanam Jajar Legowo Tanam jajar legowo menyebabkan kondisi iklim mikro di bawah kanopi tanaman kurang mendukung perkembangan patogen. Pada tanaman padi dengan sebaran ruang legowo, wereng hijau kurang aktif berpindah antar rumpun, sehingga penyebaran tungro terbatas (Widiarta dkk., 2003). Tikus lebih senang memakan tanaman yang berada di tengah petakan. Pada padi yang ditanam jajar legowo, tikus kurang betah untuk memakan tanaman. Begitu juga serangan penyakit hawar daun bakteri berkurang. Pengairan Pengeringan sawah dapat meningkatkan kematian nimfa wereng coklat. Akan tetapi bila tanaman padi terserang penyakit tungro, pengeringan sawah akan mendorong wereng hijau untuk berpindah tempat. Pengeringan sawah yang terkena tungro akan mempercepat penyebaran penyakit. Patogen Patogen menginfeksi serangga (entomopathogent) sehingga menyebabkan kematian pada serangga. Patogen serangga ada tiga jenis yaitu jamur, bakteri dan virus. Patogen dari jenis jamur yang telah dikembangkan untuk mengendalikan wereng coklat,  wereng hijau serta lembing batu adalah Metarhizium dan Bauveria. Jamur entomopatogen menekan penyakit tungro dengan triple actions melalui menekan kemampuan pemencaran wereng,  secara langsung dapat mematikan, dan secara tidak langsung dengan pengurangan keperidian betina. e. Pestisida Penyemprotan pestisida dapat menekan populasi wereng  hijau yang berarti akan mengurangi kecepatan penyebaran virus. Pestisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan wereng hijau ada yang dari jenis nabati dan anorganik. Bahan kimia yang dapat membunuh serangga yang diperoleh dari ekstrak tanaman seperti tembakau, akar tuba merupakan bahan yang sudah dikenal sejak lama sebagai pembunuh serangga. Tanaman yang digunakan untuk mengendalikan wereng hijau (insektisida nabati) misalnya nimba, sambilata (Mariappan dan Saxena, 1983; Widiarta dkk., 1997). Penggunaan insektisida anorganik sebaiknya berdasarkan pengamatan. Deteksi ancaman penyakit tungro dapat dilakukan pada waktu persemaian dan saat tanaman berumur tiga minggu setelah tanam. Pemantauan wereng hijau di persemaian dilakukan dengan jaring serangga sebanyak 10 ayunan untuk mengevaluasi kerapatan populasi wereng hijau. Di samping itu juga perlu dilakukan uji yodium untuk mengetahui intensitas tungro pada 20 daun padi 15 hari setelah sebar. Jika hasil perkalian antara jumlah wereng hijau dan persentase daun terinfeksi sama atau lebih dari 75, maka pertanaman terancam tungro. Di pertanaman aplikasi insektisida dilakukan apabila terdapat lima gejala penularan tungro dari 10.000 rumpun tanaman saat berumur 2 MST atau satu gejala tungro dari 1.000 rumpun tanaman saat berumur 3 MST. Insektitida yang dapat digunakan antara lain adalah imidacloprid, tiametoksan etofenproks, dan karbofuran. 
EKOLOGI TIKUS SAWAH DAN TEKNOLOGI PENGENDALIANNYA Tikus sawah (Rattus argentiventer Rob dan Kloss) merupakan hama utama tanaman padi dari golongan mamalia (binatang menyusui), yang mempunyai sifat-sifat yang sangat berbeda dibandingkan jenis hama utama padi lainnya. Oleh karena itu dalam pengendalian hama tikus ini, diperlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan cara penanganan hama padi dari kelompok serangga. Tikus sawah dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman padi mulai dari saat pesemaian padi hingga padi siap dipanen, dan bahkan menyerang padi di dalam gudang penyimpanan. Kerusakan akibat tikus sawah di negara-negara Asia mencapai 10–15% setiap tahun (Singleton, 2003), dan di Indonesia luas serangan tikus sawah setiap tahun rata-rata mencapai lebih dari 100.000 ha (Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, 2003). Kerugian akibat hama tikus dapat jauh lebih tinggi lagi karena kerusakan pada periode pesemaian dan stadium padi vegetatif tidak termasuk  kerugian yang dilaporkan. Distribusi keberadaan tikus sawah sangat luas, karena dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai agroekosistem, baik lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan/lahan kering, maupun lahan sawah rawa pasang surut. Namun demikian keberadaan tikus sawah lebih dominan sebagai hama utama padi di lahan sawah irigasi. Tikus sawah tergolong binatang pemakan dari berbagai jenis tumbuhan dan hewan (omnivora), sehingga juga berperan sebagai hama pada tanaman hortikultura, perkebunan dan hama gudang. Tikus sawah juga diketahui sebagai vektor penyebab penyakit berbahaya pada manusia dan binatang ternak  (Begon, 2003). Pengendalian hama tikus pada tanaman padi sampai saat ini keberhasilannya masih belum konsisten, dan belum semua petani di berbagai propinsi di Indonesia memahami cara pengendalian tikus yang benar. Beberapa faktor penyebab kurang berhasilnya pengendalian tikus oleh petani antara lain: (1) monitoring terhadap keberadaan hama tikus oleh petani masih kurang, sehingga sering terjadi keterlambatan dalam mengantisipasi pengendalian, (2). pemahaman petani terhadap berbagai aspek sifat-sifat biologis hama tikus dan teknologi pengendaliannya masih lemah, (3) kegiatan pengendalian belum terorganisir dengan baik (masih sendiri-sendiri), dan tidak berkelanjutan, (4) ketersediaan sarana pengendalian masih terbatas dan (5) masih banyak petani yang mempunyai persepsi “mistis” terhadap tikus yang dapat menghambat pelaksanaan pengendalian. Berdasarkan hasil penelitian yang komprehensif oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, telah direkomendasikan alternatif-alternatif pendekatan pengendalian tikus sawah yang telah terbukti efektif yaitu pengendalian hama tikus terpadu (PHTT) (Sudarmaji, 2006). Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) adalah pengendalian tikus yang didasarkan pada pemahaman ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Pelaksanaan pengendalian dilakukan oleh petani secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinasi dengan cakupan sasaran pengendalian berskala luas (hamparan atau desa). Pengendalian tikus pada dasarnya adalah upaya menekan tingkat populasi tikus menjadi serendah mungkin melalui berbagai metode dan teknologi pengendalian, sehingga secara ekonomi keberadaan tikus di lahan pertanian tidak merugikan secara nyata. Menjaga populasi tikus sawah agar selalu berada pada tingkat populasi yang rendah adalah penting. Oleh karena itu, perlu diupayakan langkah-langkah dan strategi pengendalian tikus sawah dengan pendekatan PHTT. Berbagai komponen teknologi untuk pengendalian tikus sawah yang telah ada sampai saat ini sebenarnya cukup efektif apabila penerapannya telah sesuai dengan rekomendasinya. Ketepatan waktu pelaksanaan pengendalian, habitat sasaran pengendalian, dan pemilihan jenis teknologi yang dipakai, akan menentukan keberhasilan usaha pengendalian tikus sawah. 