banner 3.png
HOT NEWS

ICRR Calendars

Web Links

Image

Thursday, 26 April 2012
Threshing Paddy Using Gebotan (Table Thresher). Threshing Paddy Using Gebotan (Table Tresher) , “Your History Now” To achieve rice surplus target of 10 million tons by 2014, various efforts were conducted. One of the efforts to reduce yield losses was threshing machine “Power Thresher", technology innovation of IAARD. Human demands for food making technology should be developed to solve the problems how to increase agricultural productivity. To make works easier, the existence of traditional tools have been displaced by modern machines and it is happened to table thresher or Gebotan. In the past, threshing tool namely Gebotan was usually used by farmers to thresh paddy grain.Table thresher or Gebotan is a shelf made from bamboo/ wooden with four feet standing on ground. How to thresh grain with using table threser or Gebotan is by slapped the paddy on Gebotan for ± 5 times. In the past, Gebotan was often found when harvesting time came. Farmers slapped the paddies using Gebotan, the activity was called as Ngagebot. However, in line with the development of technology, table thresher is rarely used by farmers and the existence has been changed by a machine called “Thresher”. Nowadays, to thresh paddy grain easier, thresher machine has been introduced to farmers. At the beginning, farmers were introduced to ‘Pedal thresher’. It is a simple threshing machine and operated by human. So what were the advantages of ‘Pedal Thresher’ compared with table thresher? The advantages were this machine could save energies and how to operate this machine was easy. The important point of using threshing machine was this machine could reduce yield loss with the working capacity achieved 75-100 kg per hour and it could be operated by 1 human. Then ‘Pedal Thresher’ was developed to be ‘Power Thresher’. This threshing machine used engine. The work capacity and efficiency of this machine were higher. However, the most important point for using this machine was the effectiveness of this machine to yield loss. Whether table thresher was better than ‘Power Thresher’ for yield loss? Based on the research conducted by Agus Setyono (1993 and 2001), the work capacity for threshing machine was arround 58.8-98.8 kg/jam/human. Meanwhile, table theresher left 6.4% - 8.9% unthreshshed grain. Using threshing machines, the number of unthreshed grain could be reduced. The use of threshing machines produced 99% of threshed paddy grain. The work capacity of machine was various around 523-1,125 kg/hour, depended on the specification. Setyono (1998) argued that threshing machine could reduce the yield loss, improved work capacity, and increased the yield of paddy grain and rice. As explained before, there were several types and models for threshing machines, started from ‘Pedal Thresher’ and ‘Power thresher’. The work capacity of those machines determined the yield loss level. Cylinder rotation speed determined the number of paddy grain yield, yield loss, and unthreshed paddy grain. ‘Pedal thresher’ could rotate 100-150 rpm while ‘Power thresher’ supposed to be 400-450 rpm. To explain the yield loss that was produced using threshing machines, Setyono (2001) tested the impact of cylinder rotation speed on threshing machine TH6-BJ to work capacity and yield loss. It was tested to several rice varieties such as Ciherang, Fatmawati, and brown rice lines. Cylinder Rotation (rpm) Ciherang Fatmawati Brown Rice Lines Work Capacity (kg/hour) Yield loss (%) Work Capacity (kg/hour) Yield loss (%) Work Capacity (kg/hour) Yield loss (%) 400 418.68 3.20 360.99 4.20 450.55 3.10 450 619.57 3.38 398.40 4.10 674.79 3.70 500 718.27 3.26 457.93 4.50 738.37 3.30 550 862.18 4,30 526.63 4.60 962.19 4.10 600 1020.59 4.35 631.93 4.60 1079.46 4.20   This table described the cylinder rotation speed of threshing machines in line with speed of disposal fan for straw and cleaning fan. If cylinder rotation of machine was faster, disposal fan would be rotated faster. The risk for yield loss would be higher because paddy grains could be disposed with straw. The used of threshing machine on the speed of 400-450 rpm caused 3.10-4.20%   yield loss and low capacity. Operating machines on 600 rpm could achieve work capacity for 631.9-1079.5 kg/hour with yield losses were around 4.3-4.6%. In fact, threshing machines could reduce yield loss numbers. However, it did not indicate that the machines did not have the weaknesses. The weaknesses of this machine were the larger capital and maintenance cost than table thresher or Gebotan which was made from a simple material, bamboo. Technology that was created should support the rice productivity improvement, not only focused on the time and energy efficiency. Now, Gebotan is only a history now, the proof of technology development that will develop in line with the development of science.
Image

Wednesday, 28 March 2012
Kebringasan Kumbang Tomcat. KEBRINGASAN KUMBANG TOMCAT, PENGAWAL EKOSISTEM PADI SAWAH DAN SAHABAT PETANI Manusia di era milenium bisa terperangah dan marah dengan kebringasan si kumbang kembara alias TOMCAT yang bernama asli Paederus di awali di kota Surabaya pada Maret 2012 dan merambah kota-kota lainnya di Pulau Jawa. Reaksi alergik (human whiplash dermatitis) akibat serangan racun paederin tomcat diwartakan sepadan dengan serangan jenis penyakit kulit yang berbahaya  bahkan kekuatan racunnya melebihi bias ular kobra. Dinas Kesehatan Jawa Timur bahkan telah membuat surat edaran kepada 38 kabupaten/kota di Jatim untuk menyikapi serangan kumbang tomcat. Patutkah kecemasan berlebihan akan merubah persepsi kita terhadap tomcat yang selama ini dijargonkan sebagai serangga sahabat petani dan pengawal ekosistem padi sawah? Tomcat adalah serangga predator yang efektif memangsa hama wereng daun termasuk wereng batang coklat (Nilaparvata lugens Stal), kutu, dan ngengat kecil. Daya memangsanya 3-5 ekor wereng/hari, kemampuan yang luar biasa sebagai musuh alami hama padi. Kedekatan masyarakat tani dengan tomcat ibarat kedekatan anak-anak pedesaan dengan capung dan kupu-kupu atau ibarat padi dengan air. Berbeda dengan psikologi anak-anak kota yang jauh terangkat dan menjauh dari alam. Halusinasi anak kota membentuk tomcat seperti kehadiran nyamuk, semut, kalajengking yang harus dimatikan. Pola pandang yang mundur jauh ke era saat manusia punya cara pandang keliru terhadap serangga, yakni “Good bug is dead bug”. Sepuluh tahun terakhir penulis senantiasa mencari dan selalu berharap kumbang ini ada di lahan petani karena keberadaannya merupakan salah satu penanda penting kesehatan ekosistem.   Tomcat is Human Hidden Enemy Saat ini persepsi masyarakat terhadap kehadiran kumbang tomcat sudah keliru akibat pemberitaan media massa elektronik dan cetak yang salah. Kumbang dengan tampilan kombinasi warna mencolok ini bukan seperti semut atau kalajengking yang menggigit atau menusuk kulit manusia. Tomcat bukanlah kumbang monster yang menyeramkan dan tidak punya daya bunuh pada manusia. Apabila pembiaran ini tidak segera diluruskan, masyarakat akan menganggap serangga sahabat petani ini menjelma sebagai musuh tersembunyi (hidden enemy) atau (silent enemy) dan perlu segera diberantas. Fakta di mass media dalam sepekan ini sudah mempertontonkan kumbang tomcat dianggap musuh berbahaya dan telah menyerang di banyak kota di Pulau Jawa. Begitu naifkah kita, sehingga Dinkes Jatim harus mengajukan ijin kepada Kementerian Kesehatan untuk menggunakan insektisida menanggulangi kumbang tomcat? Cara pandang parsial dan linier ini amat berbahaya bagi ekologi dan bertentangan dengan kebijakan dunia termasuk Indonesia untuk ikut mewujudkan lingkungan yang sehat bagi manusia dan mahluk hidup lainnya. Kumbang tomcat sudah ada di semua daerah di Indonesia dan menjadi salah satu pengawal ekosistem padi sawah bersama-sama dengan laba-laba, capung dan kumbang kubah. Semuanya adalah andalan untuk pertanian organik dan menjadi pilar utama kebijakan nasional program pengendalian hama secara terpadu (PHT). Perlu ditegaskan bahwa kumbang tomcat yang dilaporkan merambah ke beberapa kota lain bukanlah kumbang yang bermigrasi atau berpindah dari kota Surabaya.   Paederin Racun Potensial Paederin (C24H43O9N) adalah racun potensial yang dikandung oleh darah (hemolymph) serangga genus Paederus, yang apabila terjadi kontak dengan kulit manusia akan menyebabkan gejala alergi berupa luka nekrotik yang disebut dermatitis linearis atau DL dan juga dapat menyebabkan gangguan penglihatan (konjungtivitis) pada mata terutama di daerah beriklim tropis. Paederin adalah senyawa yang erat kaitannya dengan mikroorganisme simbion (bakteri) yang hidup dalam darah kumbang tomcat. Salah satu gejala yang muncul juga disebut dengan istilah “kissing lesions”. Gejala alergik akibat paederin muncul kebanyakan di bagian tangan dan leher, muncul 24 jam kemudian tergantung pada daerah kontak dan jumlah racun paederin. Luka seperti melepuh akan muncul 10-12 hari kemudian dapat lebih dari satu tempat. DL adalah salah satu model iritasi kulit akibat serangga dengan gambaran histopatologi berupa permukaan dan di bawah permukaan kulit melepuh, luka nekrotik pada kulit dan acantolisis. Acantolisis kemungkinan adalah akibat dikeluarkannya enzim protease permukaan kulit. Pasca bencana banjir di Mesir pada tahun 1994, kumbang tomcat menyerang lebih dari 40 pabrik dan sebagian besar harus mendapat perawatan di rumah sakit dan belum ada sedikitpun pengetahuan tentang paederin. Pengujian racun paederin pada tikus albino menyatakan bahwa perlu kewaspadaan karena reaksi alergik yang diakibatkan tidak mematikan. Gejala DL sudah dilaporkan di Iran, Irak, India, dan Italia. Di India kebanyakan korbannya adalah murid yang bermukin pada radius 1 km dari lahan sawah. Di Brasil DL yang tergolong penyakit zoodermatosis selama musim hujan. DL juga menyerang tentara Amerika yang ditugaskan di Irak dan yang terserang adalah tentara yang bertugas jaga di luar tenda di dekat lampu. Pengobatan dengan potassium permanganate dengan Kalamin efektif mengobati gejala alergik akibat racun paederin karena mampu menekan aksi sitotoksik paederin dibandingkan dengan larutan antiseptik. Pengertian yang keliru tentang paederin akan menyebabkan kesalahan dalam pemilihan obat atau penawarnya.   Penulis: Dr. Ir. Yuliantoro Baliadi, MS Peneliti Hama Badan Litbang Pertanian Email:yuliantorobaliadi@yahoo.co.id
Image

Tuesday, 21 February 2012
Inpari 13 Harvest by President Susilo Bambang Yudhoyono in Sragen. President of Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), and First lady, Ani Yudhoyono, harvested Inpari 13 variety on last Friday, 17 February 2012, in Sragen, Central Java. This event was attended also by Minister of Agriculture, Minister of State Secretary, Minister of Trade, Minister for Tourism, and Minister of Youth and Sport. The varieties which were planted in this village including Inpari 13, Inpari 10, Situ Bagendit, Ciherang, dan IR64. Generally, the plant was in good condition, but the neck blast with the low intensity (2%) and stem borer (2%) were still found. In central Java, it was reported that the area of Inpari 13 reached 5%. Meanwhile, the area of Inpari 13 in Bener village was around 260 ha with the yield ranged 8-9 t/ha. In his speech, President SBY stated that the average of national rice yield has achieved 5.1 t/ha. The yield is expected to reach 8 t/ha in the next year. The President suggested to head local government which achieved rice surplus could maintain and increase the productivity continuously. Meanwhile, the districts which still had a deficit rice supply were expected to follow other district that had already succeeded in rice surplus. The President argued that new pests might be found due to climate change. However the government has continuously developed technology to cope the problem due to climate change. Minister of Agriculture added that the quick report from farmer was the key factor to control pest and diseases.
Image

Wednesday, 02 May 2012
Asymmetric Wide-Space Planting System (Legowo). Asymmetric Wide-Space Planting System (Legowo) Asymmetric wide space planting system (Legowo) is a technique for planting paddy plant with applying several rows of plants which will be interspersed with a blank line. Paddy plants that supposed to be planted on empty rows should be moved as insertion plants in the rows. At the beginning, Legowo was usually applied for the districts that were attacked frequently by pest and diseases. Shallow trenches could be made on the blank line between the units of Legowo. Trenches could be used to collect gold snails, to reduce iron toxicity on rice, or to keep small fish. Due to population increase and optimization of growing space for plants, then this cropping pattern system could be developed in order to give the higher yield. Legowo planting system in the direction of the outer row of plants gave more space for growing and higher population at the same time. This planting system could give a good air circulation and use optimal sunlight for plant. In addition, this cropping pattern made the control of weeds and fertilizing more easily. The different practice of Legowo in the field required a manual to explain how to apply Legowo planting system correctly, starting from planting until to take a crop cut. Why should apply Legowo Planting system Rice is the main food source for Indonesia. Generally, rice farming activities included nursery, land preparation, transplanting or planting seeds, fertilizing, maintaining (watering, weeding, and controlling pest and disease) and harvesting.Nowadays, many rice cultivation technologies were introduced. They were direct seedling (Tabela), minimum and, or asymmetric wide space planting system (Legowo). The introduction and application of these planting systems were conducted to get the optimum plant growth and also to increase the yield and farmer’s income. Generally, rice varieties planted on narrow space will reduce the growth quality, such as: fewer tiller and panicle, shorter panicle length, the decrease of grain numbers per panicle, if comparing with planted in wider space. The facts on the fields showed that the performance of rice plants that was planted on the wider space was better than planting on the narrow space. With applying planting space (50x50) cm, 9-Elo Inpari varieties could produce more than 50 tillers / clump with a high vegetative vigor, especially if soil had enough soil and nutrients. In contrast, with planting on a narrow space (20x20) cm, it only produced <20 tillers/ clump. Some possibilities that could make low productivity due to apply narrow space as follows: (a) Generally, the rice varieties will not grow optimally if it only received low light due to the competition between plants on the narrow space.  (b) the occurrence of particular nutrient scarcity, especially N, P, and K due to narrow space and intensive roots made the decrease of the nutrient intensively.  (c) the attack of local endemic disease due to micro climatic-condition are beneficial for the development of disease in narrow space. Legowo on the outer row gave more space and higher population. With applying this planting system, it could give a good air circulation and enough sunlight for planting. In addition, controlling weeds and fertilizing could be done more easily. However, the application of Legowo planting system was still diverse in every field. Probably, it was caused of the understanding about Legowo planting system was still various though they had a similar basic concept. Hence, textbook how to apply Legowo planting system is required to make the application of planting system easier in the field and could follow the basic concept of Legowo.\ The Meaning of Asymmetric Wide-Space Planting System (Legowo) Legowo planting system is planting pattern which crossed one or more planting lines (usually two or four) with one blank line.  The term Legowo was derived from Javanese, “Lego” means large and “Dowo” means length. Legowo could be difined also as rice cropping technique which had some lines crossed with one blank line. Lines of plant (one or more) and blank line (half –width on the right and left) are called the unit of Legowo. If there are two lines of plant per unit Legowo, so it could be called Legowo 2:1, while if there are four lines of plant per unit Legowo is called 4:1, etc. At the beginning, generally Legowo was applied in the area that suffered the attacks of pest and diseases, or probably the areal contained iron toxicity. Spacing of the two marginal rows on each unit legowo was closer than the lines in the middle (the space was half of the middle lines) in order to compensate plant populations in the blank line. On the blank line between the units of Legowo, we could make shallow trenches. Trenches could be used to collect gold snails, to reduce iron toxicity on rice, or to keep small fish. Then Legowo planting system was developed to obtain higher yield than symmetric planting system (Tegel) with increasing population. In addition, this planting system could control the pest, disease, and weed easily and applied the fertilizer easier.   In the application of this planting system,  the soil fertility level of planting areal should be considered. If the areal is classified into fertile soil, it is suggested to apply isertion planting system only on the left and right side areal. It aims to reduce the lodge of plant due to the nutrient absorption. Whereas in less fertile soil, the plants are inserted to the rows (4:1 legowo type 2). Currently, Legowo planting system has already been adopted by many farmers in Indonesia. Many farmers obtained the benefits and advantages of this planting system. With applying Legowo planting system, plant population could be increased in order to improve the grain yield.

Friday, 13 April 2012
The Tour of Duty: The Head Division of Collaboration and Research Dissemination. The Tour of Duty: The Head Division of Collaboration and Research Dissemination On 12 April 2012, ICRR conducted the tour of duty for the head division of Collaboration and Reseach Dissemination from Ir. Putu Wrdana M. Sc.  to Dr. Priatna Sasmita. This event was attended by the director of ICRR, Dr. Made Jana Mejaya, echelon III and IV, the head division of researcher, and ICRR workers. In his speech, Dr. Made Jana Mejaya expressed his gratitude and appreciation to Ir. Putu Wardana M. Sc for his works. The director of ICRR also said that position was only a mandate that should be conducted properly and responsibly. Therefore, the work and interaction between each part was improved very well during the work of Ir. Putu Wardana M. Sc for these 3 years. It indicated that he established the mandate properly. Moreover, since he occupied as the head division of Collaboration and Research Dissemination, many achievements were received such as Open House, Technology Exhibition in several provinces, winning the first position for website competition, etc. To the new head division (Dr. Priatna Sasmita), the directore of ICRR reminded that the jobs were waiting to be handled. Furthermore, the new head division should work, consolidate, and reach more achievements immediately.

Wednesday, 28 March 2012
Tomcat : "Kota Mengepung Desa ".   TOMACAT : “Kota Mengepung Desa” Modernisasi mengakibatkan semakin tidak ada jarak pemisah antara desa dan kota. Jaman kuda gigit besi bercirikan desa mengepung kota telah berubah menjadi daerah pedesaan bercirikan lahan sawah dikepung oleh perkotaan yang bernuansa penuh lampu dan cahaya gemerlap. Sawah adalah habitat asli dan daerah pengembaraan serta pemangsaan kumbang tomcat. Dalam ranah ekologi terdapat fatwa “tanpa kehadiran manusia di lingkungan, tidak dikenal adanya hama” artinya di alam hanya dikenal istilah rantai makanan dan energi dan di dalamnya terdapat strata serangga herbifora, karnifora tingkat I, II, dan detrifor. Ego manusia menempatkan serangga herbifora sebagai kompetitor dan dijuluki sebagai serangga hama dan apakah ego manusia akan berlebihan terhadap kumbang tomcat dan menjadikannya sebagai musuh baru dengan menyampingkan perannya sebagai musuh alami hama-hama padi. Habitat kumbang tomcat terganggu akibat perubahan peruntukan lahan pertanian adalah salah satu jawaban kehadirannya dipemukiman manusia, demikian jawaban Prof. Aunu Rauf pakar serangga IPB Bogor. Kearifan manusia seharusnya dapat sadar dan menerima kehadirannya akibat gemerlap lampu dan cahaya di sekitar habitat kumbang tomcat. Pemunculan mereka juga berbarengan dengan berakhirnya kegiatan musim panen padi dan siklus biologi kumbang yang meningkat di akhir musim hujan mendorong kumbang dewasa bergerak/berpindah ke tempat lain. Sebagai kumbang yang tergolong mengembara sangat menyukai cahaya di pemukiman warga di sekitar habitatnya. Anomali migrasi kumbang tomcat belum pernah dilaporkan sebelumnya di Indonesia. Hal serupa juga terjadi pada kasus ulat bulu yang menyerang pohon mangga di Kabupaten Probolinggo tahun 2011, serangga Arctornis sub marginata yang sebelumnya adalah hama daun teh berpindah dan menyerang daun pohon mangga. Anomali ledakan populasi serangga (insect out break) di Probolinggo juga terjadi pada serangga kutu kebul (Bemisia tabaci) vektor penular penyakit virus di tembakau dan kacang-kacangan yang merebak di Pulau Jawa. Perubahan iklim yang ekstrim akibat pemanasan global tampak pada perbedaan ekstrim data  muncul iklim sejak tahun 2003-2011 yang dicatat di stasiun klimatologi Kebun Percobaan Muneng Probolinggo. Jati Diri Kumbang Tomcat? Masyarakat tidak perlu takut dengan kumbang tomcat karena serangga ini tidak menggigit atau menyengat manusia. Kumbang tomcat bukanlah musuh manusia. Kumbang tomcat sesungguhnya adalah serangga dengan bentuk tubuh dan warna yang mencolok,  berukuran 7-8 mm, elitra warna hijau metalik sangat pendek hanya menutupi bagian tengah tubuh. Tubuhnya sendiri berwarna coklat oranye, bagian ujung perut dan kepala berwarna hitam. Berbeda dengan kebanyakan jenis di kelompoknya, kumbang tomcat sangat aktif disiang hari. Di malam hari kumbang ini juga aktif berlarian naik dan turun di daun padi untuk menemukan mangsanya. Yang bertindak sebagai predator adalah stadia dewasa dan larva (2 instar larva). Mangsa yang disukai adalah wereng, telur dan ngengat kecil. Mangsa kumbang tomcat berlimpah di ekosistem padi sawah dan populasi seringkali meningkat dan ada kecenderungan untuk berpindah/menyebar untuk mempertahankan kelangsungan keturunannya (species maintenance/life survival strategy). Pada saat panen padi dengan kondisi lahan basah atau tergenang (moist micro habitats) kumbang tomcat mudah dijumpai di rumpun tunggul-tunggul padi dan mudah ditandai oleh warna dan bentuk tubuh yang khas serta mobilitasnya yang tinggi di habitatnya. Tomcat adalah Sinyal Perlawanan Alam Kementerian Pertanian diharapkan segera meluruskan kekeliruan ini. Teknologi budidaya pendukung untuk pencapaian surplus beras 10 juta ton di tahun 2014 satu-satunya adalah Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang di dalamnya menyatakan bahwa pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) adalah menggunakan pendekatan PHT. Sinyal perlawanan alam terhadap kebijakan pertanian yang keliru perlu disikapi dengan arif. “Use pesticide wisely not widely” pada PHT perlu dukungan dan komitmen pemerintah. Kesalahan dalam penanganan kumbang tomcat jangan mengulangi kesalahan kasus ulat bulu pohon manga di bulan April-Mei 2011 dan ujung-ujungnya memunculkan wacana PHT di persimpangan jalan (Pest management at the crossroads) dan kebenarannya diragukan. Kumbang tomcat bukanlah musuh manusia. Kehadirannya di pemukiman manusia adalah akibat terusiknya habitat alami akibat perubahan peruntukan lahan pertanian ke non pertanian, kebijakan bercocok tanam modern yang sarat dengan input kimia dengan meninggalkan kearifan-kearifan local sebagai dampak ego manusia yang mengagungkan “green revolution” dan begitu yakin bahwa kelangsungan kecukupan pangan cukup dengan kawalan pestisida dan pupuk kimia. Kasus di Surabaya dan kota-kota sekitarnya adalah lebih banyak akibat ketertarikan kumbang tomcat dewasa pada modifikasi lingkungan ciptaan manusia berupa cahaya lampu dan sebagai dampak fenomena “kota mengepung desa”. Gejala alergik DL akibat racun paederin kumbang tomcat dapat selalu muncul di daerah tropis termasuk Indonesia. Tomcat adalah bagian dari alam dan berhak hidup berdampingan dan telah lama dielukan sebagai sahabat petani. Walaupun bukan penyakit alergik mematikan, perlu kewaspadaan dan sosialisasi menyeluruh mengenai gejala klinis untuk mencegah kekeliruan diagnosis. Kajian mendalam tentang aspek epidemiologi dan klinis DL diperlukan sebagai upaya pencegahan dini. Kumbang tomcat aktif setelah matahari terbenam hingga tengah malam, menyukai cahaya lampu sehingga sebagian besar korbannya adalah yang beraktivitas atau berada di dekat cahaya lampu. Modifikasi posisi dan mengurangi sinar lampu di malam hari adalah upaya pencegahan yang efektif untuk menolak kedatangan kumbang tomcat. Merebaknya serangan kumbang tomcat bersifat sementara, karena perpindahannya ke pemukiman manusia secara tidak langsung adalah pilihan strategi keliru karena menyimpang dari pola-pola strategi bertahannya. Keberlangsungan hidupnya lebih bergantung pada mangsa serangga yang berada di habitat sawah sehingga migrasinya ke pemukiman manusia akan memutus siklus hidup kumbang tomcat itu sendiri. Sebagai serangga predator laju kecepatan berbiak bergantung pada mangsa serangga bukan pada kulit manusia. Kumbang tomcat adalah serangga dengan tipe strategi-k yang kelangsungan hidupnya dan kelestarian jenisnya (species maintenance) selaras dengan ketersediaan mangsa. Hikmah yang diperoleh dengan kehadiran kumbang tomcat di kehidupan manusia adalah menyentil manusia untuk waspada bahwa anomali-anomali lain yang mungkin lebih dasyat dapat muncul apabila tidak segera menyadari bahwa selama ini manusia telah bertindak tidak adil pada alam dan telah mengarah pada tindakan kejahatan terhadap alam (natural crimes). Hikmah lainnya adalah pada kebaharuan ilmu pengetahuan, racun paederin dapat dimanfaatkan dalam beragam bentuk namun yang pasti ilmuwan Indonesia diberi peluang oleh kumbang tomcat untuk segera memformulasi antibodi racun paederin sebagai penawar bagi manusia modern yang tidak mungkin menghindar kehadiran dan hidup berdampingan dengan kumbang tomcat.   Penulis: Dr. Ir. Yuliantoro Baliadi, MS Peneliti Hama Badan Litbang Pertanian Email:yuliantorobaliadi@yahoo.co.id