1. . Kerusakan oleh Tikus Sawah pada Tanaman Padi Tikus sawah merupakan hama padi yang menimbulkan kerusakan dan kerugian besar pada tanaman padi di negara-negara Asia pada umumnya, termasuk Indonesia. Berdasarkan laporan  Singleton (2003), kehilangan hasil padi akibat tikus sawah di 11 negara Asia (Banglades, Kamboja, Cina, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Philippina, Thailand dan Vietnam) diperkirakan mencapai 5–10%. Apabila dihitung kerugian sebesar 5% saja, nilainya setara dengan 30 juta ton beras dan cukup untuk memberi makan 180 juta orang  selama 12 bulan. Tingkat kerusakan oleh tikus sawah pada tanaman padi di Indonesia, bervariasi dari kerusakan ringan sampai terjadi puso atau gagal panen. Rata-rata intensitas serangan tikus setiap tahun pada tanaman padi di Indonesia selama sepuluh tahun (1989–1998) mencapai 19,3%, dengan luas serangan 90.837 ha. Sedangkan pada kurun waktu tahun 1998–2002 tercatat luas serangan mencapai 165.381 ha dan 7.699 ha diantaranya puso (Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, 2003). Kerusakan akibat hama tikus pada tanaman padi tersebut, selalu merupakan kerusakan terbesar dibanding dengan kerusakan yang ditimbul­kan oleh hama utama padi lain, seperti wereng cokelat dan penggerek batang padi. Rata rata tingkat kerusakan oleh tikus sawah pada tanaman padi selama kurun waktu 1977–2005 diseluruh Indonesia disajikan pada Gambar 1. Distribusi kerusakan oleh tikus sawah pada tanaman padi, terjadi di seluruh propinsi di Indonesia, dengan intensitas dan luas serangan bervariasi. Sebagai contoh pada tahun 2002 serangan tikus paling berat terjadi di Jawa Barat yaitu lebih dari 20.000 ha, disusul Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan masing-masing antara 10.000–20.000 ha, Jawa Timur, Lampung dan Sulawesi Tenggara masing-masing antara 5.000–10.000 ha, serta propinsi lainnya masing-masing kurang dari 5.000 ha (Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, 2003). Tikus sawah juga menyebabkan kerusakan pada berbagai komoditas pertanian lain baik pada tanaman pangan, hortikultura maupun tanaman perkebunan, serta, tidak hanya di lahan sawah irigasi, tetapi juga di daerah lahan kering dan lahan rawa pasang surut. Oleh sebab itu, jenis tikus sawah ini dikenal sebagai hama lintas agroekosistem dan komoditas pertanian. Kerusakan yang ditimbulkan oleh tikus sawah pada tanaman padi terjadi mulai dari pesemaian hingga padi menjelang panen. Rochman (1992), mencatat pada pesemaian padi berumur dua hari, satu ekor tikus mampu merusak rata-rata 283 bibit padi dalam satu malam. Pada stadium padi anakan (vegetatif) merusak anakan padi rata-rata 79 batang, dan pada stadium padi bunting 103 batang, serta pada stadium padi bermalai 12 batang  per malam.  Tikus  sawah  diketahui  lebih  suka  menyerang  tanaman padi   yang sedang bunting, sehingga pada umumnya padi stadium bunting akan mengalami kerusakan yang paling tinggi. Berdasarkan pengamatan dari malai padi yang dipotong, ternyata hanya beberapa malai saja yang dimakan (Rochman dan Toto, 1976). Kebutuhan pakan tikus setiap hari hanya seberat kurang lebih 10% dari bobot tubuhnya, sedangkan daya rusaknya terhadap malai padi lima kali lebih besar dari bobot malai padi yang dikonsumsi. Hasil penelitian Sudarmaji (2004), menunjukkan bahwa intensitas kerusakan tanaman padi akibat serangan tikus sawah di lapangan terbuka dan di dalam sawah berpagar (enclosure), menunjukkan intensitas kerusakan yang berbeda diantara stadium padi. Intensitas kerusakan tertinggi terjadi pada stadium padi bunting, baik di lapangan terbuka maupun di dalam sawah berpagar (Tabel 1). Tingginya kerusakan yang terjadi pada stadium padi bunting, berkaitan erat dengan adanya preferensi tikus terhadap pakan padi bunting. Telah dibuktikan bahwa tanaman padi stadium bunting merupakan pakan yang paling disukai tikus sawah dibandingkan dengan jenis pakan yang ada di habitat hidupnya yaitu di ekosistem sawah irigasi (Tristiani et al., 1992;  Rahmini dan  Sudarmaji, 1997).  Ketertarikan  tikus  sawah terhadap padi bunting, telah digunakan sebagai dasar pengendalian tikus dengan konsep Trap Barrier System (TBS) sebagai tanaman perangkap di ekosistem sawah irigasi (Singleton et al., 1997; Sudarmaji dan Anggara, 2006; Sudarmaji et al., 2007).  Dilaporkan juga oleh Sudarmaji (2004), bahwa kerusakan yang disebabkan oleh enam pasang ekor tikus dan keturunannya selama satu musim tanam padi mencapai 37,02%, yang nilainya setara dengan kehilangan gabah tiga ton atau 4,5 juta rupiah dalam satu ha sawah. Perhitungan tersebut dengan asumsi bahwa hasil panen mencapai 8 ton/ha gabah kering panen dengan harga jual Rp1.500,- /kg. Tabel 1. Intensitas kerusakan tanaman padi oleh tikus sawah di lapangan terbuka dan di dalam sawah berpagar (enclosure) Stadium padi Rata-rata intensitas kerusakan tanaman padi (%) di sawah berpagar (1 musim tanam) di sawah terbuka (7 musim tanam) Bertunas maksimum 6,60±0,68  a 2,18±0,39  a Bunting 20,85±2,12  b 5,33±1,14  b Matang panen 9,57±2,11  a 1,12±0,17  a Kumulatif 37,02±4,91 8,63±1,70 2.  Ekologi Tikus Sawah 2.1  Klasifikasi dan Deskripsi Tikus termasuk golongan binatang mengerat atau Rodensia yang merupakan kelompok terbesar dari kelas binatang Mamalia, karena memiliki jumlah spesies terbesar (2.000 spesies) atau 40% dari 5.000 spesies binatang yang termasuk kelas Mamalia (Aplin et al., 2003). Di Indonesia kurang lebih terdapat 164 spesies tikus  dan lebih dari 25 spesies tikus diantaranya menyebabkan kerusakan pada berbagai jenis tanaman, dan hanya 13 spesies tikus yang merupakan hama di daerah pertanian. (Aplin et al., 2003). Menurut Sudarmaji et al. (2005), spesies tikus yang termasuk jenis hama di daerah pertanian di Indonesia berasal dari Genus Bandicota, Rattus dan Mus. Diantara spesies tikus yang termasuk hama, tikus sawah (Rattus argentiventer, Rob and Kloss) merupakan hama utama padi dan juga berperan sebagai vektor penyebab penyakit pada manusia dan hewan ternak. Di daerah ekosistem sawah irigasi di Karawang Jawa Barat, Sudarmaji et al,. (2005) mendapatkan tiga spesies tikus yaitu tikus sawah (Rattus argentiventer), tikus rumah (Rattus rattus diardii) dan tikus wirok (Bandicota indica). Pada daerah tersebut spesies tikus sawah lebih dominan dibanding spesies lainnya yang mencapai 98,6%. Pada tahun 1916, Robinson dan Kloss memberi nama pertama kali Taxon argentiventer berdasarkan seekor tikus dewasa yang ditemukan di Pasir Ganting daerah pantai Sumatra Barat. Selama kurun waktu 1916–1945, telah tujuh nama diajukan dalam literatur mammalogi untuk spesies yang sekarang dikenal sebagai Rattus argentiventer, yaitu: argentiventer untuk tikus yang berasal dari Sumatra; brevicaudatus yang berasal dari Jawa; bali yang berasal dari pulau Bali; pesticulus untuk tikus yang berasal dari Sulawesi; saturnus untuk yang berasal dari Sumba; chaseni yang berasal dari Malaya; dan umbriventer yang berasal dari Mindoro Philippina (Musser, 1973). Kedudukan tikus sawah dalam klasifikasi binatang menurut  Murakami et al. (1992) adalah sebagai berikut : Filum :  Chordata Subfilum :  Vertebrata Kelas :  Mammalia Ordo :  Rodentia Famili :  Muridae Genus :  Rattus Spesies :  Rattus argentiventer (Rob & Kloss) atau tikus sawah. 2.2  Perkembangbiakan Perkembangbiakan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan laju peningkatan populasi tikus sawah. Perkembangbiakan tikus erat kaitannya dengan kualitas dan kuantitas pakan yang tersedia. Tikus bersifat omnivora, meskipun demikian tanaman padi merupakan sumber utama pakan tikus yang paling disukainya (Rahmini dan Sudarmaji, 1997). Hasil penelitian Rochman dan Sudarmaji (1997), menunjukkan bahwa tanaman padi bunting apabila dikonsumsi oleh tikus sawah, akan berpengaruh positif terhadap perkembangbiakannya. Pada periode tersebut terjadi awal proses reproduksi tikus. Generasi yang dihasilkan pada waktu padi stadium bunting merupakan pemicu dari penggandaan populasi dan berlanjut hingga padi bermalai dan masa panen. Rochman dkk. (1982), memaparkan bahwa di daerah dengan pola tanam padi 2 kali dalam 1 tahun akan terdapat 2 kali periode perkembang-biakan tikus sawah. Di daerah dengan pola tanam padi tidak serempak memperlihatkan pola perkembangbiakan tikus yang tidak teratur. Tikus sawah akan berkembangbiak aktif sepanjang tahun apabila selalu tersedia tanaman padi yang sedang menguning atau pada stadium generatif padi. Pada umumnya jenis binatang pengerat dan seperti halnya tikus sawah, mempunyai potensi perkembangbiakan cepat sehingga populasinya akan berkembang dengan cepat pula.  Tikus betina bunting selama 21 hari dan menyusui anaknya selama 21 hari. Tikus mampu bunting dan menyusui dalam waktu bersamaan dan tikus tersebut kawin lagi dalam waktu 48 jam setelah melahirkan (Meehan, 1984). Pada kondisi lingkungan yang baik, di dalam satu sarang dapat dihuni induk betina yang sedang bunting bersama dua generasi anak-anaknya (Sudarmaji dkk., 2007). Tikus sawah dapat berkembangbiak apabila telah mencapai kematangan seksual. Kematangan seksual tikus betina relatif lebih cepat yaitu pada umur 28 hari, yang ditandai dengan membukanya vagina (estrus) dan kebuntingan dapat terjadi pada umur 40 hari.  Kematangan seksual tikus jantan lebih lambat yaitu setelah berumur 60 hari. Sudarmaji dan Rahmini (1997), mendapatkan tikus betina bunting berumur 45 hari dan tidak mendapatkan tikus betina bunting dari sampel tikus yang diambil dari lapangan yang berumur lebih dari 12 bulan. Jumlah embrio yang dihasilkan oleh induk tikus betina bervariasi pada setiap periode kebuntingan. Terdapat kecenderungan menurunnya jumlah embrio setelah periode kebuntingan pertama. Jumlah embrio tertinggi dihasilkan oleh induk betina yang bunting pada periode stadium awal padi bunting sampai pengisian malai (bunting pertama) dengan rata-rata jumlah embrio 12,83±0,8 embrio, pada kebuntingan kedua (padi matang) 11,49±1,1 embrio, dan pada kebuntingan ketiga (panen/bera awal) 7,80±1,0 embrio (Sudarmaji dkk., 2007). Tersedianya pakan padi yang cukup dengan kualitas baik, pada saat padi bunting dan awal pengisian malai, merupakan faktor yang diduga kuat berpengaruh terhadap jumlah embrio yang dihasilkan oleh induk betina. Selain itu, diketahui bahwa tikus-tikus muda yang melahirkan pertama kali akan menghasilkan embrio lebih banyak dibandingkan tikus betina yang berumur lebih tua (Sudarmaji, 2004). Penurunan jumlah embrio juga disebabkan oleh terbatasnya pakan yang berkualitas khususnya pada periode bera, dan tikus betina cenderung merespon dengan mengurangi jumlah anaknya menjadi lebih sedikit agar dapat bertahan hidup setelah dilahirkan. Tikus betina bunting dapat mengabsorbsi sebagian embrio yang dikandungnya apabila kondisi lingkungan kurang menguntung­kan. Berdasarkan hasil penelitian dengan pengambilan sampel penggalian sarang tikus, diketahui bahwa dari total 77 ekor induk betina yang melahirkan anak, didapatkan anak-anak tikus sebanyak 785 ekor. Jumlah anak yang dilahirkan bervariasi dari 4 ekor sampai 16 ekor per induk betina, dengan rata-rata 10,14± 4,5 ekor anak setiap melahirkan (Sudarmaji dkk., 2007). Frekuensi tikus betina dalam melahirkan anak, dapat diidentifikasi berdasarkan jumlah set plasenta scars. Plasenta scars merupakan bekas luka tempat menempelnya embrio pada uterus tikus betina yang tampak berupa bintik merah, hitam sampai kecokelatan. Berdasarkan hasil otopsi terhadap 164 ekor tikus betina dewasa yang pernah melahirkan diketahui bahwa proporsi populasi tikus betina di lapangan dengan satu set plasenta scar atau melahirkan satu kali mencapai 54,27%, dua kali melahirkan 34,76%, tiga kali melahirkan 10,36% dan empat kali melahirkan 0,60% (Sudarmaji dkk., 2007).  Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa tikus sawah selama hidupnya mempunyai potensi melahirkan anak sampai empat kali, namun demikian kelahiran anak dari tikus-tikus yang berumur tua (lebih dari satu tahun) sangat jarang terjadi. Sudarmaji (2004) melaporkan, bahwa pada varietas padi unggul baru dengan rata-rata umur padi mencapai 120 hari, perkawinan tikus diperkirakan dimulai sejak padi stadium bertunas maksimum (maximum tillering). Tikus sawah bunting selama 21 hari dan dapat kawin lagi 48 jam setelah melahirkan (post-partum oestrous), sehingga selama satu musim tanaman padi dapat terjadi tiga kali kelahiran. Berdasarkan kelahiran yang terjadi pada satu musim tanam dan banyaknya anak yang dilahirkan, dapat dihitung jumlah individu yang dihasilkan oleh satu ekor tikus betina. Tikus sawah menghasilkan anak rata-rata 10 ekor dalam satu kali kelahiran dengan nisbah kelamin sama. Dalam satu musim tanam padi dapat terjadi tiga kali kelahiran dan dihasilkan 30 ekor tikus muda. Apabila terjadi tanam padi tidak serempak sehingga terjadi keterlambatan panen lebih dari dua minggu, atau terdapat ratun padi yang bermalai pada periode sawah bera, maka tikus betina muda yang dilahirkan pertama kali oleh induknya telah dapat melahirkan anak. Lima ekor tikus betina muda dari kelahiran pertama tersebut akan melahirkan anak sebanyak 50 ekor, sehingga total jumlah anak yang dapat dihasilkan dari satu ekor induk betina dalam satu musim tanam padi diperkirakan mencapai 80 ekor (Gambar 2). Peneliti lain melaporkan bahwa dari satu ekor induk tikus mampu menghasilkan keturunan 510 ekor selama 10 bulan dan akan menjadi 2.046 ekor dalam 13 bulan (Sama dan Rochman, 1988). Murakami et al., (1992), mendapatkan sekurang-kurangnya jumlah anak tikus dari satu induk betina dalam satu musim tanam mencapai 100 ekor  dari dua sampai tiga kali kelahiran. Habitat merupakan salah satu faktor lingkungan yang menjadi daya dukung perkembangan populasi tikus sawah. Tersedianya habitat yang memadai akan menguntungkan tikus untuk mendapatkan tempat hidup dan tempat berkembangbiak dengan baik. Oleh karena itu, pemahaman habitat tikus sangat diperlukan dalam upaya pengelolaan populasi tikus, khususnya pada lahan sawah dengan pertanaman padi. Tikus sawah termasuk binatang yang aktif pada malam hari (nokturnal).  Pada siang hari tikus berlindung di dalam sarang dengan membuat liang di dalam tanah atau di semak-semak.  Penelitian dengan menggunakan pelacak gelombang radio (radio tracking) menunjukkan bahwa pada malam hari tikus lebih banyak mengunjungi daerah pertanaman padi (60%) dibandingkan berbagai jenis habitat lain yang ada disekitarnya.  Pada siang hari tikus lebih banyak berada di luar daerah pertanaman padi yaitu di tanggul irigasi dan daerah-daerah dekat perkampungan (Sudarmaji dan Rahmini, 2002). Hadi dkk. (2006) melaporkan, tikus sawah pada siang hari 82% tinggal di daerah pematang dan sebaliknya pada malam hari 95% aktif di tengah pertanaman tengah padi. Brown et al. (2001), juga melaporkan tidak terdapat perbedaan nyata daya jelajah tikus sawah di habitatnya antara tikus jantan dan betina. Rata-rata daya jelajah tikus jantan adalah 3,01 ha dan tikus betina 1,97 ha, sedangkan Tristiani et al. (2003) juga mendapatkan daya jelajah tikus jantan lebih besar dari tikus betina dengan pergerakan tikus 63% berada di daerah pertanaman padi selama musim tanam padi. Tikus memilih sarang terutama pada habitat yang memberikan perlindungan dan aman dari gangguan predator serta dekat dengan sumber pakan dan air.  Sarang tikus berfungsi sebagai tempat berlindung, memelihara anak dan untuk menimbun pakan. Sejalan dengan bertambahnya anggota kelompok tikus di dalam sarang, maka jaringan sarang akan semakin luas. Murakami et al. (1992), melaporkan bahwa pada stadium padi vegetatif, konstruksi sarang masih dangkal, pendek dan belum banyak cabang. Setelah pertumbuhan tanaman padi mencapai stadium generatif, konstruksi sarang tikus menjadi lebih dalam, panjang dan bercabang-cabang serta mempunyai pintu keluar lebih dari satu pintu. Pada kondisi tersebut tikus mempersiapkan diri untuk melahirkan anak-anaknya. Dilapor­kan juga oleh Sudarmaji (1990), bahwa panjang dan volume sarang tikus pada stadium padi generatif dua kali lebih panjang dan lebih besar dibanding pada stadium padi vegetatif. Panjang sarang rata-rata empat meter dan volumenya mencapai 10,3 liter. Hal tersebut karena tikus memerlukan sarang yang lebih longgar dan nyaman untuk membesarkan anak-anaknya. Tingkat hunian sarang tikus bervariasi tergantung kondisi lingkungan dan tidak semua sarang dihuni oleh tikus (aktif). Pada periode kekurangan pakan atau banjir sarang tikus akan ditinggalkan. Hal tersebut terjadi pada saat sawah periode bera, periode pengolahan tanah dan periode tanam. Pada periode tersebut tikus bermigrasi dan akan kembali setelah pertanaman padi berumur dua bulan atau menjelang stadium padi generatif (Sudarmaji dan Herawati, 2001). Rochman (1982), melaporkan bahwa pada pertanaman padi berumur satu bulan, hanya 25% sarang yang dihuni. Pada ekosistem padi sawah, berdasarkan laporan Sudarmaji dan