Thursday, 03 May 2012
Evaluasi Keragaan Hasil Galur-galur Padi Generasi Menengah Pada Dua Musim Tanam. EVALUASI KERAGAAN HASIL GALUR-GALUR PADI GENERASI MENENGAH PADA DUA MUSIM TANAM Trias Sitaresmi dan Bambang Suprihatno Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Jalan Raya 9, Sukamandi, Subang, Jawa Barat 41256 Telp.: (0260) 520157; Fax:. (0260) 520158; E-mail: sitares_trias@yahoo.com   ABSTRACT Evaluation of performance of mid-generation rice lines during two cropping season. The objective of this research to evaluate the yield respons of mid generation selected lines from pedigree nursery on different growing conditions. The trials were conducted in the wet and dry season of the year of 2009 at the Klaten areas. One hundred forty rice advanced lines were planted as observational yield trilas using augmented of RCB design. The result showed that 10 lines out of 140 were yielded more than the high yielder check cultivars both in wet season and dry season. Those lines are BP4122-2f-4-3-5*B (6,91 t/ha), BP4112-4f-Kn-14-3-4*B (5,97 t/ha), BP4116-4f-Kn-10-2-4*B (6,10 t/ha), BP4740-4f-Kn-4-1-3*B (5,74 t/ha), BP4988-5f-7-3-2*B (5,92 t/ha), BP5850-1f-20-1-2*B (6,60 t/ha), BP5166f-Kn-5-2-2*B (6,33 t/ha), BP5438-1e-Kn-11-2-2*B (5,79 t/ha), BP5438-2e-Kn-7-3-2*B (6,10 t/ha), BP5438-2e-Kn-12-2-2*B (5,73 t/ha). The t test analyses on differences between the mean yield of the best ten genotypes obtained from wet and dry season, respectively, indicated that no significantly different on the yield respons obtained from the both of the dry and wet cropping seasons. Key words: Observational yield trial, lines, rice. ABSTRAK Penelitian bertujuan mengevaluasi respon galur-galur yang terpilih dari pertanaman pedigree terhadap kondisi lingkungan musim hujan dan musim kemarau. Penelitian dilaksanakan selama 2 musim tanam, yaitu pada bulan Februari–Mei 2009 (musim hujan) dan bulan Juni–Oktober 2009 (musim kemarau) di Desa Tlobong, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten. Pertanaman observasi mengevaluasi 140 galur dan lima varietas pembanding (Ciherang, Silugonggo, Dodokan, Ciliwung, dan IR64) yang ditata dalam rancangan Augmented. Hasil percobaan menunjukkan bahwa dari 140 galur yang diuji, hanya 10 galur yang memiliki hasil GKG 5,73 t/ha, yaitu BP4122-2f-4-3-5*B (6,91 t/ha), BP4112-4f-Kn-14-3-4*B (5,97 t/ha), BP4116-4f-Kn-10-2-4*B (6,10 t/ha), BP4740-4f-Kn-4-1-3*B (5,74 t/ha), BP4988-5f-7-3-2*B (5,92 t/ha), BP5850-1f-20-1-2*B (6,60 t/ha), BP5166f-Kn-5-2-2*B (6,33 t/ha), BP5438-1e-Kn-11-2-2*B (5,79 t/ha), BP5438-2e-Kn-7-3-2*B (6,10 t/ha), BP5438-2e-Kn-12-2-2*B (5,73 t/ha). Beda rata hasil kesepuluh galur dari pertanaman MK dan MH tidak berbeda nyata berdasarkan statistik uji T. Hal ini mengindikasikan bahwa produktivitas galur-galur tersebut  pada dua musim tanam stabil. Kata kunci: Observasi, galur, padi. PENDAHULUAN Materi pemuliaan hasil hibridisasi memiliki tingkat variabilitas genetik terluas pada generasi F2. Oleh karena itu, seleksi untuk karakter-karakter tertentu biasa dilakukan mulai generasi tersebut. Secara umum karakteristik tanaman dibagi menjadi karakter kualitatif dan karakter kuantitatif. Karakter kualitatif seperti halnya ketahanan terhadap hama dan penyakit dapat diseleksi pada generasi awal dan akan efektif bila menggunakan metoda pedigree. Di lain pihak karakter kuantitatif seperti halnya hasil gabah per satuan luas, biasanya diseleksi pada generasi lanjut, dan efektif diseleksi dengan metoda bulk atau rekuren (Allard 1967). Hasil penelitian Mendel (Allard 1967) menunjukkan bahwa setiap karakter dikendalikan oleh dua pasang alel pembawa sifat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Seleksi sifat-sifat tersebut dari generasi ke generasi akan mengakibatkan naiknya frekuensi genotipe dari fenotipe yang diinginkan. Sedangkan penyerbukan sendiri yang menyertai penanaman dari generasi ke generasi akan meningkatkan homosigositas dan fiksasi gen pengendali karakter yang menjadi target seleksi sehingga penampilan tanaman untuk karakter termaksud lebih mantap dan lebih seragam. Famili-famili yang terseleksi dari pertanaman pedigree dan bulk dievaluasi kemantapan penampilannya pada pertanaman observasi. Galur-galur yang ada pada pertanaman observasi merupakan galur-galur yang penampilannya seragam, dan responnya terhadap cekaman biotik dan abiotik telah konsisten (Allard 1967). Variasi kondisi lingkungan sawah beririgasi, tergantung pada jenis tanah, cuaca, dan keberadaan hama atau penyakit tanaman. Secara simultan semua faktor tersebut membentuk kondisi lingkungan makro yang dapat menyebabkan munculnya fenomena interaksi genotipe dengan lingkungan, yang pada dasarnya adalah kegagalan dari suatu genotipe untuk berpenampilan relatif sama pada berbagai lingkungan tumbuh (Fehr 1987). Keberadaan interaksi genotipe dengan lingkungan (G x E) sering menyulitkan pemulia dalam memilih genotipe unggul yang akan dimanfaatkan lebih lanjut ( Allard dan Bradshaw 1964). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi hasil galur-galur padi sawah generasi menengah hasil seleksi dari pertanaman bulk dan pedigree yang lebih tinggi produktivitasnya dari varietas unggul yang telah banyak dimanfaatkan petani.     BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari–Mei 2009 (MH), dan Juni–Oktober 2009 (MK) di Desa Tlobong, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten pada. Materi pemuliaan yang dianalisis pada penelitian ini sebanyak 140 galur yang terpilih dari pertanaman pedigree musim tanam sebelumnya. Pertanaman ditata dengan rancangan augmented dalam rancangan acak kelompok empat blok. Pada masing-masing blok ditanam varietas Ciherang, IR64, Ciliwung, Dodokan, dan Silugonggo sebagai varietas pembanding. Bibit berumur 21 HSS ditanam pada petak percobaan berukuran 1 m x 5 m dengan menggunakan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Pertanaman dipupuk urea dan Phonska dengan takaran masing-masing 100 dan 300 kg/ha. Aplikasi pupuk dilakukan tiga kali, yaitu pemupukan pertama pada saat tanam 300 kg/ha Phonska, pemupukan kedua pada 3 MST (50 kg/ha urea), dan pemupukan ketiga pada 6 MST (50 kg/ha urea). Penyiangan dilakukan secara intensif sesuai dengan kultur teknik anjuran. Pemberantasan hama dan penyakit tidak dilakukan, kecuali untuk hama tikus yang dilakukan dengan cara trap barrier system. Data dianalisis dengan menggunakan software Crop Stat Versi 7.0. Perbedaan hasil gabah kering giling (GKG) galur-galur yang diuji terhadap varietas pembanding diuji dengan LSD 5%. Sedangkan untuk mengetahui apakah perbedaan musim tanam menyebabkan perbedaan hasil galur-galur yang diuji, maka rata-rata hasil dari galur-galur terbaik pada musim hujan dan musim kemarau dianalisis dengan uji t, dengan rumus sebagai berikut (Snedecor dan Cochran 1967):     HASIL DAN PEMBAHASAN Musim Hujan Hasil gabah kering giling (GKG) galur-galur yang diuji pada musim hujan mempunyai keragaman cukup besar, yaitu berkisar antara 1,16–6,92 t/ha. Varietas pembanding yang memberikan hasil GKG tertinggi adalah IR64 (5,97 t/ha). Oleh sebab itu, varietas ini dijadikan sebagai pengukur potensi hasil galur-galur yang diuji. Dari 140 galur yang diuji, sebanyak 104 galur memiliki hasil GKG tidak berbeda nyata dengan varietas IR64. Meskipun demikian, 26 galur diantara 104 galur tersebut menghasilkan GKG setara dengan IR64, dan tujuh diantaranya memiliki produktivitas di atas 6,5 t/ha, yaitu BP4112-4f-Kn-6-5*B (6,92 t/ha), BP4110-1d-28-2-3-6*B (6,86 t/ha), BP5170f-Kn-13-3-2*B (6,83 t/ha), BP5166f-Kn-5-2-2*B (6,76 t/ha), BP4312f-4-2-5*B (6,73 t/ha), BP4122-2f-4-3-5*B (6,57 t/ha), dan BP4320f-Kn-12-3-4*B (6,52 t/ha). Tabel 1. Galur-galur pada pertanaman observasi yang menghasilkan GKG setara dengan IR64, Klaten, MH 2009 No. Kombinasi persilangan Hasil GKG (t/ha) No. Kombinasi persilangan Hasil GKG (t/ha) 1. BP4112-4f-Kn-6-5*B 6,92 17. BP5176f-Kn-18-1-2*B 6,16 2. BP4110-1d-28-2-3-6*B 6,86 18. BP4746-5f-Kn-2-2-3*B 6,14 3. BP5170f-Kn-13-3-2*B 6,83 19. BP5438-2e-Kn-12-2-2*B 6,13 4. BP5166f-Kn-5-2-2*B 6,76 20. BP4112-4f-Kn-14-3-4*B 6,08 5. BP4312f-4-2-5*B 6,73 21. BP4740-4f-Kn-4-1-3*B 6,06 6. BP4122-2f-4-3-5*B 6,57 22. BP5090-2f-8-2-2*B 6,05 7. BP4320f-Kn-12-3-4*B 6,52 23. BP4988-5f-7-3-2*B 6,04 8. BP5438-2e-Kn-7-3-2*B 6,49 24. BP5438-1e-Kn-11-2-2*B 6,01 9. BP4716-2f-Kn-25-3-3*B 6,40 25. BP5166f-Kn-7-2-2*B 5,99 10. BP4116-4f-Kn-10-2-4*B 6,33 26. BP4988-5f-4-3-2*B 5,98 11. BP5438-2e-Kn-6-1-2*B 6,24 27. Ciherang 4,53 12. BP5850-1f-20-1-2*B 6,23 28. Silunggonggo 3,32 13. BP4232-2f-4-1-1*B-2-2*B 6,21 29. Dodokan 2,76 14. BP4132-7f-Kn-13-1-4*B 6,19 30. Ciliwung 4,40 15. BP4636-1f-14-3-4*B 6,19 31. IR64 5,97 16. BP5174f-Kn-3-1-2*B 6,17 LSD 5% 1,62     Musim Kemarau Keragaan hasil GKG galur-galur yang diuji pada musim kemarau relatif sama dengan musim sebelumnya, yaitu berkisar antara 1,82–7,26 t/ha. Varietas pembanding terbaik adalah Ciherang (5,16 t/ha). Sebanyak 14 galur menunjukkan hasil GKG berbeda nyata lebih tinggi dari Ciherang, yaitu: BP3034e-6-8*B (6,04 t/ha), BP4122-2f-4-3-5*B (6,08 t/ha), BP4188-7f-1-2-5*B (6,15 t/ha), BP4920f-4-1-3-3*B (6,24 t/ha), BP4112-5f-Kn-1-2-1-3*B (6,24 t/ha), BP4708-4f-Kn-24-2-3*B (6,28 t/ha), BP4724-1f-Kn-17-1-3*B (6,38 t/ha), BP4738-5f-Kn-5-2-3*B (6,42 t/ha), BP4742-1f-Kn-14-2-3*B (6,59 t/ha), BP5098-2f-3-3-2*B (6,98 t/ha), BP5310-3f-10-2-2*B (7,05 t/ha), BP5850-1f-20-1-2*B (7,06 t/ha), BP5850-1f-24-2-2*B (7,08 t/ha), dan BP5438-1e-Kn-10-2-2*B (7,26 t/ha) (Tabel 2).   Tabel 2. Galur-galur pada pertanaman observasi yang memiliki hasil GKG lebih tinggi dari Ciherang, Klaten, MK 2009 No. Galur Hasil GKG (t/ha) 1. BP3034e-6-8*B 6,04 2. BP4122-2f-4-3-5*B 6,08 3. BP4188-7f-1-2-5*B 6,15 4. BP4920f-4-1-3-3*B 6,24 5. BP4112-5f-Kn-1-2-1-3*B 6,24 6. BP4708-4f-Kn-24-2-3*B 6,28 7. BP4724-1f-Kn-17-1-3*B 6,38 8. BP4738-5f-Kn-5-2-3*B 6,42 9. BP4742-1f-Kn-14-2-3*B 6,59 10. BP5098-2f-3-3-2*B 6,98 11. BP5310-3f-10-2-2*B 7,05 12. BP5850-1f-20-1-2*B 7,06 13. BP5850-1f-24-2-2*B 7,08 14. BP5438-1e-Kn-10-2-2*B 7,26 Ciherang 5,16 LSD 5% 0,82   Dari percobaan yang dilakukan pada MK dan MH terdapat 10 galur yang mempunyai kisaran hasil GKG antara 5,73–6,91 t/ha. Analisis lebih lanjut untuk data hasil GKG dari 10 galur yang terpilih pada penelitian dua musim tanam menunjukkan bahwa rata-rata hasil musim hujan dengan rata-rata hasil musim kemarau dari 12 galur/varietas pembanding tidak berbeda nyata berdasar statistik uji t (Tabel 3). Berdasarkan nilai uji t tersebut dapat ditafsirkan bahwa 12 galur/varietas yang diuji tidak berbeda nyata serta memiliki daya hasil yang sama antara musim hujan dan musim kemarau. Dengan kata lain 12 galur/varietas memiliki tingkat produktivitas yang stabil pada kondisi lingkungan musim kemarau ataupun pada kondisi musim hujan. Tabel 3. Galur-galur yang terseleksi pada musim hujan dan musim, Klaten, 2009 No. Galur Percobaan MH (t/ha) X2 MK (t/ha) X2 1. BP4122-2f-4-3-5*B 6,57 43,16 7,26 52,71 2. BP4112-4f-Kn-14-3-4*B 6,08 36,97 5,86 34,34 3. BP4116-4f-Kn-10-2-4*B 6,33 40,07 5,86 34,34 4. BP4740-4f-Kn-4-1-3*B 6,06 36,72 5,43 29,48 5. BP4988-5f-7-3-2*B 6,04 36,48 5,80 33,64 6. BP5850-1f-20-1-2*B 6,23 38,81 6,98 48,72 7. BP5166f-Kn-5-2-2*B 6,76 45,70 5,90 34,81 8. BP5438-1e-Kn-11-2-2*B 6,01 36,12 5,57 31,02 9. BP5438-2e-Kn-7-3-2*B 6,49 42,12 5,70 32,49 10. BP5438-2e-Kn-12-2-2*B 6,13 37,58 5,34 28,52 11. Ciherang 5,16 26,63 5,16 26,63 12. IR64 5,97 35,64 4,14 17,14   Total 73,83 456,00 69,00 403,84   Mean 6,15 5,75   X2/n 454,24 396,75   X2 1,76 7,09   S2 0,40   S x1-x2 3,11   t hit 0,13   t tabel (5%) 2,07 KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan selama dua musim tanam, telah terseleksi 10 galur yang memiliki produktivitas yang stabil pada kondisi lingkungan musim kemarau ataupun pada kondisi musim hujan. Galur-galur tersebut adalah BP4122-2f-4-3-5*B, BP4112-4f-Kn-14-3-4*B, BP4116-4f-Kn-10-2-4*B, BP4740-4f-Kn-4-1-3*B, BP4988-5f-7-3-2*B, BP5850-1f-20-1-2*B, BP5166f-Kn-5-2-2*B, BP5438-1e-Kn-11-2-2*B, BP5438-2e-Kn-7-3-2*B, dan BP5438-2e-Kn-12-2-2*B.   DAFTAR PUSTAKA Allard. 1967. Principles of Plant Breeding. John Wiley and Sons, Inc. New York. 485 p. Allard, R.W. and A.D. Bradshaw. 1964. Implication genotype environment in applied plant breeding. Crop Sci. 4: 503–507. Fehr, W.G., 1987. Principles of cultivar development (vol. 1): Theory and Technique. MacMillan Publishing Co. New York. Snedecor, G.W. and W.G. Cochran. 1967. Statistical Methods. The Lowa State University Press. USA.
Image

Thursday, 03 May 2012
Evaluasi Heterosis Sejumlah Padi Hibrida Turunan Galur Mandul jantan Asal China. EVALUASI HETEROSIS SEJUMLAH PADI HIBRIDA TURUNAN GALUR MANDUL JANTAN ASAL CHINA Yuni Widyastuti dan Satoto Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Jalan Raya 9, Sukamandi, Subang 41256 Telp. (0260) 520157; Fax.: (0260) 520158; E-mail: yoeni_11@yahoo.co.id   ABSTRACT Heterosis Evaluation of New Hybrid Rice Lines Derived from the Chinesse Cytoplasmic Male Sterile. An observational yield trial to evaluate the heterosis of 400 new rice hybrid lines derived from the Chinesse cytoplasmic male sterile was conducted in Sukamandi and Muara Experimental Stations, Indonesian Center for Rice Research during the second cropping season (CS-2) of 2008. These 400 new rice hybrid breeding lines were compared to six standard rice varieties arranged in an augmented design with six blocks of 100 plots each. Although the adjusted yields of the 10 new hybrid rice lines was greater than the yield of the highest check, Ciherang, none of these higher yields were significant statistically. Results of the trial indicated that a total of 21 new hybrid rice lines with the yield ranged from 7.63 t/ha to 15.20 t/ha, were selected from the trial carried out in the Sukamandi Experimental Station. The yields of 13 hybrid rice lines were significantly higher than that of Maro and 8 hybrid rice lines reached the heterosis of 42.0–110.8% which was higher as compared to that of Ciherang. Meanwhile, a total of 29 new hybrid rice lines were selected from the trial carried out in Muara yielded 5.80–8.80 t/ha. The yields of 9 hybrid rice lines was significantly higher than that of Ciherang, in which five new hybrid rice lines reached the heterosis of 21.30–57.60% which were higher than the best check, Maro. Key words: Heterosis, hybrid, rice, chinesse cytoplasmic male sterile. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat heterosis sejumlah hibrida baru padi turunan galur mandul jantan asal China telah dilaksanakan di KP Sukamandi dan Muara, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi pada MT-2/2008. Sebanyak 400 padi hibrida dan enam varietas pembanding yaitu Maro, Rokan, Segara Anak, Bernas Super, Bernas Prima, dan Ciherang ditanam dalam rancangan Augmented yang terbagi dalam enam blok. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa dari penelitian di KP Sukamandi terpilih sebanyak 21 hibrida baru dengan kisaran hasil 7,6–15,2 t/ha. Sebanyak 13 hibrida nyata memiliki produktivitas lebih tinggi dibandingkan dengan Maro, delapan diantaranya menunjukkan heterosis 42–110,8% lebih tinggi dibandingkan Ciherang dengan hasil tertinggi yang berkisar antara 8,8–15,2 t/ha. Dari penelitian di Muara, terpilih sebanyak 29 hibrida dengan kisaran hasil 5,8–8,8 t/ha. Sebanyak sembilan hibrida menghasilkan gabah nyata lebih tinggi dibandingkan Ciherang, lima hibrida diantaranya menunjukkan hasil 21,3–57,6% lebih tinggi dibandingkan dengan Maro. Galur mandul jantan HTP 20 menurunkan F1 hibrida terpilih terbanyak dibandingkan dengan galur mandul jantan asal China yang lain. Kata kunci: Heterosis, hibrida, padi, galur mandul jantan China.   PENDAHULUAN Swasembada beras yang dicapai pada tahun 2008 perlu terus dipertahankan untuk mencukupi kebutuhan penduduk Indonesia yang pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 65,9 juta ton GKG. Melalui peningkatan produktivitas padi 1,5% per tahun dengan indeks panen 1,5 diharapkan swasembada beras akan terus berkelanjutan hingga tahun 2025 (Litbang Deptan 2005). Salah satu faktor untuk mendukung dan melestarikan swasembada beras adalah terjadinya peningkatan produktivitas padi, adanya iklim kondusif, benih unggul, pupuk, suplai air, pengendalian terhadap serangan hama dan penyakit, serta tepatnya pengelolaan pascapanen (Prabowo 2008). Salah satu alternatif untuk meningkatkan produktivitas padi adalah penyediaan benih unggul bermutu dan varietas-varietas unggul baru termasuk didalamnya varietas unggul hibrida (VUH). Sampai tahun 2009, di Indonesia telah dilepas 55 VUH, baik yang berasal dari dalam negeri maupun introduksi luar negeri. Menurut Satoto (2008), berdasarkan karakter morfologi dan fisiologisnya, hibrida-hibrida tersebut dapat digolongkan menjadi 3 tipe, yaitu tipe China (seperti Bernas Super, Bernas Prima, Batang Kampar, Long Ping Pusaka, dan Mapan), tipe India atau Filipina (IRRI) (seperti Arize, SL, Maro, dan Rokan), dan tipe lokal yang merupakan rakitan Indonesia. Tingkat heterosis dari hibrida-hibrida tersebut bervariasi dari satu lokasi dengan lokasi lainnya. Menurut Yuan (2003), beberapa cara untuk meningkatkan heterosis dalam potensi hasil padi hibrida adalah melalui persilangan intervarietal, persilangan intersubspesies (indica/japonica), dan menyisipkan gen dari spesies atau genera yang berbeda. Secara teoritis semakin jauh kekerabatan dari tetua yang membentuk satu hibrida maka heterosis yang dimunculkannya akan semakin tinggi. Studi menunjukkan bahwa secara berurutan tingkat heterosis tertinggi sampai terendah populasi F1 hasil persilangan adalah: indica/japonica > indica/javanica > japonica/javanica > indica/indica > japonica/japonica. Untuk mengidentifikasi genotipe tetua padi hibrida maka dapat dilakukan analisis kekerabatan baik melalui karakterisasi anatomi, morfologi, dan fisiologi tanaman maupun secara molekuler dengan teknik Randomly Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Melalui teknik ini Nghia et al (1999) berhasil menganalisis kekerabatan 19 tetua padi hibrida yang terdiri dari galur mandul jantan, restorer, dan thermo-sensitive genic male steril. Sementara itu Zainal dan Bahagiawati (2005) juga telah mengelompokkan sejumlah GMJ dan restorer ke dalam kelompok yang berbeda sesuai dengan kekerabatannya, dimana hibrida-hibrida yang dibentuk dari tetua yang berbeda kelompoknya cenderung memberikan hasil yang lebih tinggi. China telah berhasil merakit padi hibrida super yang merupakan hasil persilangan antara indica/japonica dengan heterosis 20–40% dibandingkan persilangan intervarietal indica. Dalam rangka meningkatkan heterosis hibrida-hibrida lokal, sejak tahun 2007 Indonesia bekerjasama dengan China untuk mengembangkan hibrida padi baru dengan menggunakan tetua galur mandul jantan (GMJ) berasal dari China dan galur pemulih kesuburan (R) asal Indonesia. Melalui penggunaan GMJ berasal dari China yang termasuk subspecies sinica dan galur pemulih kesuburan Indonesia yang termasuk subspecies indica diharapkan dapat terbentuk padi hibrida yang memberikan tingkat heterosis lebih tinggi. BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan di KP Sukamandi dan Muara pada MT-3/2008. Materi yang digunakan adalah 400 kombinasi hibrida turunan dari persilangan galur mandul jantan asal China dengan sejumlah galur restorer asal Indonesia, ditambah dengan enam varietas pembanding (Rokan, Maro, Segara Anak, Bernas Super, Bernas Prima, dan Ciherang). Hibrida-hibrida yang diuji beserta varietas pembanding ditanam dengan menggunakan rancangan Augmented dalam RAK dengan enam blok. Benih ditebar dalam plot pesemaian dengan perawatan yang intensif. Lahan diolah sempurna, dengan dibajak, diratakan dan dibersihkan dari gulma dan sisa-sisa tanaman. Setelah lahan diolah, diaplikasi pupuk dasar 100 kg/ha urea, 100 kg/ha SP36, dan 100 kg/ha KCl, bibit materi percobaan yang berumur 21 hari setelah sebar ditanam pada plot berukuran 1 m x 3 m dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Pada umur dua minggu setelah tanam, pertanaman diberi pupuk urea susulan pertama dengan dosis 100 kg/ha, pada lima minggu setelah tanam dilakukan pemupukan susulan kedua urea dan KCl dengan dosis masing-masing 100 kg/ha dan 20 kg/ha. Pengamatan dilakukan terhadap umur berbunga, tinggi tanaman, jumlah anakan, panjang malai, persentase gabah isi, dan hasil/plot. Analisis statistik yang digunakan sebagaimana yang dikemukakan oleh Peterson (1994) yaitu efek blok dihitung berdasarkan: aj = bj – m Keterangan:      aj = efek blok ke j bj = rata-rata semua varietas pembanding pada blok j m = total rerata varietas pembanding Pada augmented design, banyaknya ulangan yang digunakan tidak sama antar genotipe. Genotipe yang diuji diulang satu kali (tanpa ulangan) dan pembanding (c) yang diulang dalam beberapa blok (b). Adapun analisis keragaman pembanding adalah sebagai berikut: Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat Kuadrat tengah Total bc-1 JKtotal Blok b-1 JKb KTb Pembanding c-1 JKc KTc Galat (b-1)(c-1) JKg KTg   Analisis keragaman kemudian digunakan untuk menghitung perbedaan antara rata-rata tiap- peubah yaitu: HASIL DAN PEMBAHASAN Penampilan Hasil Padi Hibrida Baru Analisis keragaman untuk peubah hasil gabah kering giling/satuan luas dari varietas pembanding untuk pertanaman di KP Sukamandi dan Muara MT-2/2008 sama-sama menunjukkan nilai uji F yang berbeda nyata. Terdapat variasi antar blok yang cukup tinggi ditunjukkan dengan nilai koefisien keragaman yang tinggi yaitu 21,3% dan 22,5% (Tabel 1). Tabel 1. Kuadrat tengah analisis keragaman untuk peubah hasil varietas pembanding di KP Sukamandi dan Muara, MT-2/2008 Sumber keragaman Kuadrat tengah untuk lokasi: Sukamandi Muara Blok 7,48** 28,35** Pembanding 4,44** 183,89** Galat 1,48 8,22 KK (%) 21,34 22,54 Perbedaan antar peubah: Se antar pembanding 0,70 3,55 Se antar hibrida blok beda 1,72 12,82 Se antar hibrida blok sama 1,86 13,85 Se antar hibrida dengan pembanding 1,42 10,16 Keterangan: ** berbeda nyata pada taraf 1%, Se = standar error   Sebanyak 21 hibrida baru terpilih pada pengujian observasi daya hasil di KP Sukamandi pada MT-2/2008 dengan kisaran hasil antara 7,6–15,2 t/ha (Tabel 2). Hibrida-hibrida tersebut apabila dibandingkan dengan varietas Bernas Super dan Bernas Prima yang merupakan turunan galur mandul jantan asal China, menunjukkan heterosis untuk karakter hasil GKG yang cukup tinggi yaitu antara 27,8–154,6% lebih tinggi dibandingkan dengan Bernas Super, dan antara 41,6–182,0% lebih tinggi dibandingkan dengan Bernas Prima. Hal tersebut berarti bahwa galur-galur mandul jantan China yang disilangkan dengan pemulih kesuburan lokal dapat memberikan heterosis hasil GKG yang lebih tinggi dibandingkan dengan hibrida-hibrida turunan persilangan antara galur mandul jantan dan pemulih kesuburan yang berasal dari China. Sedangkan berdasarkan uji LSI (Least Significant Increase) 5% terlihat bahwa dari 21 hibrida yang terpilih hanya 13 hibrida yang menunjukkan hasil GKG nyata lebih tinggi dari Maro dengan heterosis antara 42,7–147,9%. Sedangkan bila hasil GKG dari 13 hibrida tersebut dibandingkan dengan hasil GKG dari varietas Ciherang (7,21 t/ha), maka heterosisnya adalah antara 5,8–110,8%.   Tabel 2. Hasil GKG dan kelebihan hasil 21 hibrida terpilih terhadap 4 varietas pembanding pada observasi daya hasil di KP Sukamandi, MT-2/2008 No. Hibrida/pembanding Hasil k.a. 14% (t/ha) Kelebihan hasil (%) terhadap: Maro Bernas Super Bernas Prima Ciherang 1. HTP21/BH35D-MR-28-1-2-3-1 15,2 a 147,9 154,6 182,0 110,8 2. HTP21/BH95E-MR-15-6-3-2 12,3 a 101,9 107,3 129,6 71,7 3. HTP18/BH95E-MR-15-6-2-3 12,2 a 98,5 103,8 125,7 68,7 4. HTP20/BH33D-MR-57-1-1-1-2 13,2 a 115,9 121,7 145,6 83,6 5. HTP20/BH95E-MR-15-6-3-2 10,1 a 64,1 68,5 86,6 39,5 6. HTP22/BH33D-MR-57-1-1-2-3 10,5 a 70,6 75,2 94,0 45,0 7. HTP18/BH35D-MR-28-1-3-1-2 10,4 a 69,3 73,8 92,5 43,9 8. HTP18/BH50D-MR-22-2-1-2-1 10,2 a 67,0 71,5 89,9 42,0 9. HTP20/BH95E-MR-15-6-3-1 9,3 b 51,2 55,2 71,9 28,5 10. HTP21/BH95E-MR-15-9-3-2 9,3 b 51,0 55,1 71,8 28,4 11. HTP20/BH35D-MR-28-1-2-3-1 9,0 b 47,4 51,4 67,7 25,3 12. HTP18/BH95E-MR-15-6-3-1 8,9 b 45,0 48,9 64,9 23,3 13. HTP21/PDB 78 8,8 b 42,7 46,5 62,3 21,3 14. HTP14/IR71103-14-17-2-PN-1-3-2-3 8,5 38,8 42,5 57,8 18,0 15. HTP21/B10590E-KN-4-PN-1-3-3-3 8,2 34,2 37,8 52,6 14,1 16. HTP18/BH95E-MR-15-6-3-2 8,0 31,0 34,5 48,9 11,3 17. HTP21/IR71103-14-17-2-PN-1-3-2 7,8 27,7 31,1 45,2 8,6 18. HTP20/BH95E-MR-15-8-2-2 7,8 27,2 30,6 44,7 8,1 19. HTP18/IR71103-14-17-2-PN-1-3-2-3 7,7 24,9 28,3 42,1 6,2 20. HTP20/IR71103-14-17-2-PN-1-3-2 7,6 24,6 27,9 41,7 5,9 21. HTP18/BH95E-MR-15-6-2-2 7,6 24,4 27,8 41,5 5,8 Maro 6,1 Bernas Super 5,9 Bernas Prima 5,4 Ciherang 7,2 LSI 5% 2,4 Koefisien Keragaman (%) 21,3 Keterangan: a = berbeda nyata dengan Ciherang sebagai pembanding dengan hasil tertinggi pada uji LSI taraf 5%. b = berbeda nyata dengan Maro sebagai pembanding hibrida dengan hasil tertinggi pada uji LSI taraf 5%.     Tabel 3. Hasil GKG dan kelebihan hasil 29 hibrida terpilih terhadap 4 varietas pembanding pada observasi daya hasil di Muara, MT-2/2008 No. Hibrida/pembanding Hasil k.a 14% (t/ha) Kelebihan hasil (%) terhadap: Bernas Super Bernas Prima Maro Ciherang 1. HTP18/ BH28D-MR-6-1-1-3-1 6,3 84,2 126,7 12,3 30,0 2. HTP18/ BH28D-MR-6-1-1-3-2 6,4 87,1 130,3 14,1 32,1 3. HTP20/BH28D-MR-6-1-1-3-2 8,2 a 139,9 195,3 46,3 69,4 4. HTP14/ BH28D-MR-6-1-1-3-3 5,8 69,5 108,7 3,4 19,7 5. HTP14/ BH28D-MR-28-1-1-3-1 7,8 a 128,2 180,9 39,2 61,1 6. HTP20/BH28D-MR-28-1-1-3-1 6,8 b 98,8 144,8 21,3 40,4 7. HTP20/BH28D-MR-28-1-1-3-2 6,0 75,4 115,9 7,0 23,8 8. HTP20/BH33D-MR-57-1-1-1-2 6,6 93,8 138,6 18,2 36,9 9. HTP20/BH33D-MR-57-1-1-2-2 6,7 96,8 142,2 20,0 38,9 10. HTP20/BH33D-MR-57-1-1-2-3 8,8 a 158,4 218,1 57,6 82,4 11. HTP22/BH33D-MR-57-1-1-2-3 5,8 70,4 109,7 3,9 20,3 12. HTP20/BH76D-MR-14-1-1-2-1 6,0 75,7 116,2 7,2 24,0 13. HTP18/ BH95E-MR-15-2-2-3 7,6 b 124,3 176,2 36,9 58,4 14. HTP20/BH95E-MR-15-5-4-2 7,0 b 103,8 150,9 24,3 43,9 15. HTP18/ BH95E-MR-15-5-4-3 6,0 74,5 114,8 6,4 23,2 16. HTP20/BH95E-MR-15-6-2-1 6,1 77,4 118,4 8,2 25,3 17. HTP20/BH95E-MR-15-6-2-2 7,0 b 103,8 150,9 24,3 43,9 18. HTP18/ BH95E-MR-15-6-2-3 8,1 a 136,1 190,6 44,0 66,7 19. HTP20/BH95E-MR-15-6-2-3 8,2 a 139,0 194,2 45,8 68,7 20. HTP20/BH95E-MR-15-9-3-2 6,8 99,4 145,5 21,6 40,8 21. HTP18/ BH95E-MR-15-9-3-3 6,9 102,3 149,1 23,4 42,9 22. HTP20/BH95E-MR-15-9-3-3 6,7 96,5 141,9 19,9 38,7 23. HTP20/Bio17-V-MR-1-1-4-2-4-7-1 8,8 a 158,1 217,7 57,4 82,2 24. HTP20/IR71103-14-17-2-PN-1-3-2-1 6,9 102,3 149,1 23,4 42,9 25. HTP20/IR71103-14-17-2-PN-1-3-2-2 6,6 93,5 138,3 18,1 36,6 26. HTP18/ OBS 602-131 7,2 b 110,6 159,2 28,4 48,7 27. HTP20/OBS 602-148 6,4 87,1 130,3 14,1 32,1 28. HTP20/PDB 78 6,4 87,7 131,0 14,5 32,5 29. HTP20/PDB 119 6,6 93,5 138,3 18,1 36,6 Maro 5,7 Bernas Super 3,4 Bernas Prima 2,8 Ciherang 4,8 LSI 5% 2,0   Koefisen Keragaman 22,5         Keterangan: a = berbeda nyata dengan Maro sebagai pembanding dengan hasil tertinggi pada uji LSI taraf 5%. b = berbeda nyata dengan Ciherang sebagai pembanding popular pada uji LSI taraf 5%.   