Rochman (1997), diperkirakan terdapat preferensi habitat spesifik tikus sawah. Lam (1983), menemukan bahwa 97% tikus sawah khususnya dari jenis R. argentiventer, membangun sarangnya pada pematang dengan ketinggian 15 cm dan lebar 30 cm atau lebih. Sudarmaji dkk. (2007), mengidentifikasi 5 jenis habitat tikus sawah di ekosistem sawah irigasi dan didapatkan habitat tepi kampung dan tanggul irigasi merupakan habitat yang paling banyak dihuni tikus sawah. Tangkapan tikus sawah paling tinggi berasal dari habitat kampung (35,1%), tanggul irigasi (29,8%), jalan sawah (16,5%), dan tangkapan tikus terendah berasal dari habitat parit sawah dan tengah sawah masing masing-masing 9,6% dan 9,0% (Gambar 3). Habitat kampung merupakan habitat yang menjadi tujuan tikus sawah migrasi pada periode bera, untuk mendapatkan pakan alternatif dan tempat berlindung sementara. Oleh karena itu, tangkapan tikus pada habitat kampung selama periode bera selalu paling tinggi dibandingkan tangkapan pada habitat lain. Tikus sawah di habitat kampung pada umumnya tidak membuat sarang, tetapi berlindung dalam tumpukan jerami atau kayu, kandang ternak dan bahkan rumah penduduk. Sudarmaji dan Herawati (2001), mendapatkan tangkapan tikus yang tinggi pada habitat kampung, tetapi tidak menemukan sarang aktif tikus di habitat tersebut. Keberadaan tikus sawah di habitat kampung pada periode bera, diperkirakan akan mendapat ancaman cukup besar dari pemangsa jenis kucing dan predator lain. Populasi tikus yang dapat bertahan hidup dan kembali ke daerah persawahan lagi diperkirakan jumlahnya akan berkurang. Tanggul irigasi di ekosistem sawah irigasi merupakan habitat penting tikus sawah dan merupakan habitat utama untuk berkembangbiak (Sudarmaji dkk., 2007). Habitat tanggul irigasi dipilih tikus sawah karena apabila terjadi banjir, sarang pada tanggul tersebut tidak terendam air. Pada umumnya tanggul irigasi dibangun dari tanah berukuran lebar 1–2 meter dengan tinggi lebih dari satu meter. Di daerah habitat tanggul irigasi maupun kampung pada umumnya masih tersedia sumber air dan pakan tikus alternatif ketika sawah dalam keadaan bera, sehingga habitat tersebut disebut sebagai habitat perlindungan tikus. 2.3 Habitat Tikus sawah dapat dikenali dengan ciri-ciri morfologinya, yaitu berat badan tikus dewasa antara 100–230 g, panjang kepala-badan antara 70–208 mm,  panjang tungkai belakang 32–39 mm dan panjang telinga 20–22 mm. Ekor biasanya lebih pendek dari panjang kepala-badan. Tubuh bagian dorsal berwarna cokelat dengan bercak hitam pada rambut-rambutnya, sehingga memberi kesan seperti berwarna abu-abu. Daerah tenggorokan, abdominal dan inguinal berwarna putih, dan sisa bagian bawah lainnya putih keperakan atau putih keabu-abuan. Warna permukaan atas kaki sama dengan warna badan dan banyak yang berwarna cokelat gelap pada bagian karpal dan tarsal. Ekor berwarna gelap pada bagian atas dan bawah (Murakami et al., 1992 ; Aplin et al., 2003). Tikus betina mempunyai puting susu berjumlah duabelas buah. Ukuran dan berat badan tikus jantan dan betina tidak terdapat perbedaan yang mencolok. Tikus jantan dewasa lebih mudah dikenali dengan melihat perkembangan testisnya. Anak tikus yang baru dilahirkan berwarna merah, tidak berambut dan belum dapat melihat (Meehan, 1984). Anak tikus yang berumur 7–10 hari, rambut akan tumbuh lengkap dan matanya mulai terbuka sehingga dapat melihat. Pada umur tersebut anak tikus masih disusui oleh induknya di dalam sarang yang berada di dalam tanah. Anak tikus setelah berumur 20 hari, akan disapih oleh induknya untuk hidup mandiri. Apabila kondisi lingkungan cukup baik seperti pakan yang berlimpah, maka anak tikus akan tinggal di dalam sarang bersama induknya lebih lama. Tikus dapat menjadi dewasa dan siap kawin setelah mencapai umur 5–9 minggu. 2.4 Dinamika Populasi Mempelajari dinamika populasi terutama bertujuan mempelajari perubahan ukuran kerapatan populasi pada suatu waktu dan tempat tertentu, serta menjelaskan mekanisme yang mendasari perubahan tersebut (Richards, 1982). Di dalam populasi juga terdapat faktor-faktor yang saling mempengaruhi baik faktor internal maupun eksternal, yang berpengaruh terhadap tingkat kerapatan populasi dari waktu ke waktu. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kerapatan populasi di alam antara lain peningkatan karena adanya kelahiran (natalitas), peningkatan karena masuknya beberapa individu sejenis dari populasi lain (imigrasi), penurunan karena kematian (natalitas), dan penurunan karena keluarnya beberapa individu dari populasi ke populasi lain (emigrasi) (Krebs, 1995). Faktor pakan, tempat berlindung, musuh alami dan kompetisi berpengaruh terhadap ke empat faktor utama penyebab perubahan populasi tersebut. Tikus sawah, seperti binatang hama pada umumnya memiliki tipe strategi r (r-strategist), yaitu mereka dapat berkembangbiak dalam waktu singkat sehingga akan terjadi peningkatan populasi yang sangat pesat atau sering disebut dengan ledakan populasi. Hal tersebut dapat terjadi apabila kondisi lingkungan yang memungkinkan seperti tersedianya pakan yang melimpah, terdapat tempat berlindung dan bersarang yang memadai (Macdonald and Fenn, 1994). Setelah terbentuk populasi dengan tingkat kerapatan yang tinggi, selanjutnya terjadi berkurangnya persediaan pakan, tempat perlindungan, dan kompetisi, sehingga populasi tikus akan turun kembali secara alamiah. Pada daerah agroekosistem sawah irigasi terdapat kecenderungan bahwa populasi tikus dan tingkat kerusakan tanaman padi di Indonesia pada musim kemarau (MK) lebih tinggi dibanding pada musim hujan (MH).  Periode bera MH yang pendek yaitu kurang dari dua bulan, memberi peluang masih cukup tersedianya pakan alternatif di lapangan, dan berpengaruh positif terhadap tingkat hidup tikus sawah. Tikus yang dapat bertahan hidup akan dapat berkembangbiak pada musim tanam MK berikutnya (Sudarmaji dan Baehaki, 1994). Namun demikian di beberapa daerah, lama periode bera MH dan MK hampir sama karena terkait dengan golongan pengairan sehingga populasi tikus pada MK dan MH relatif tidak berbeda. Berdasarkan pemantauan pada lahan sawah seluas 2 ha diketahui bahwa pada saat kerapatan populasi rendah jumlah tikus hanya mencapai 5 ekor sampai 25 ekor/ha dan pada puncak kerapatan populasi dapat mencapai 250–900 ekor/ha. Peningkatan populasi tersebut terjadi sangat cepat dan untuk mencapai puncak kerapatan populasi, hanya dibutuhkan waktu 1,5 hingga 2 bulan (Tristiani dkk., 1992). Wood (1994) melaporkan bahwa, pada tanaman padi di Indonesia puncak populasi tikus sawah terjadi pada satu sampai dua bulan setelah panen dengan populasi lima ekor sampai 25 ekor/ha pada awal tanam, meningkat menjadi lebih dari 700 ekor/ha pada saat panen. Berdasarkan hasil penelitian selama empat tahun di ekosistem sawah irigasi di Karawang, Jawa Barat (Sudarmaji dkk., 2005), diketahui tingkat kerapatan populasi tikus sawah berfluktuasi sangat tajam selama periode musim tanam padi dan bera. Perubahan kepadatan populasi tersebut polanya selalu berulang (repeated pattern) dari musim ke musim dan dari tahun ke tahun (Gambar 4). Terdapat 1 kali puncak populasi dalam 1 kali musim tanam padi, sehingga pada pola tanam padi-padi-bera dalam 1 tahun terdapat 2 kali puncak populasi tikus sawah. Puncak populasi tikus sawah tertinggi terjadi pada periode bera yang merupakan hasil kelahiran tikus pada periode stadium generatif padi. Faktor utama penyebab peningkatan populasi tikus sawah adalah tersedianya pakan padi, sehingga terjadi kelahiran tikus yang cepat (tiga kali kelahiran) pada stadium padi generatif dan menyebabkan peningkatan kerapatan populasi yang tinggi pada periode bera. Pakan padi stadium generatif merupakan pakan tikus yang berkualitas tinggi dan berpengaruh nyata terhadap peningkatan berat badan tikus. Tanpa adanya tanaman padi tikus sawah tidak berkembangbiak dan terjadi kematian (Sudarmaji, 2004). Malai ratun padi merupakan pakan alternatif penting bagi tikus sawah pada periode bera dan memperpanjang periode perkembangbiakan. Penurunan populasi tikus terjadi setelah periode bera bulan kedua, karena migrasi tikus akibat hilangnya pakan padi (panen), terjadinya gangguan habitat tikus karena proses budidaya padi, dan aktivitas pengendalian tikus oleh petani. Curah hujan tidak menyebabkan turunnya populasi tikus sawah. Peran pemangsa tikus relatif kecil dalam regulasi populasi tikus sawah di ekosistem sawah irigasi, karena keberadaan jenis pemangsa tikus sangat jarang ditemukan. Prevalensi infeksi cacing hati pada tikus sawah tinggi, tetapi tidak menyebabkan kematian tikus sawah secara langsung (Sudarmaji, 2004). 