Dari pertanaman observasi hibrida yang ditanam di KP Muara pada MT-2/2008, terseleksi sebanyak 29 hibrida baru yang memberikan hasil GKG berkisar antara 5,8–8,8 t/ha (Tabel 3). Hibrida-hibrida tersebut secara signifikan menunjukkan kelebihan hasil GKG antara 69,5–158,4% terhadap Bernas Super, dan 144,8–218% lebih tinggi dibandingkan Bernas Prima. Pada pengujian ini Maro merupakan varietas pembanding dengan hasil GKG tertinggi yaitu 5,7 t/ha. Dari 29 hibrida terpilih tersebut, terlihat ada enam hibrida yang memberikan hasil GKG berkisar antara 7,8–8,8 t/ha yang secara statistik nyata lebih tinggi dari Maro. Apabila dibandingkan dengan Ciherang terdapat 10 hibrida yang secara nyata memberikan kelebihan hasil antara 40,4–82,4% lebih tinggi. Hasil pengujian baik di KP Sukamandi maupun KP Muara menunjukkan bahwa galur mandul jantan asal China dapat memberikan heterosis yang tinggi pada saat disilangkan dengan galur-galur pemulih kesuburan lokal. Namun demikian, pengaruh tersebut relatif bervariasi untuk setiap kombinasi hibrida (Hairmansis et al. 2005), sehingga dari variasi yang muncul kita dapat mengidentifikasi calon-calon hibrida terbaik. Walaupun demikian dari 400 hibrida yang diuji, hanya 50 hibrida yang memiliki potensi hasil yang lebih tinggi dibandingkan varietas pembandingnya. Hal ini mengindikasikan terdapat masalah kesesuaian antara tetua, serta pengaruh tetua betina (galur mandul jantan) terhadap hasil gabah/rumpun. Umumnya galur mandul jantan asal China didominasi sistem WA (Wild Abortive) dan sebagian kecil lainnya bertipe Boro atau BT. Keunggulan galur-galur mandul jantan asal China adalah mempunyai daya gabung yang bagus, memiliki karakteristik pembungaan yang mendukung terjadinya persilangan alami, serta memiliki persentase eksersi stigma yang tinggi sehingga sangat mendukung tercapainya produksi benih padi hibrida yang maksimal. Salah satu kekurangannya galur-galur mandul jantan asal China adalah rentan terhadap hama dan penyakit yang dominan berada di daerah tropik, serta mempunyai mutu gabah F1 yang kurang bagus (Virmani dan Wang 2003). Hal-hal tersebut terakhir dapat diatasi dengan melakukan program silang balik antara GMJ China dengan galur-galur pemulih kesuburan dari program BB Padi yang telah tahan terhadap hama dan penyakit serta mempunyai mutu gabah yang bagus sesuai dengan preferensi konsumen Indonesia.   Penampilan Komponen Hasil Padi Hibrida Baru Varietas Ciherang memiliki bobot 1.000 butir sebesar 26,6 g, dan hanya ada empat hibrida dari 400 hibrida yang mempunyai bobot 1.000 butir setara dengan Ciherang yaitu HTP18/BH95E-MR-15-6-2-3, HTP20/BH33D-MR-57-1-1-1-2, HTP20/BH35D-MR-28-1-2-3-1, dan HTP21/B10590E-KN-4-PN-1-3-3. Sementara itu Bernas Prima menampilkan ukuran gabah yang besar dengan bobot 1.000 butir sebesar 31,5 g. Terdapat lima hibrida dengan bentuk dan ukuran yang setara dengan Bernas Prima. Mengingat preferensi konsumen di Indonesia umumnya masih tertuju pada ukuran dan bentuk gabah yang mirip dengan Ciherang, maka dari pengujian ini hanya lima hibrida yang berpeluang besar cepat diadopsi oleh petani. Variabel panjang malai hibrida terpilih menunjukkan kisaran antara 31,4 cm (HTP14/IR71103-14-17-2-PN-1-3-2) sampai 23,9 cm (HTP18/BH95E-MR-15-6-2-2). Terdapat tujuh hibrida yang memiliki panjang malai setara dengan Ciherang (26 cm), dua hibrida yaitu HTP18/BH95E-MR-15-6-2-3 dan HTP20/BH33D-MR-57-1-1-1-2 selain memiliki panjang malai yang setara juga bobot 1.000 butir yang sama dengan Ciherang.              Pada Tabel 4 terlihat bahwa jumlah gabah/malai dari hibrida terpilih berkisar antara 89–209 butir. Dari jumlah tersebut sebanyak 12 hibrida memberikan persentase pengisian gabah yang lebih tinggi dari Ciherang dengan jumlah gabah isi/malai yang berkisar antara 150–209 butir lebih tinggi dibanding Ciherang (126 butir). Hasil skoring skrining terhadap penyakit hawar daun bakteri di KP Muara menunjukkan sebanyak 18 hibrida bereaksi tahan terhadap HDB sementara 11 lainnya bereaksi agak tahan sama dengan Ciherang. Sementara di KP Sukamandi pada saat pertanaman di lapangan tidak ada serangan hawar daun bakteri. Pada Tabel 5 terlihat bahwa sebagian besar hibrida mempunyai bentuk gabah yang sama dengan Ciherang, enam hibrida gabahnya berbentuk bulat mirip dengan Bernas Super, dan hanya ada 1 hibrida yang gabahnya berbentuk ramping seperti halnya Maro dan Rokan. Variabel umur 50% berbunga menampilkan Ciherang dengan umur 100 hari setelah sebar (HSS), terdapat 10 hibrida dengan umur 50% berbunga berkisar antara 82–98 HSS, enam diantaranya merupakan hibrida turunan HTP18. Ini artinya persilangan dengan galur mandul jantan dimungkinkan dapat menurunkan hibrida-hibrida dengan umur yang lebih pendek dibanding dengan Ciherang. Sedangkan untuk pengisian gabah terpilih 12 hibrida yang setara dengan Ciherang yaitu 80%, sementara 11 hibrida lainnya menampilkan pengisian gabah di atas Ciherang yaitu antara 85–90%. Adapun tinggi tanaman rata-rata hibrida terpilih sekitar 90–110 cm, dua hibrida menunjukkan tinggi yang setara dengan Ciherang yaitu HTP20/BH28D-MR-28-1-1-3-2 dan HTP22/BH33D-MR-57-1-1-2-3. Dari variabel jumlah anakan hanya ada empat hibrida dengan anakan yang lebih tinggi dibanding Ciherang yaitu berkisar antara 15–18 anakan produktif/rumpun. Baik di KP Sukamandi maupun KP Muara, total 40 hibrida yang terpilih, telah diidentifikasi terdapat enam hibrida yang mempunyai potensi untuk cepat diadopsi oleh petani karena beberapa karakter yang dimilikinya sama dengan Ciherang seperti umur tanaman, panjang malai, bobot 1.000 butir gabah isi, jumlah anakan produktif/malai dan persentase gabah isi. Hibrida tersebut antara lain: HTP18/BH95E-MR-15-6-2-3, HTP20/BH33D-MR-57-1-1-1-2, HTP18/BH28D-MR-6-1-1-3-2, HTP20/IR71103-14-17-2-PN-1-3-2-1, HTP20/BH28D-MR-28-1-1-3-2, dan HTP20/BH33D-MR-57-1-1-1-2   Tabel 4. Bobot 1.000 butir, panjang malai, jumlah gabah isi, hampa, dan total/malai, serta seed set hibrida terpilih pada observasi daya hasil di Sukamandi, MT-2/2008 No. Hibrida/pembanding 1000 butir (g) Panjang malai (cm) Jumlah gabah/malai Seed set (%) isi hampa total 1. HTP21/BH35D-MR-28-1-2-3-1 28,9 26,1 150 20 170 88,1 2. HTP21/BH95E-MR-15-6-3-2 28,6 29,7 194 22 217 89,7 3. HTP18/BH95E-MR-15-6-2-3 26,7 26,9 151 29 180 83,9 4. HTP20/BH33D-MR-57-1-1-1-2 26,8 26,8 125 76 202 62,1 5. HTP20/BH95E-MR-15-6-3-2 25,5 27,0 170 41 211 80,6 6. HTP22/BH33D-MR-57-1-1-2-3 32,6 27,4 89 48 137 65,3 7. HTP18/BH35D-MR-28-1-3-1-2 28,0 28,7 168 18 186 90,5 8. HTP18/BH50D-MR-22-2-1-2-1 27,4 26,9 158 23 182 87,1 9. HTP20/BH95E-MR-15-6-3-1 24,9 27,2 203 27 229 88,3 10. HTP21/BH95E-MR-15-9-3-2 29,6 26,7 177 45 222 79,8 11. HTP20/BH35D-MR-28-1-2-3-1 26,4 28,7 204 70 274 74,6 12. HTP18/BH95E-MR-15-6-3-1 28,3 27,2 203 23 225 90,0 13. HTP21/PDB 78 29,6 26,9 139 39 179 78,1 14. HTP14/IR71103-14-17-2-PN-1-3-2 28,8 31,4 209 29 238 87,8 15. HTP21/B10590E-KN-4-PN-1-3-3 26,6 28,7 156 43 199 78,4 16. HTP18/BH95E-MR-15-6-3-2 27,5 27,1 183 30 214 85,8 17. HTP21/IR71103-14-17-2-PN-1-3 31,5 29,6 191 80 270 70,5 18. HTP20/BH95E-MR-15-8-2-2 25,7 27,6 170 42 212 80,1 19. HTP18/IR71103-14-17-2-PN-1-3-2 28,9 26,7 157 62 219 71,6 20. HTP20/IR71103-14-17-2-PN-1-3 29,9 28,4 166 52 218 76,1 21. HTP18/BH95E-MR-15-6-2-2 27,6 23,9 120 39 159 75,4 Rokan 27,5 27,8 110 53 164 67,4 Maro 26,9 29,3 138 35 173 79,6 Bernas Super 27,3 25,8 165 20 184 89,4 Bernas Prima 31,5 28,2 160 18 178 89,9 Ciherang 26,6 26,5 126 34 160 79,0   Tabel 5. Umur 50% berbunga, skoring BLB, bentuk gabah, seed set, tinggi tanaman, dan jumlah anakan hibrida terpilih pada observasi daya hasil di Muara, MT-2/2008 No. Hibrida/pembanding Umur 50% bunga (hari) BLB skor Bentuk gabah Seed Set (%) Tinggi tanaman (cm) Jumlah anakan 1. HTP18/ BH28D-MR-6-1-1-3-1 107 AT S 80 117,3 13 2. HTP18/ BH28D-MR-6-1-1-3-2 98 T B 80 102,0 15 3. HTP20/BH28D-MR-6-1-1-3-2 109 T S 70 116,7 16 4. HTP14/ BH28D-MR-6-1-1-3-3 104 T S 85 110,3 18 5. HTP14/ BH28D-MR-28-1-1-3-1 88 AT S 70 101,7 13 6. HTP20/BH28D-MR-28-1-1-3-1 106 AT S 80 102,3 11 7. HTP20/BH28D-MR-28-1-1-3-2 100 T S 75 95,3 17 8. HTP20/BH33D-MR-57-1-1-1-2 102 T R 80 110,3 11 9. HTP20/BH33D-MR-57-1-1-2-2 111 T S 80 110,3 12 10. HTP20/BH33D-MR-57-1-1-2-3 105 T S 80 105,3 13 11. HTP22/BH33D-MR-57-1-1-2-3 82 AT S 75 90,7 13 12. HTP20/BH76D-MR-14-1-1-2-1 103 T S 80 104,3 11 13. HTP18/ BH95E-MR-15-2-2-3 95 AT B 85 98,3 10 14. HTP20/BH95E-MR-15-5-4-2 111 T S 70 106,7 11 15. HTP18/ BH95E-MR-15-5-4-3 94 AT B 80 98,3 9 16. HTP20/BH95E-MR-15-6-2-1 95 AT S 85 96,0 9 17. HTP20/BH95E-MR-15-6-2-2 97 T S 85 106,7 11 18. HTP18/ BH95E-MR-15-6-2-3 87 AT B 85 97,7 9 19. HTP20/BH95E-MR-15-6-2-3 110 T S 85 107,0 9 20. HTP20/BH95E-MR-15-9-3-2 106 T S 80 106,7 13 21. HTP18/ BH95E-MR-15-9-3-3 101 T B 90 109,7 10 22. HTP20/BH95E-MR-15-9-3-3 111 T S 80 113,3 11 23. HTP20/Bio17-V-MR-1-1-4-2-4-7-1 113 T S 75 111,0 10 24. HTP20/IR71103-14-17-2-PN-1-3-2-1 101 T S 85 105,7 14 25. HTP20/IR71103-14-17-2-PN-1-3-2-2 98 AT S 85 105,3 13 26. HTP18/ OBS 602-131 94 T B 85 109,0 9 27. HTP20/OBS 602-148 115 T S 80 108,3 10 28. HTP20/PDB 78 90 AT S 80 99,0 12 29. HTP20/PDB 119 100 AT S 85 95,3 10 Rokan 110 T R 85 105,0 11 Maro 112 T R 85 96,3 8 Bernas Super 95 AT B 80 89,0 8 Bernas Prima 80 P S 75 88,3 10   Ciherang 100 AT S 80 91,0 14 Keterangan: AT=agak tahan, T=tahan, P=peka, S=Silindris, R=ramping, B= bulat.   Tidak semua galur mandul jantan asal China menunjukkan turunan F1 hibrida yang mempunyai potensi hasil tinggi apabila disilangkan dengan galur pemulih kesuburan lokal. Hal ini berkaitan dengan persilangan antar sub spesies yang umumnya menyebabkan sterilitas atau kehampaan yang tinggi pada F1. Selain genetis, rendahnya pengisian gabah juga dapat disebabkan oleh perubahan morfologi tanaman baik pada fase vegetatif maupun generatif maupun faktor lingkungan (Sano 1997). Analisis daya gabung umumnya digunakan untuk mengetahui galur-galur yang dapat menjadi penggabung yang baik terutama untuk karakter pengisian gabah pada padi hibrida. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui galur-galur pemulih kesuburan lokal yang mempunyai gen wide compatibility yang luas sehingga apabila disilangkan dengan galur mandul jantan dapat menghasilkan hibrida yang mempunyai persentase gabah isi yang tinggi. Pada Gambar 1 dapat dilihat bahwa hibrida-hibrida baru turunan GMJ China menunjukkan variasi pada saat ditanam di KP Sukamandi dan Muara. HTP 20 di KP Muara menampilkan F1 hibrida yang terbanyak dibandingkan dengan GMJ lainnya, sementara itu HTP22 hanya menurunkan sedikit hibrida terpilih pada kedua lokasi. KESIMPULAN Sebanyak 13 hibrida secara signifikan menunjukkan hasil lebih tinggi dibandingkan Maro, delapan diantaranya menunjukkan heterosis 42,0–110,8% lebih tinggi dibandingkan Ciherang sebagai varietas pembanding dengan hasil tertinggi. Pengujian di KP Muara, menampilkan 29 hibrida terpilih dengan kisaran hasil 5,78–8,81 t/ha. Sembilan hibrida memberikan hasil gabah secara nyata lebih tinggi dibandingkan Ciherang dan lima hibrida diantaranya menunjukkan kelebihan hasil antara 21,3–57,6% lebih tinggi dibandingkan Maro sebagai varietas pembanding terbaik. Terdapat enam hibrida yang berpotensi untuk cepat diadopsi oleh petani karena mempunyai beberapa karakter yang sama dengan Ciherang. DAFTAR PUSTAKA Hairmansis, A., Aswidinnoor, H. Trikoesoemaningtyas, dan Suwarno. Daya gabung karakter pengisian gabah varietas padi yang membawa alel netral pada lokus S-5. 2005. Zuriat. Jurnal Ilmu Pemuliaan Indonesia. Vol. 6. Juli-Desember. p. 173–181. H.E. Prabowo. Peningkatan Produksi Padi di Indonesia. www.kompas.com.16 Desember 2008. Nghia, P.T., Malik, J.P.S., Pandey, M. P., and Singh, N.K. 1999. Genetic distance analysiss of hybrid rice parental lines based on morphological traits and RAPD markers. Omon Rice J. 7: 49–59. Petersen, R.G. 1994. Agricultural Field Experiments Design and Analysis. New York. p. 409. Sano, Y. 1997. Inheritance of sterility. In: Matsuo and Takane (Eds.). Science of the Rice Plant. Vol III. Genetics. Food and Agriculture Policy Research. Tokyo. p. 367−376. Satoto. 2008. Pengembangan Padi Hibrida Melalui Kerjasama RI–RRC. Laporan Akhir Tahun 2008. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Virmani, S.S. and Wan Banghui. 1986. Development of CMS lines in hybrid rice breeding. In: Hybrid Rice. Proceedings of the International Symposium on Hybrid Rice. China. p. 103–114. Zainal, A. dan Bahagiawati, A. 2005. Pengelompokan tetua padi hibrida berdasarkan sifat-sifat morfologi dan RAPD-PCR. Zuriat. Jurnal Ilmu Pemuliaan Indonesia. Vol 16 (1) Januari–Juni. p. 9–21. Yuan, L.P. 2003. Recent progress in breeding super hybrid rice in China: hybrid rice for food security, poverty allevation, and environment protection. Proc. of the 4th Intl. Symp. On Hybrid Rice. Hanoi, Vietnam, 14–17 May 2002. IRRI. 407p.  

Thursday, 03 May 2012
Galur Harapan Padi Untuk Lahan Rawa dan Rawan Banjir. GALUR HARAPAN PADI UNTUK LAHAN RAWA DAN RAWAN BANJIR Supartopo, Aris Hairmansis, dan Bambang Kustianto Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Kebun Percobaan Muara Jalan Raya Ciapus No. 25, Bogor 16610 Telp.: (0251) 8322064; Fax. (0251) 322064; e-mail: balitpamuara@telkom.net   ABSTRACT The Promising Rice Lines of Swampy and Flood Prone Area. Swampy and flood prone areas available in Indonesia are pretty wide and when utilized for growing rice, it may contribute meaningfully to the availability of rice in the country. From 2008 to 2009, a total of 9 genotypes and 3 check varieties have been tested in Karang Agung (South Sumatera), Indramayu (West Java), Cilacap, Kebumen, and Purworejo (Central Java), as well as in Bojonegoro (East Java). The trials were arranged in a randomized complete block design with four replications. The seedlings of 21–25 days of age and 2–3 seedlings per hill were transplanted into plots of 5 m x 4 m in size, with the planting space of 25 cm x 25 cm. The rice crops were fertilized with urea, TSP, and KCl at the rates of 150, 100, and 100 kg/ha, respectively. Results of the trials indicated that the genotype BP1027-F-PN-1-2-1-KN-MR-3-3 yielded the highest (5.87 t/ha) while the three check varieties IR42, Batanghari, and IR64 produced 5.17, 5.81, and 4.99 t/ha, respectively. Three breeding lines, B10891B-MR-3-KN-4-1-1-MR-1, TOX4136-5-1-1-KY-3, and B11586F-MR-11-2-2 yielded higher than IR42, i.e. 5.50, 5.25, and 5.21 t/ha, respectively. One line, BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4 yielded 5.16 t/ha, higher than that of IR64. The line BP1027-F-PN-1-2-1-KN-MR-3-3 had 66% rough rice, 94% head rice, good rice texture and eating quality, 24.43% amylose content, long grain, small chalkiness, medium rice shape and resistant to three blast races. The breeding line of B11586F-MR-11-2-3 was resistant to rice tungro virus in Karang Agung. Key words: Promising rice lines, swampy, yield trial.   ABSTRAK Lahan rawa dan lahan rawan banjir yang tersedia di Indonesia sangat luas. Oleh karena itu, perlu dimanfaatkan untuk membantu mencukupi kebutuhan beras yang secara nasional terus meningkat. Pada tahun 2008 dan 2009 telah dilakukan pengujian sebanyak sembilan galur dan tiga varietas pembanding di daerah Karang Agung (Sumatera Selatan), Indramayu (Jawa Barat), Kebumen, Cilacap, dan Purworejo (Jawa Tengah) serta Bojonegoro (Jawa Timur). Percobaan dilakukan dalam rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Bibit umur 21 hari ditanam 2–3 bibit/lubang dalam petak berukuran 4 m x 5 m dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm. Pertanaman dipupuk dengan urea, TSP, dan KCl dengan dosis berturut-turut 150 kg/ha, 100 kg/ha, dan 100 kg/ha. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa galur BP1027F-PN-1-2-1-KN-MR-3-3 menghasilkan gabah tertinggi sebesar 5,87 t/ha, sedangkan varietas pembanding IR42, Batanghari, dan IR64 berturut-turut menghasilkan 5,17 t/ha, 5,81 t/ha, dan 4,99 t/ha. Tiga galur yang hasilnya lebih tinggi dari varietas IR42 adalah B10891B-MR-3-KN-4-1-1-MR-1 (5,50 t/ha), TOX4136-5-1-1-KY-3 (5,25 t/ha), dan B11586F-MR-11-2-2 (5,21 t/ha). Satu galur, BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4 menghasilkan gabah sebesar 5,16 t/ha, hasil ini lebih tinggi dari hasil varietas pembanding IR64. Galur BP1027F-PN-1-2-1-KN-MR-3-3 memiliki rendemen beras pecah kulit 66%, beras kepala 94%, tekstur nasi sedang dengan rasa nasi enak, kandungan amilosa 24,43%, ukuran beras panjang, pengapuran sedikit, bentuk beras medium, dan tahan terhadap tiga ras penyakit blas. Galur B11586F-MR-11-2-3 tergolong tahan terhadap virus tungro di Karang Agung. Kata kunci: Galur harapan, rawa, uji daya hasil.   PENDAHULUAN Sekitar 90% produksi beras nasional di Indonesia diperoleh dari budidaya padi lahan sawah. Sumbangan lahan gogo maupun rawa relatif kecil. Semakin menyempitnya lahan sawah karena alih fungsi lahan sawah menjadi lahan non pertanian (pemukiman, pabrik, dan jalan) kurang lebih 40 ribu ha/tahun mengharuskan pemerintah memanfaatkan lahan gogo maupun rawa sebagai penggantinya, selain untuk mengimbangi kenaikan kebutuhan beras akibat pertambahan jumlah penduduk (Nasoetion dan Winoto1995). Di Indonesia lahan rawa cukup luas yaitu sekitar 33,4 juta hektar terdiri atas 20,1 juta hektar lahan rawa pasang surut dan 13,3 juta hektar lahan rawa lebak yang sebagian besar tersebar di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Apabila dilihat dari tipologi lahannya sekitar 2 juta hektar lahan pasang surut bertipologi potensial, 10,9 juta hektar bertipologi gambut, 6,7 juta hektar bertipologi sulfat masam dan 0,4 juta hektar lahan salin (Inu et al. 1993). Lahan rawa lebak yang tidak terkena pengaruh pasang surut air laut tanahnya bisa berupa alluvial, alluvial bergambut, atau gambut. Berdasarkan lamanya genangan air dan kedalaman air, lahan lebak dibedakan: (1) lebak pematang atau dangkal, genangan air kurang dari tiga bulan dengan kedalaman air kurang dari 50 cm seluas 4,17 juta hektar, (2) lebak tengahan tergenang 3–6 bulan dengan kedalaman air 50–100cm seluas 6,08 juta hektar, dan (3) lebak dalam yang tergenang lebih dari enam bulan dengan kedalaman air lebih dari 100 cm seluas 3,04 juta hektar (Direktorat Rawa 1984; Wijaya et al. 1992; Nugroho et al. 1993; Subagyo 1998). Banjir dan tinggi genangan air merupakan faktor penghambat dan bahaya bagi pertumbuhan tanaman padi. Jadi pengelolaan air, pengaturan, dan penguasaanya sangat diperlukan. Selain itu, kesuburan tanah yang rendah, kemasaman tanah, keracunan, dan defisiensi hara juga merupakan masalah yang penting di lahan rawa lebak. Petani tradisional mulai menanami lahan ketika genangan air mulai menurun yaitu pada lahan lebak pematang kemudian dilanjutkan ke lahan lebak tengahan. Lahan lebak dalam biasanya tidak ditanami bila genangan air masih dalam di musim kemarau. Kendala yang lain yaitu adanya hama dan penyakit misalnya hama tikus, wereng, penggerek batang, walang sangit (Santoso 1998). Penyakit blas (Pyricularia grisea), bercak daun coklat (Helminthosporium oryzae) dan lepuh daun dan leaf scald (Santoso 1998). Masalah banjir dan genangan air bukan saja terjadi di lahan rawa lebak akan tetapi juga dapat terjadi pada lahan sawah irigasi. Di Jawa Barat areal sawah yang sering terendam banjir yaitu Karawang, Subang, dan Indramayu. Sedangkan di Jawa Tengah seperti Cilacap, Kebumen, dan Purworejo. Di Jawa Timur terdapat di daerah aliran sungai seperti Lamongan, Bojonegoro, dan Kediri. Areal pertanaman padi yang rusak terendam air akibat banjir dari tahun 1996 sampai 2006 mencapai 263.823 hektar (Widiarta 2007). Padi bonorowo merupakan model tanam padi di daerah Lamongan, Jawa Timur. Lahan ini seperti lahan rawa lebak mempunyai kedalaman air mencapai 1,2 m. Cara bertanam mengikuti sistem gogo rancah dan waktu bertanam dimulai pada saat dimulainya musim hujan, genangan air bertambah secara perlahan sejak tanaman berumur satu bulan. Genangan air yang meningkat cepat dapat menggagalkan pertanaman. Oleh karena itu diperlukan varietas yang toleran rendaman. Pertanaman model bonorowo ini banyak dilakukan oleh petani padi lebak di daerah Nagara, Provinsi Kalimantan Selatan. (Harahap 1982). Hal lain yang tidak kalah penting dalam bercocok tanam padi di lahan yang rawan terendam air adalah benih. Benih yang diperlukan untuk satu hektar lahan diperlukan 40–50 kg akibat dari semai berulang 2–3 kali. Tanaman padi diperlukan sebagai makanan pokok lebih mudah dibudidayakan pada lingkungan rawa dan memiliki harga yang relatif stabil dibandingkan komoditi lainnya. Dengan demikian, padi tersebut harus mampu beradaptasi dengan lingkungan dimana tanaman di tanam. Oleh karena itu, perlu dirakit varietas yang mampu mengatasi masalah yang ada di lahan tersebut (Murty and Khush 1972; Harahap 1982). Dari penelitian sebelumnya telah diperoleh galur-galur yang masih perlu diuji daya hasilnya pada lahan rawa, bonorowo, dan lahan rawan banjir. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan galur harapan calon varietas yang cocok untuk lahan tersebut, produksi tinggi, tahan hama dan penyakit serta memiliki mutu beras sesuai selera konsumen.     METODOLOGI Penelitian dilaksanakan di Indramayu (2008), Bojonegoro (2008), Kebumen (2008), Cilacap (2008), Karang Agung (2008), Purworejo (2008), Purworejo (2009), dan Indramayu (2009). Galur-galur yang dievaluasi sebanyak sembilan dan tiga varietas pembanding yaitu IR42, Batanghari, dan IR64 (Tabel 1). Percobaan disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat ulangan, luas petak 4 m x 5 m, jarak tanam 25 cm x 25 cm, umur bibit 21–25 hari ditanam 2–3 bibit per rumpun. Pemupukan di lahan lebak dilakukan dua kali yaitu pada umur 0 minggu setelah tanam (MST) dengan 75 kg urea +100 kg TSP + 100 kg KCl/ha, pada umur 2–4 MST dengan 75 kg urea/ha. Pesemaian dilakukan dua kali pindah untuk lahan lebak. Pemupukan di lahan pasang surut dan lahan sawah rawan banjir dilakukan tiga kali yaitu pada umur 0 MST dengan 50 kg urea +100 kg TSP + 100 kg KCl per hektar, pada empat MST dengan 50 kg urea/ha, dan pada tujuh MST dengan 50 kg urea/hektar. Pupuk susulan diberikan setelah penyiangan. Pemberantasan hama dan penyakit dilakukan apabila diperlukan sesuai keadaan lapang. Peubah yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, umur tanaman dapat dipanen, jumlah gabah isi/malai, jumlah gabah hampa/malai, bobot 1000 butir gabah isi (kadar air 14%), dan hasil gabah kering giling/petak setelah di hilangkan satu baris pinggir. Analisis data menggunakan analisis varian dan dilanjutkan dengan uji LSD pada taraf 5%. Tabel 1. Daftar galur harapan toleran rendaman yang diuji di lahan rawa dan rawan banjir pada tahun 2008 dan 2009 No. Galur/varietas No. Galur/varietas 1. TOX4136-5-1-1-KY-3 7. B10528F-KN-35-2-2 2. B10891-MR-3-KN-4-1-1-MR-1 8. BP1027F-PN-1-1-2-1-KN-MR-3-3 3. B11586F-MR-11-2-2 9. BP367E-MR-42-4-PN-KN-MR-4 4. B10387F-MR-7-6-KN-3-KY-1 10. IR42 5. B9856D-MR-93-23-KY-1 11. Batanghari 6. BP1031F-PN-25-2-4-KN-2 12. IR64   HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisa data dari delapan lokasi pengujian pada tahun 2008 dan 2009 (Tabel 2) menunjukkan bahwa galur BP1027F-PN-1-2-1-KN-MR-3-3 memiliki hasil rata-rata cukup tinggi yaitu 5,87 t/ha lebih tinggi dari varietas pembanding Batanghari (5,81 t/ha). Apabila galur-galur yang diuji dibandingkan dengan pembanding IR42 (5,17 t/ha) dan IR64 (4,99 t/ha), maka ada lima galur yang hasilnya lebih tinggi atau hampir sama dengan hasil IR42 dan IR64 yaitu: galur B10891B-MR-3-KN-4-1-1-MR-1 (5,5 t/ha), TOX4136-5-1-1-KY-3 (5,25 t/ha), B11586F-MR-11-2-2 (5,21 t/ha), BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4 (5,16 t/ha), dan B10387F-MR-7-6-KN-3-KY-2 (5,01 t/ha). Tabel 2. Data hasil GKG (t/ha) galur/varietas yang diuji di lahan rawa dan rawan banjir pada tahun 2008 dan 2009 No. Galur/varietas 1 2 3 4 5 6 7 8 Rata-rata 1. TOX4136-5-1-1-KY-3 6,4 3,0 3,7 7,1 6,4 2,5 5,3 7,5 5,25 2. B10891B-MR-3-KN-4-1-1-MR-1 6,2 5,8 3,1 5,6 6,6 3,2 5,6 7,9 5,50 3. B11586F-MR-11-2-2 5,3 4,9 3,4 6,6 6,4 2,7 5,5 6,9 5,21 4. B10387F-MR-7-6-KN-3-KY-2 6,3 2,9 3,2 4,1 6,2 3,1 5,2 9,2 5,01 5. B9856D-MR-93-23-KY-1 5,3 4,4 3,3 5,1 6,2 3,4 4,9 6,7 4,90 6. BP1031F-PN-25-2-4-KN-2 6,2 3,1 2,7 3,6 6,7 3,4 5,5 5,4 4,56 7. B10528F-KN-35-2-2 6,2 2,8 2,9 5,1 6,8 3,6 5,5 6,8 4,97 8. BP1027F-PN-1-2-1-KN-MR-3-3 7,1 5,5 3,3 7,6 6,2 3,7 5,9 7,5 5,87 9. BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4 7,1 5,9 3,1 4,6 5,9 2,6 5,0 7,0 5,16 10. IR42 6,1 5,2 2,7 6,1 5,0 3,2 5,0 8,1 5,17 11. BATANGHARI 6,7 5,0 4,1 6,1 6,5 4,6 5,6 7,9 5,81 12. IR64 5,7 3,3 2,9 6,9 6,3 2,6 5,5 6,8 4,99 Rata-rata 6,2 4,3 3,2 5,7 6,3 3,2 5,4 7,3 5,20 KK 13,0 3,9 9,5 7,7 4,1 14,1 8,8 21,0 LSD (5%) 1,2 5,8 0,4 0,6 0,4 2,7 0,7 2,2 Keterangan: 1 = Indramayu (MT-1, 2008); 2 = Karang Agung (MT 1, 2008); 3 = Bojonegora (MT-1, 2008); 4 = Kebumen (MT-1, 2008); 5 = Purworejo (MT-1, 2008); 6 = Cilacap (MT-1, 2008); 7 = Purworejo (MT-1, 2009); 8 = Indramayu (MT-1, 2009).   Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa varietas IR64 mempunyai tinggi tanaman yang paling pendek (88,0 cm) dan galur B10387F-MR-7-6-KN-3-KY-2 yang paling tinggi (121,8 cm). Galur/varietas yang memiliki anakan produktif paling banyak juga IR64 (19,9 batang) dan yang paling sedikit adalah galur BP1027F-PN-1-2-1-KN-MR-3-3 (13,0 batang) meskipun secara umum masih tergolong sedang, kemudian diikuti oleh galur BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4 (13,2 batang). Apabila dilihat dari umur panen tanaman, varietas IR64 termasuk yang paling genjah (113,9 hari) dan yang paling lambat adalah varietas IR42 (126,0 hari). Sedangkan umur panen galur-galur yang diuji berkisar 117,3–120,7 hari. Galur yang terbaik dalam hal jumlah gabah isi/malai adalah BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4 (161,5 butir) dan paling sedikit adalah varietas IR64 (94,7 butir). Apabila dilihat jumlah gabah hampa/malai tertinggi adalah galur BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4 (44,0 butir) dan gabah hampa paling sedikit adalah varietas IR64 (12,1 butir). Bobot 1000 butir gabah isi yang terberat adalah galur BP367E-MR-42-4-PN-3-4 (27,4 g) dan teringan adalah varietas IR42 (21,6 g). Tabel 3. Data agronomis galur/varietas yang diuji di lahan rawa dan rawan banjir pada tahun 2008 dan 2009 No. Galur/varietas Tinggi tanaman (cm) Jumlah anakan produktif (batang) Umur panen (hari) Gabah isi (butir) Gabah hampa (butir) Bobot 1000 butir (g) 1. TOX4136-5-1-1-KY-3 107,5 14,4 117,9 135,7 28,6 26,9 2. B10891B-MR-3-KN-4-1-1-MR-1 111,0 15,3 119,3 130,9 24,2 25,3 3. B11586F-MR-11-2-2 104,4 17,8 117,3 142,5 24,0 23,5 4. B10387F-MR-7-6-KN-3-KY-2 121,3 16,2 118,6 128,5 29,4 26,2 5. B9856D-MR-93-23-KY-1 112,0 15,9 119,4 123,2 30,8 27,3 6. BP1031F-PN-25-2-4-KN-2 102,4 15,9 117,9 116,1 28,4 25,1 7. B10528F-KN-35-2-2 103,3 16,5 118,8 139,2 27,3 25,0 8. BP1027F-PN-1-2-1-KN-MR-3-3 118,1 13,0 119,5 150,7 31,7 26,0 9. BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4 106,2 13,2 120,7 161,5 44,3 27,9 10. IR42 95,1 17,3 126,0 118,1 23,6 21,6 11. BATANGHARI 102,4 17,0 117,8 120,6 24,1 27,7 12. IR64 88,0 19,9 113,9 94,7 12,1 25,4   Pada Tabel 4 dapat dilihat data ketahanan hama dan penyakit serta mutu beras. Ternyata dari galur yang diuji diperoleh galur yang rendemen beras pecah kulit tertinggi adalah BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4 (70%) diikuti oleh galur B10387F-MR-7-6-KN-3-KY-2 dan B10528F-KN-35-2-2 masing-masing 69%. Sedangkan varietas pembanding IR42, Batanghari, dan IR64 masing-masing hanya mencapai 60%, 63%, dan 61%. Persentase beras kepala tertinggi dicapai oleh galur B10891B-MR-3-KN-4-1-1-MR-1 (97%) diikuti galur BP1027F-PN-1-2-1-KN-MR-3-3 (94%) dan galur B10528F-KN-35-2-2 (92%). Sedangkan varietas pembanding IR42 (81%), Batanghari (90%), dan IR64 (89%). Dari tekstur nasi, rasa nasi, dan kandungan amilosa hanya ada satu galur yang tergolong pulen, enak dengan kandungan amilosa 18,42% adalah B10891B-MR-3-KN-4-1-1-MR-1. Empat galur yang tergolong memiliki tekstur nasi sedang, rasa nasi enak, dan kandungan amilosa yaitu galur B9856D-MR-93-23-KY-1(24,01%), B10528F-KN-35-2-2 (23,52%), BP1027F-PN-1-2-1-KN-MR-3-3 (24,43%), dan BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4 (22,96%). Semua beras yang dimiliki tergolong panjang (long grain), bentuk beras lonjong dan ramping (slender), dengan pengapuran sedikit (small).       Tabel 4. Data mutu beras galur/varietas yang diuji di lahan rawa dan rawan banjir pada tahun 2008 dan 2009 No. Galur/varietas BG BPK BP Rendemen Tekstur nasi Rasa nasi Amilosa (%) Ukuran beras BP (%) BK (%) P B C 1. TOX4136-5-1-1-KY-3 500 398 333 67 74 pera tidak enak 28,35 L M S 2. B10891B-MR-3-KN-4-1-1-MR-1 500 343 341 62 97 pulen enak 18,42 L S S 3. B11586F-MR-11-2-2 500 383 320 64 90 pera tidak enak 26,39 L S S 4. B10387F-MR-7-6-KN-3-KY-2 500 397 336 69 86 pera tidak enak 26,39 L M S 5. B9856D-MR-93-23-KY-1 500 396 335 67 89 sedang enak 24,01 L M S 6. BP1031F-PN-25-2-4-KN-2 500 373 310 62 78 pera tidak enak 27,72 L S S 7. B10528F-KN-35-2-2 500 404 347 69 92 sedang enak 23,52 L M S 8. BP1027F-PN-1-2-1-KN-MR-3-3 500 396 323 66 94 sedang enak 24,43 L M S 9. BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4 500 401 350 70 66 sedang enak 22,96 L M S 10. IR42 500 351 302 60 81 pera tidak enak 27,30 L M S 11. BATANGHARI 500 382 315 63 90 sedang enak 24,25 L M S 12. IR64 500 367 305 61 89 sedang enak 23,48 L S S Keterangan: BG = Berat Gabah; BPK = Beras Pecah Kulit; BP = Beras putih; Rendemen (Berat beras putih dibagi berat gabah), %BK = Beras Kepala (Berat Beras Kepala dibagi Berat Beras Putih); P = Panjang beras; B = Bentuk beras; C = Pengapuran.   Apabila dilihat data ketahanannya terhadap hama wereng cokelat hampir semua galur yang diuji tergolong agak rentan sampai rentan. Terhadap penyakit hawar daun bakteri strain IV galur B9856D-MR-93-23-KY-1, BP1031F-PN-25-2-4-KN-2, B10528F-KN-35-2-2, BP1027F-PN-1-2-1-KN-MR-3-3, dan BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4 tergolong tahan, akan tetapi yang tahan terhadap strain VIII hanya tiga galur yaitu BP1031F-PN-25-2-4-KN-2, B10528F-KN-35-2-2, dan BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4. Semua varietas pembanding tergolong rentan terhadap hawar daun bakteri strain IV dan VIII. Dari uji ketahanan terhadap empat ras dominan penyakit blas dapat diketahui bahwa satu galur tahan terhadap tiga ras yaitu BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4, empat galur/varietas tahan terhadap dua ras, dan tiga galur/varietas tahan terhadap satu ras. Ras yang digunakan dalam pengujian ini adalah ras 173, 133, 037, dan 033. Dari hasil pengamatan di Karang Agung terdapat satu galur yang tahan terhadap penyakit tungro yaitu B11586F-MR-11-2-2.   Tabel 4. Data ketahanan hama penyakit galur/varietas yang diuji di lahan rawa dan rawan banjir pada tahun 2008 dan 2009 No. Galur/varietas Ketahanan terhadap WCK 3 HDB Blas* IV VIIII 1. TOX4136-5-1-1-KY-3 7,0 7 9 2 T, 2M 2. B10891B-MR-3-KN-4-1-1-MR-1 7,0 7 7 4R 3. B11586F-MR-11-2-2 5,7 5 7 4R 4. B10387F-MR-7-6-KN-3-KY-2 7,0 5 7 3M,1R 5. B9856D-MR-93-23-KY-1 7,7 3 5 1T, 3M 6. BP1031F-PN-25-2-4-KN-2 5,0 1 3 2T, 2M 7. B10528F-KN-35-2-2 7,7 1 3 2T, 2M 8. BP1027F-PN-1-2-1-KN-MR-3-3 6,3 3 7 1T, 2M 9. BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4 5,7 1 1 3T, 1M 10. IR42 9,0 9 9 3M,1R 11. BATANGHARI 6,3 9 9 1T, 3M 12. IR64 6,3 7 9 2T, 2M Keterangan: WCK = Wereng Coklat Biotipe 3, HDB = Hawar Daun Bakteri Strain IV dan VIII, Blas* 4 ras (ras 173; ras133; ras 073; dan ras 033), T = tahan; M = moderat; R = rentan.   KESIMPULAN Dari hasil pengujian ini dapat disimpulkan bahwa: Galur BP1027F-PN-1-2-1-KN-MR-3-3 memiliki hasil tertinggi (5,87 t/ha) tetapi tidak beda nyata dengan varietas Batanghari (5,81 t/ha). Galur B10891B-MR-3-KN-4-1-1-MR-1 memiliki persentase beras kepala tertinggi (97%), rasa nasi enak, dan tekstur nasi pulen. Diperoleh tiga galur tahan penyakit hawar daun bakteri strain IV dan VIII, yaitu BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4, BP1031F-PN-25-2-4-KN-2, dan B10528F-KN-35-2-2. Satu galur tahan tiga ras penyakit blas yaitu BP367E-MR-42-4-PN-3-MR-4. Galur B11586F-MR-11-2-2 menunjukkan ketahanan lapang terhadap penyakit tungro di Karang Agung (lapang).   DAFTAR PUSTAKA Direktorat Rawa. 1984. Kebijaksanaan Departemen Pekerjaan Umum dalam rangka pengembangan daerah rawa. Dalam: Diskusi Pola Pengembangan Pertanian Tanaman Pangan di Lahan Pasang Surut/Lebak. 30 Juli–2 Agustus 1984 di Palembang. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum. Harahap, Z. 1982. Pedoman Pemuliaan Padi LBN-LIPI. Bogor. 30 p. Inu, G.I., Trip A., I.G.P. Widjaja A., Suwarno, Tati H., Ridwan T., dan D.E. Sianturi. 1993. Sewindu Penelitian Pertanian di Lahan Rawa. ISDP. 128 p. Murty, V.V.S. and G.S. Khush. 1972. Studies on the inheritance of resistance to bacterial leaf blight in rice varieties. In: Rice Breeding. IRRI. Los Banos, Philippines. Nasoetion, L.I. dan J. Winoto. 1995. Makalah oleh fungsi lahan pertanian dan dampaknya terhadap keberlangsungan swasembada pangan. Makalah disajikan pada lokakarya Persaingan Lahan dan Air, Dampak Terhadap Keberlanjutan Swasembada Pangan. Cipayung, Bogor, 31 Oktober–2 Nopember 1995. Nugroho, K., Kusuma, Paidi, Wahyu W., Abdurrachman, H. Suhardjo, dan I.G.P. Widjaja A. 1993. Peta areal potensial untuk pengembangan pertanian lahan rawa pasang surut, rawa dan pantai. Proyek Penelitian Sumber Daya Lahan. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Widjaja Adhi, I.P.G, K. Nugroho, D.S. Ardi, dan A.S. Karama. 1992. Sumber daya lahan pasang surut, rawa, dan pantai. Potensi, keterbatasan, dan pemanfaatan. Dalam: Prosiding Pertemuan Nasional Pengembangan Lahan Pasang Surut dan Rawa. Cisarua, 3–4 Maret 1992. Santoso, T. 1998. Permasalahan dan Strategi pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT pertanian lahan rawa. Makalah seminar pada Proyek Penelitian dan Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP. Puslitbang Tanaman Pangan. Bogor, 24 Juli 1998. Subagyo, H. 1998. Potensi pengembangan dan tata ruang lahan rawa untuk pertanian. Dalam: Inovasi Teknologi Pertanian. Seperempat Abad Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta. p. 195–119. Widiarta, I.N. 2007. Loss and risk assessment: irrigation infrastructure and flood affecting area in Indonesia. Final Report. ICFORD-IRRI collaboration.
Image