3. Komponen Teknologi Pengendalian Pengendalian tikus pada dasarnya adalah upaya menekan tingkat populasi tikus pada tingkat serendah mungkin melalui berbagai cara dan teknologi pengendalian. Teknologi pengendalian yang tersedia sampai saat ini berasal dari hasil penelitian para pakar di bidang hama tikus, dan dari kearifan lokal petani yang telah lama digunakan secara turun temurun. Teknologi yang telah tersedia sampai saat ini sebenarnya telah dapat diandalkan dan efektif untuk pengendalian tikus apabila diterapkan sesuai rekomendasi dengan pelaksanaan secara benar. Efektifitas hasil pengendalian tikus selain ditentukan oleh pemilihan teknologi yang tepat, juga ditentukan oleh ketepatan dalam pemilihan waktu pengendalian, sasaran habitat yang dikendalikan dan kekompakan petani untuk melaksanakan pengendalian tikus secara bersama-sama. Beberapa komponen teknologi pengendalian dan metoda pengendalian yang tersedia sampai saat ini disajikan dalam tulisan ini. 3.1  Sanitasi Lingkungan dan Manipulasi Habitat Sanitasi dan manipulasi habitat bertujuan untuk menjadikan lingkungan sawah menjadi tidak menguntungkan bagi kehidupan dan perkembangbiakan tikus. Kegiatan sanitasi antara lain melakukan pembersihan tanaman perdu atau gulma yang berada di areal pertanaman padi dan sekitarnya, seperti di daerah pematang sawah, tanggul saluran irigasi dan jalan sawah, dengan tujuan agar tikus tidak bersarang di habitat tersebut. Tikus akan tidak nyaman dan takut menghuni daerah yang bersih, terang dan terbuka karena akan mudah dimangsa predator. Tikus sawah pada umumnya menyukai habitat pematang sawah atau tanggul irigasi yang tinggi dan lebar. Pematang sawah dianjurkan dibuat rendah kira-kira tinggi kurang dari 30 cm, agar pematang tersebut tidak digunakan tikus bersarang dan berkembangbiak (Lam, 1993). Sanitasi dan manipulasi habitat akan menyebabkan tikus kehilangan tempat persembunyian dan sumber pakan alternatif terutama pada periode bera, sehingga secara tidak langsung dapat menurunkan populasi tikus di daerah tersebut (Sudarmaji, 2004). 3.2  Kultur Teknis Pengelolaan budi daya tanaman padi dapat menunjang pengendalian tikus apabila dilakukan usaha bersama diantara petani atau kelompok tani dalam suatu hamparan luas atau sekurang-kurangnya tingkat desa. Pengaturan pola tanam bertujuan untuk membatasi ketersedian pakan tikus yaitu padi, guna membatasi perkembangbiakan tikus sawah di lapangan. Tikus sawah hanya akan berkembangbiak pada saat terdapat stadium padi generatif. Pola tanam padi-palawija atau bera setelah menanam padi akan dapat membatasi bahkan meng­hentikan aktifitas reproduksi tikus sawah. Nutrisi dari tanaman palawija diperkirakan kurang cocok bagi metabolisme tikus sawah untuk perkembangbiakannya dibandingkan dengan nutrisi yang tersedia pada padi. Pada pola tanam padi dua kali setahun diikuti masa bera panjang musim kemarau (padi-padi-bera) akan menyebabkan tikus kehilangan sumber pakan pada periode bera dan akan terjadi perpindahan tikus atau migrasi ke tempat lain atau mati karena kekurangan pakan. Pengaturan waktu tanam dilakukan dengan mengatur waktu tanam dan varietas yang sama pada areal yang luas atau hamparan padi. Apabila terpaksa varietas yang digunakan dalam satu hamparan tersebut berbeda, diusahakan agar waktu stadium generatif padi dapat serempak, atau tidak lebih dari dua minggu. Tujuan pengaturan waktu tanam adalah agar periode generatif padi bersamaan waktunya. Apabila periode padi generatif berbeda waktunya, maka tanaman padi yang bunting lebih awal akan mendapat serangan tikus paling berat dan kemungkinan dapat terjadi puso (gagal panen). Pertanaman padi yang tidak serempak akan menghasilkan periode padi generatif yang lebih panjang pada wilayah tersebut, sehingga periode perkembangbiakan tikus sawah juga menjadi lebih panjang. Hal tersebut dapat meningkatkan populasi tikus secara cepat. Oleh karena itu penanaman padi secara serempak pada skala luas dapat membatasi perkembangbiakan tikus dan mencegah konsentrasi serangan tikus pada tanaman padi yang bunting lebih awal. Penanaman padi dengan jarak tanam lebih longgar dari biasanya bertujuan untuk membuat lingkungan yang lebih terbuka sehingga kurang disukai tikus, seperti halnya cara tanam ‘legowo’. Tikus kurang menyukai tempat yang bersih atau terang karena akan merasa terancam oleh musuh alaminya terutama predator. Tipe serangan tikus yang selalu dimulai dari tengah petak sawah dan menyisakan pada daerah dekat pematang adalah ciri khas perilaku tikus yang tidak menyukai kondisi terang. 3.3 Pengendalian Secara Fisik Pengendalian secara fisik yaitu mengubah lingkungan fisik agar menyebabkan kematian tikus. Tikus mempunyai batas toleransi terhadap beberapa faktor fisik seperti suhu, cahaya, air, dan suara. Tujuan pengendalian dengan cara ini adalah mengubah faktor lingkungan fisik menjadi tidak sesuai untuk kehidupan tikus sawah. Sedangkan pengendalian mekanis merupakan usaha untuk membunuh tikus secara langsung oleh manusia. Cara pengendalian ini cukup murah, mudah dan sederhana tetapi biasanya membutuhkan lebih banyak tenaga kerja. Beberapa contoh kegiatan pengendalian secara fisik dengan menggunakan berbagai peralatan adalah sebagai berikut: 3.3.1 Alat penyembur api (brender) Alat tersebut bila digunakan dapat menyemburkan api dan udara panas ke dalam sarang tikus. Suhu di dalam sarang tikus akan meningkat sehingga dapat mengusir tikus dari dalam sarang atau bahkan membunuhnya.  Alat ini juga dapat dipakai untuk membakar belerang di mulut lubang sarang tikus, sehingga hembusan asap belerang akan meracuni tikus dan menyebabkan tikus mati di dalam sarang. 3.3.2 Penggunaan sinar lampu Sinar lampu dapat digunakan sebagai alat untuk membantu dalam kegiatan menangkap tikus pada malam hari. Sinar lampu dengan intensitas tinggi yang mengenai mata tikus dapat menyebabkan tikus menjadi silau dan berhenti beraktifitas sejenak. Pada kondisi tersebut, tikus dapat dengan mudah untuk dipukul atau dibunuh. Petani biasanya menggunakan sinar lampu ini dari obor minyak tanah, lampu petromak atau lampu senter untuk memburu tikus sawah pada malam hari. Kegiatan ini dapat dilakukan karena tikus sawah termasuk binatang yang aktif pada malam hari atau nokturnal. 3.3.3 Memompa air atau lumpur ke dalam sarang tikus Cara tersebut dapat dilakukan untuk mengusir tikus keluar dari sarang sehingga mudah untuk dibunuh atau tikus dapat mati di dalam sarang karena terjebak lumpur. Cara tersebut dapat dilakukan pada habitat-habitat utama tikus seperti tanggul irigasi, jalan sawah dan habitat lainnya. Waktu yang paling tepat untuk pelaksanaan metode ini adalah pada periode bera dan pengolahan tanah bersamaan dengan kegiatan gropyokan massal. Selain itu juga tepat dilakukan pada saat periode padi generatif ketika tikus sawah sedang beranak di dalam sarangnya. 3.3.4 Mengusir tikus dengan suara ultrasonik Penggunaan suara ultrasonik pada frekuensi tertentu dapat memekakkan telinga tikus, sehingga  tikus menghindar ke tempat lain yang lebih aman. Oleh karena itu fungsi penggunaan alat ini hanya untuk mengusir tikus saja. Namun demikian alat yang ada (telah dikomersialkan) sampai saat ini masih sangat terbatas jangkauan frekuensinya dan baru dapat digunakan di dalam ruangan dengan ukuran tertentu. Untuk penggunaan di lapangan terbuka masih belum tersedia peralatannya. Penggunaan alat tersebut pada umumnya dilakukan di dalam gudang penyimpanan bahan pangan untuk mengusir hama tikus. Mengusir tikus dengan bunyi-bunyian juga dapat dilakukan, tetapi jika suara itu telah menjadi suara yang rutin, maka  tikus sudah tidak merasa terganggu lagi. 3.3.5 Gropyokan massal (community actions) Metode gropyokan massal merupakan salah satu cara pengendalian tikus yang murah dan efektif yang biasa dilakukan oleh petani di berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan secara bersama-sama dengan cara membongkar sarang tikus pada habitat utama, memburu, dan membunuh tikus yang ada. Di beberapa daerah hasil gropyokan tikus ini setiap ekor ditukar dengan uang oleh pemerintah daerah, yang besarnya bervariasi antara 500 rupiah hingga 2.500 rupiah per ekor, dan cara ini disebut “bounty system” (Sudarmaji, 2004). Waktu kegiatan gropyokan massal yang tepat adalah menjelang tanam (pengolahan tanah). Pada periode tersebut untuk memburu tikus relatif lebih mudah karena tidak ada pertanaman padi yang dapat digunakan tikus untuk bersembunyi. Penggalian sarang tikus menyebabkan tikus  keluar dari sarang sehingga dapat mudah ditangkap. Di beberapa daerah untuk menangkap tikus dari hasil penggalian ini digunakan  bantuan anjing pemburu yang telah terlatih. Kegiatan gropyokan massal ini telah terbukti dapat menurunkan populasi tikus secara nyata dengan banyaknya tangkapan yang diperoleh dalam suatu kegiatan gropyokan massal. Sebagai contoh kegiatan gropyokan missal yang dilakukan oleh petani di Kecamatan Tirtamulya, Karawang, Jawa Barat pada musim tanam padi 2008 diperoleh total tangkapan 20.710 ekor tikus (Tabel 2). Kegiatan gropyokan ini apabila dilakukan secara massal, luas dan berkelanjutan akan merupakan kunci utama untuk menurunkan populasi tikus secara dini pada awal tanam, dan menentukan keberhasilan pengendalian tikus dalam satu musim tanam padi dari serangan hama tikus sawah. Tabel 2. Hasil tangkapan tikus kegiatan gropyokan massal di Kecamatan Tirtamulya  Karawang, Jawa Barat pada kegiatan MT-I 2008 3.3.6 Pemerangkapan (trapping) Beberapa jenis perangkap dapat digunakan untuk menangkap tikus dalam keadaan hidup dan mati. Jenis perangkap dapat berupa multiple live capture trap atau singgle trap dengan umpan pakan tikus di dalamnya. Umpan dapat digunakan dari jenis biji-bijian dengan pemerangkapan dilakukan pada periode bera dan stadium awal padi vegetatif. Sedangkan pemerangkapan pada periode padi generatif, umpan yang digunakan dari bahan yang mengandung protein tinggi seperti yuyu bakar atau jenis ikan kering lainnya. Pemerangkapan ini biasanya hanya efektif apabila dilakukan pada kondisi lahan sawah tidak banyak tersedia pakan tikus alternatif. Jenis perangkap tikus lainnya adalah snap trap yaitu perangkap yang apabila mengenai sasaran tikus, maka tikus akan terjepit dan mati ditempat. Perangkap model ini banyak digunakan di lokasi perumahan untuk menangkap jenis tikus rumah. 3.3.7 Sistem bubu perangkap linier (linier trap barrier system atau LTBS) Alat ini pertama kali di gunakan pada tahun 1995 di Balai Penelitian Tanaman Padi Sukamandi. Pada awalnya LTBS digunakan untuk menangkap tikus sawah (trapping) untuk sampel tikus hidup guna keperluan penelitian (Leung dan Sudarmaji, 1999), dan pada waktu itu tidak ada metode lain yang efektif untuk menangkap tikus dalam keadaan hidup pada semua stadium padi. Berdasarkan hasil pengujian, LTBS terbukti  efektif dan mudah digunakan untuk menangkap tikus sawah. Oleh karena itu, selanjutnya LTBS direkomendasikan sebagai komponen teknologi utama untuk pengendalian tikus sawah. Linier trap barrier system (LTBS) dirancang untuk menangkap tikus di daerah sarang/habitat tikus, ketika melakukan pergerakan keluar sarang untuk beraktifitas pada malam hari. Linier trap barrier system (LTBS) juga cocok untuk menangkap tikus yang sedang migrasi (melakukan perpindahan secara massal). Alat ini dirancang mudah dipasang dan dibongkar untuk dapat dipindah-pindahkan ke tempat lain yang diperlukan LTBS; terdiri dari pagar plastik, bubu perangkap, penyangga ajir bambu dan tanpa menggunakan tanaman perangkap atau umpan (Gambar 5) (Sudarmaji dan Anggara, 2006). Penggunaan LTBS untuk pengendalian tikus pada daerah dekat habitat sebaiknya dipasang diantara pertanaman padi dan habitat, dimana tikus akan menuju ke arah tanaman padi pada malam hari. Corong masuk bubu perangkap sebaiknya diarahkan ke habitat atau sesuai arah datangnya tikus. Corong bubu juga dapat diarahkan berseling apabila menginginkan tangkapan tikus dari kedua arah. Pemasangan dapat dilakukan selama satu minggu atau sampai tidak ada tangkapan tikus lagi, kemudian dibongkar dan dapat dipindahkan ketempat lain. Pengambilan tangkapan tikus dilakukan setiap pagi hari. Alat ini  juga dapat dipasang untuk mengatasi migrasi tikus terutama pada daerah atau blok yang mempunyai perbedaan waktu tanam atau panen dengan blok lainnya. 3.3.8  Sistem bubu perangkap (trap barrier system atau TBS) Sistem bubu perangkap (TBS) merupakan unit alat untuk menangkap tikus, terdiri dari tiga komponen utama yaitu bubu perangkap tikus yang berfungsi sebagai jebakan dan pengumpul tikus, pagar plastik berfungsi mengarahkan tikus masuk ke dalam bubu perangkap, dan tanaman perangkap berfungsi sebagai penarik (attractant) agar tikus bergerak ke lahan penangkapan TBS (Sudarmaji dkk., 2007). Berdasarkan hasil penelitian, ukuran petak tanaman perangkap sangat menentukan tingkat wilayah tikus tertangkap (halo effect) terhadap pertanaman disekitarnya. Makin besar ukuran petak tanaman perangkap makin besar jumlah tangkapan tikus dan luas halo effect yang ditimbulkannya tetapi juga memerlukan biaya lebih banyak (Singleton et al., 2003). Halo effect adalah luasan pertanaman bebas tikus sebagai pengaruh TBS terhadap perlindungan serangan tikus di sekelilingnya. Hal tersebut dapat terjadi karena tikus disekitar TBS tertarik menuju tanaman perangkap dan terperangkap oleh bubu perangkap. Akibatnya populasi tikus disekitar TBS rendah. Hasil penelitian membuktikan bahwa unit TBS berukuran  50mx50m dapat melindungi tanaman padi disekitarnya seluas 10–15 ha (Singleton et al., 2003). Hasil tersebut juga diperkuat melalui hasil penelitian daya jelajah tikus yang dipantau dengan “radio tracking” untuk melihat pergerakan tikus menuju tanaman perangkap (Brown et al., 2001). Skema TBS disajikan dalam Gambar 6 sebagai berikut. Keunggulan teknologi TBS adalah efektif menangkap tikus dalam jumlah besar dan terus-meneus di daerah endemis tikus serta dapat digunakan sebagai indikator adanya migrasi tikus sawah. TBS dapat menghemat tenaga karena hanya sekali memasang untuk sepanjang musim tanam dan ramah lingkungan karena tanpa menggunakan umpan rodentisida. Singleton et al. (2005),  telah membuktikan keuntungan penggunaan TBS untuk pengendalian tikus di Karawang, Jawa Barat dengan benefit-cost ratio 25:1. Teknologi TBS merupakan teknologi sederhana yang mudah dipahami dan dapat dipraktekkan oleh petani. Hasil penelitian Sudarmaji dan Anggara (2006), menunjukkan bahwa total tangkapan tikus sawah pada 16 TBS yang dipasang selama 4 musim tanam padi mencapai 15.991 ekor. Tangkapan tersebut terdiri dari 7.765 ekor dari hasil tangkapan pada periode MH dan 8.226 ekor dari periode MK (Gambar 7). Tikus yang tertangkap masih dalam keadaan hidup sehingga dapat juga dimanfaatkan untuk keperluan lain, misalnya pakan ikan, itik dan lainnya. Sedangkan kelemahannya adalah memerlukan pemantauan rutin untuk pengambilan tangkapan tikus setiap hari, dan harus tetap mempertahankan kualitas TBS (pagar plastik tidak berlubang). Penempatan tanaman perangkap yang ditanam 21 hari lebih awal dari umur padi disekitarnya dapat menyulitkan petani, serta memerlukan modal awal pembuatan TBS. Konsep penggunaan TBS agar efisien,  pengelolaannya harus dilakukan pada skala kelompok tani. Jenis TBS dengan tanaman perangkap yaitu TBS dengan tanam perangkap tanam awal, tanam akhir, dan pesemaian. Rekomendasi penggunaan TBS dengan tanaman perangkap diprioritaskan untuk diterapkan pada daerah endemik tikus dengan populasi tinggi terutama pada musim kemarau. Pengelolaan TBS sebaiknya dilakukan secara kelompok pada suatu hamparan, baik pemeliharaan maupun pembiayaannya. Teknologi TBS merupakan salah satu komponen teknologi pengendalian tikus yang pelaksanaannya harus dikombinasikan dengan teknologi pengendalian lain. 3.4  Pemanfaatan Musuh Alami Pada ekosistem sawah irigasi, musuh alami tikus sawah jarang ditemukan, sehingga diperkirakan peran musuh alami dalam regulasi populasi tikus sawah pada ekosistem sawah irigasi relatif kecil. Musuh alami tikus diperkirakan banyak terdapat di daerah-daerah sawah yang berbatasan dengan hutan atau di daerah dengan ekosistem yang tidak terganggu oleh manusia. Musuh alami jenis pemangsa tikus sawah pada umumnya berasal dari kelompok burung, mamalia dan reptilia. Pemangsa dari kelompok burung antara lain Tito alba javanica (burung hantu putih), Bubo ketupu (burung hantu cokelat) dan Nyctitorac nyctitorac (burung kowak maling). Pemangsa dari kelompok mamalia yaitu Verricula malaccensis (musang bulan atau rase), Herpestes javanicus (garangan), Felis catus (kucing) dan Canis familiaris (anjing).  Diantara jenis dari kelompok reptilia adalah Ptyas koros (ular tikus), Naja naja (ular kobra), Trimeresurus hagleri (ular hijau), dan Phyton reticulatus (ular sanca) (Priyambodo, 1995). Pemangsa terbaik tikus sawah adalah burung hantu. Hal tersebut disebabkan karena burung hantu mempunyai laju fisiologis yang besar sehingga mampu  mengkonsumsi  tikus  dalam  jumlah  banyak. Pemangsa jenis burung juga mempunyai kemampuan mencari mangsanya lebih baik dibandingkan jenis pemangsa lain. Walaupun demikian, burung hantu memerlukan habitat yang sesuai seperti daerah perkebunan, pegunungan atau perkampungan. Sedangkan pada daerah sawah irigasi yang luas dan terbuka, burung hantu kurang cocok berdomisili di daerah tersebut. Cara yang paling mudah untuk mengoptimalkan peran predator tikus adalah dengan memberikan lingkungan yang cocok dan melindungi predator tikus tersebut. Endoparasit tikus sawah telah diteliti dan ternyata tikus sawah terinfeksi berbagai jenis cacing di dalam organ dalamnya, tetapi tidak dapat menimbulkan kematian secara langsung (Herawati dan Sudarmaji, 2003). Penggunaan patogen  antara lain bakteri salmonella telah dikembangkan sebagai bentuk umpan tikus di beberapa negara. Di Vietnam digunakan jenis rodentisida dengan bahan aktif bakteri salmonella dengan nama BIORAT, tetapi umpan rodentisida tersebut juga membahayakan kesehatan manusia. Di Australia telah dikembangkan metode pemandulan (imunocontracepsi) pada kelinci dan  mencit dengan suatu jenis virus spesifik. Penelitian serupa untuk pengendalian tikus di Indonesia masih dalam tahap identifikasi jenis virus spesifik sebagai agen pemandul pada tikus sawah. 3.5  Pengendalian Kimiawi Pengendalian kimiawi merupakan pengendalian dengan penggunaan bahan-bahan kimia yang dapat membunuh tikus atau dapat menganggu aktivitas tikus, baik aktivitas untuk makan, minum, mencari pasangan maupun reproduksi. Secara umum pengendalian dengan cara kimiawi dibedakan menjadi empat jenis yaitu umpan beracun, bahan fumigasi, bahan kimia repellent dan bahan kimia antifertilitas. 3.5.1  Rodentisida Rodentisida atau umpan racun merupakan teknologi pengendalian yang paling banyak dikenal dan digunakan oleh petani untuk membunuh tikus sawah. Rodentisida yang dipasarkan pada umumnya dalam bentuk siap pakai, atau mencampur sendiri dengan bahan umpan. Rodentisida digolongkan menjadi racun akut dan antikoagulan. Racun akut dapat membunuh tikus langsung ditempat setelah makan umpan, sehingga dapat menyebabkan tikus jera. Sedangkan rodentisida antikoagulan akan menyebabkan tikus mati setelah lima hari memakan umpan dengan dosis yang cukup sehingga tidak menyebabkan jera umpan. Namun demikian jenis rodentisida anticoaglan mempunyai efek sekunder negatif terhadap predator tikus. Keberhasilan pengumpanan rodentisida sangat dipengaruhi oleh waktu pengumpanan, jenis umpan dan penempatannya. Waktu yang tepat untuk pengumpanan adalah ketika dilapangan sudah tidak ada lagi pakan padi (bera) sampai padi vegetatif. Pada periode padi generatif tikus sawah lebih sulit diumpan dengan rodentisida, karena lebih tertarik dengan tanaman padi yang ada. Penggunaan rodentisida untuk pengendalian tikus sebaiknya merupakan alternatif terakhir, karena  sifatnya yang dapat mencemari lingkungan. Teknik aplikasinya harus tepat dan sesuai dosis anjuran agar mendapatkan hasil yang maksimal. 3.5.2 Fumigasi Bahan fumigan yang sering digunakan oleh petani sampai saat ini adalah asap belerang dan karbit. Penggunaan emposan asap belerang merupakan cara pengendalian tikus yang efektif, mudah diaplikasikan dengan biaya murah. Teknik tersebut merupakan teknik untuk membunuh tikus sawah di dalam sarang dan dapat dilakukan kapan saja atau pada periode bera dan saat pertanaman padi. Namun demikian fumigasi dengan cara pengemposan yang paling efektif adalah dilakukan pada saat padi generatif, yaitu ketika tikus sawah sedang beranak di dalam sarang. Teknik tersebut dapat membunuh anak tikus bersama induknya di dalam sarang (Sudarmaji, 2004). Cara fumigasi yang tepat adalah memasukkan cukup asap belerang kedalam lubang sarang tikus, kemudian semua lubang keluar yang ada ditutup dan tidak perlu dilakukan penggalian. Penggalian sarang setelah fumigasi merupakan kegiatan yang tidak efisien karena memerlukan banyak waktu dan tenaga hanya untuk membuktikan bahwa tikus yang difumigasi benar-benar mati. Jenis fumigasi lainnya yang dapat dipakai adalah “tiram”, suatu cara fumigasi menggunakan teknik asap kembang api dengan bahan aktif belerang. Tiram dimasukkan ke dalam sarang tikus dan dinyalakan sumbunya, maka asap belerang akan keluar dan dapat membunuh tikus. Selain itu juga dapat digunakan fumigan untuk hama gudang seperti Phostoxin, Detia dan lainnya. 3.5.3  Repellant Repellent adalah bahan untuk menolak atau membuat tikus tidak nyaman berada di daerah yang dikendalikan. Penggunaan repellent di lapangan untuk mencegah/mengusir tikus sawah masih jarang digunakan, karena hanya bersifat mengusir dan tidak membunuh tikus. Beberapa bahan alami nabati seperti akar wangi diduga mempunyai efek repellent terhadap tikus, namun masih diperlukan penelitian yang lebih intensif. 3.5.4  Antifertilitas Cara pemandulan tikus baik untuk tikus jantan maupun tikus betina dapat digunakan untuk pengendalian tikus. Cara tersebut mempunyai prospek baik karena tikus sawah mempunyai perkembangbiakan yang cepat dan jumlah anak yang banyak dalam setiap kelahiran. Beberapa jenis bahan kimia yang digunakan untuk pemandulan manusia juga dapat digunakan untuk memandulkan tikus sawah. Kesulitan dalam penggunaan bahan antifertilitas dilapangan pada umumnya menyangkut dosis umpan yang dikonsumsi tikus sawah kurang cukup (subdosis) sehingga tikus yang meng­konsumsi bahan antifertilitas tersebut tidak efektif menjadi mandul. Ekstrak minyak biji jarak (Richinus communis) telah diteliti juga dapat digunakan sebagai rodentisida dan anti­fertilitas nabati pada dosis sublethal. Perlakuan dosis sublethal secara oral dapat menurunkan produksi sperma tikus jantan hingga 90% dan kemandulan pada tikus betina. 4. Strategi Pengendalian Pengendalian tikus sawah dilakukan dengan pendekatan yang sangat berbeda dengan pengendalian untuk hama padi lainnya. Pengendalian hama tikus dilakukan dengan pendekatan pengendalian hama tikus terpadu (PHTT) yaitu pengendalian tikus yang di dasarkan pada pemahaman ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Pelaksanaan pengendalian dilakukan oleh petani secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinir dengan cakupan sasaran pengendalian dalam skala luas. Strategi pengendalian tikus sawah terutama harus dilakukan pada saat populasi tikus masih rendah dan mudah pelaksanaannya yaitu pada periode awal tanam, dengan sasaran menurunkan populasi tikus betina dewasa sebelum terjadi perkembangbiakan. Membunuh satu ekor tikus betina dewasa pada awal tanam, setara dengan membunuh 80 ekor tikus setelah terjadi perkembangbiakan pada saat setelah panen (Sudarmaji dkk., 2005). Penurunan tingkat populasi pada awal tanam (dini) adalah sangat penting karena menentukan keberhasilan pengendalian tikus sepanjang musim tanam. Disamping itu pengendalian tikus yang dilakukan ketika tanaman padi telah tinggi (canopinya telah menutup) akan lebih sulit, karena sebagian tikus sudah berada di tengah pertanaman padi. Pada periode bera, tikus berada pada berbagai habitat disekitar persawahan seperti tanggul irigasi, pematang besar, jalan sawah, anak sungai, pinggiran desa dan lain-lain. Oleh karena itu, tindakan pengendalian dini ditujukan pada habitat-habitat tikus tersebut. Pengendalian pada saat bera dan persiapan pengolahan tanah, dapat dilakukan dengan cara gropyokan dan tindakan sanitasi habitat tikus yaitu di tepi kampung, tanggul-tanggul irigasi, pematang besar, jalan sawah, pinggiran anak sungai dan lainnya. Sebaiknya dilakukan usaha mengubah habitat tikus yang ada di lingkungan persawahan menjadi habitat yang tidak disukai tikus sebagai tempat berlindung dan bersarang. Usaha tersebut  merupakan salah satu cara pengendalian tikus yang efektif untuk jangka panjang. Gropyokan dapat dilakukan dengan cara empos-gali, memompa air ke dalam sarang tikus, dan cara-cara lain. Pengumpanan rodentisida hanya direkomen­dasi­kan apabila populasi tikus sangat tinggi untuk menurunkan tingkat populasi segera pada periode sebelum tanam. Pada periode pesemaian, gropyokan massal (berburu tikus) masih harus terus dilakukan. Pemagaran persemaian dengan plastik dan pemasangan bubu perangkap perlu dilakukan. Hal tersebut selain dapat mengamankan pesemaian juga dapat menurunkan populasi tikus di daerah tersebut. Pesemaian sebaiknya dibuat sebagai pesemaian kelompok sehingga akan lebih memudahkan pengelolaan. Menyiapkan dan memasang TBS dengan tanaman perangkap harus sudah direncanakan dan dipersiapkan sejak awal, khususnya penanaman tanaman perangkap. Ketika petani pada hamparan tersebut menyemai padi, tanaman perangkap harus sudah ditanam dan sekaligus memasang pagar plastik serta perangkap bubunya. Persemaian untuk tanaman perangkap harus dipersiapkan lebih awal  yaitu tiga minggu dari waktu semai petani di hamparan tersebut. Sistem perangkap bubu tersebut akan efektif menarik dan memerangkap tikus dari periode pengolahan tanah hingga panen. Tangkapan tikus pada perangkap bubu akan tinggi pada waktu TBS mulai dipasang dan di sekitarnya masih bera/pengolahan tanah serta pada saat tanaman perangkap telah bunting/malai dimana tanaman sekitarnya masih stadium vegetatif. Pengendalian tikus harus mencakup target areal yang luas dengan memperhatikan habitat perlindungan tikus (refuge habitats) pada saat bera di luar daerah persawahan. Habitat tersebut merupakan sumber infestasi tikus sawah pada saat ada pertanaman padi. Sebaiknya dilakukan pemasangan LTBS di daerah tepi kampung untuk menangkap tikus yang akan kembali ke sawah. Mengatur waktu tanam dan panen serempak, mempertahankan adanya periode bera, sanitasi ratun padi dan gulma, merupakan usaha yang perlu dilakukan oleh petani untuk menghambat laju populasi tikus sawah. Pengendalian tikus pada stadium padi generatif sebaiknya ditujukan pada habitat tanggul irigasi yang merupakan habitat utama tempat tikus berkembangbiak. Cara fumigasi merupakan metode pengendali­an yang efektif pada periode perkembangbiakan tikus karena dapat membunuh induk dan anak-anaknya di dalam sarang. Kunci sukses pengendalian hama tikus terpadu adalah adanya partisipasi semua petani dan dilakukan secara berkelanjutan serta terkoordinir dengan baik. Pengendalian tikus yang dilaksanakan secara sendiri-sendiri tidak akan mendapatkan hasil yang efektif. Hal tersebut disebabkan oleh mobilitas tikus sawah yang tinggi, sehingga daerah yang telah dikendalikan akan segera terisi oleh tikus yang berasal dari daerah sekitarnya (ekologi kompensasi). Organisasi pengendalian hama tikus sawah di tingkat desa sebaiknya beranggotakan seluruh petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani dalam suatu hamparan atau tingkat desa. Pelaksanaan pengendalian oleh  kelompok tani tersebut dikoordinir oleh aparat desa setempat (kepala desa) dan digerakkan oleh PPL setempat. Pada tingkat yang lebih tinggi peran camat, bupati atau gubernur sebagai pemegang komando gerakan pengendalian tikus sangat penting dan menentukan.   Sumber oleh :Sudarmaji dan N.A. Herawati 
Ligh Trap : Light trap is a unit to trap insect. It has a function to know the population of insects in agricultural land. Insect is trapped on the light at night. Some traps used for insect are light trap, yellowpan trap, airnet trap, and pitfall. The use of the trap depends on the condition and aim that we want to know. Baehaki (2010) designed light trap which described on picture 1. The main components are light, funnel, plastic bag, and roofed frame. Light (minimal 1000 watt) has function to attract insects at night, while funnel is the enter place for insect.  However, plastic bag is a place for trapped insect, while roped frame has a function to protect light and trapped insects since the day is rainy. The light trap can be used in the rice field. We can put the light trap suitable on the condition of place, because this trap uses light so it needs electricity. One unit of light trap is used for monitoring in 300-500 ha area, while for controlling, it can be used in 50 ha area. Light should be turned on every day at 6 p.m. to 6 a.m. All trapped insects will be observed and counted. This light trap can be used as the detection for immigrant brown plant hopper and stem borer so by this trap, we can know when the immigrant pest attack and when the attack will be on the peak However, the recommendation for seedling time is 15 days after trapped time achieve its peak. To control stem borer, insecticide should be spry after 4 days of the flight time. When the land was managed, the light trap should be used continuously to control the development of pest control, especially brown planthopper and stem borer. Insects that could be trapped are brown planthopper (adult macroperta), stem borer, (Scotinophara coarctata ), Coccinella Sp, Paederus Sp, Ophionea Sp, etc. In the high population, light trap designed by ICRR could trap 376 thousands brown planthoppers/ night/ unit, 12 thousands stem borers/night/unit, and 146 thousand bedbug grounds/night/unit. After the insects were observed, they were destroyed and natural enemies were back to their nature.  (Eko, ICRR) You can call ICRR if you need this light trap. Picture 1. Light Trap Designed by Baehaki (2010) 
You must have Flash Player installed in order to see this player.
Add Site to FavoritesAdd Page to FavoritesShare This PageEmail This PagePrint This PageSave Page as PDF
Back to Top

Statistics

mod_vvisit_counterThis week9374
mod_vvisit_counterThis month32740
mod_vvisit_counterAll Visitor1020218

Online (in 20 minutes ago) : 13
Times : 25-05-2013 17:29

Certification

Copyright 2009 | Indonesian Center For Rice Research
Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, West Java
Telp (0260) 520157, Fax. (0260) 520158
email : bbpadi@litbang.deptan.go.id