Thursday, 09 February 2012
International Seminar. INTERNATIONAL SEMINAR “RICE INNOVATION FOR INCREASING PRODUCTION AND CONSERVING ENVIRONMENT UNDER GLOBAL CLIMATE CHANGE”   Indonesian Agency for Agricultural Research and Development, Jl. Ragunan 29 Pasar Minggu South Jakarta 12540, Indonesia. July 11–12, 2012 Organized by :   Indonesian Center  for Rice Research (ICRR) Indonesian Agency for Agricultural Research and Development Ministry of Agriculture XX for download registration form Click Here
Image

Tuesday, 03 January 2012
Lomba Menyanyi " Diversifikasi Pangan ". Lomba Menyanyi Lagu : Diversivikasi pangan   Sosialisasi program diversifikasi pangan bisa dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan yang beragam, tetapi kali ini BB Padi mensosialisakan program tersebut melalui lomba menyanyi  lagu-lagu cipt. Dr. Made Jana Mejaya salah satunya adalah lagu wajib yang berjudul Diversifikasi Pangan.   Lomba dilaksanakan selama dua hari, diikuti oleh karyawan/ti dan peserta dari berbagai daerah di kecamatan 3 kecamatan, yaitu dari kec. Cikampek, Kec. Patokbeusi, dan Kec Ciasem Kab Subang. Lomba dibagi menjadi 2 kategori, yaitu kategori umum dan kategori karyawan/ti. Yang menarik dalam perlombaan ini adalah seorang anak anak yang fasih membawakan lagu diversifikasi pangan dengan lancar. Berikut pemenang lomba menyanyi BB Padi:   Untuk Kategori Umum Juara I   : Hafiz Arjuna Juara II  : Lia Juara III                : Noni   Untuk kategori Karyawan/ti: Juara I   : Suryana Juara II     : Nita Kartina Juara III                : Jumat
Image

Wednesday, 20 July 2011
ICRR’s Participation on National Swamp Agriculture Week I 2011 in South Kalimantan. National Swamp Agriculture Week I was held on 12-15 July 2011 in South Kalimantan. In this event, ICRR had been participated on supporting the increase of rice productivity, especially on the swamp rice and submergence tolerant rice. ICRR sent 1 ton of Inpara Inbrida seeds which would be given to farmers in Kandangan, South Hulu Sungai. The opening ceremony of the event was conducted by Indonesia’s Minister of Agriculture, Dr. Ir. H. Suswono, MMA, in North Loktabat, Banjar Baru, South Kalimantan. After the opening ceremony, the event was continued by harvesting rice in Kandangan, South Hulu Sungai. Then, the event was continued with giving the New Developed Varieties seed of Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4 and Inpara 5 symbolically to the farmers by Minister of Agriculture. National Swamp Agriculture Week was held for communicating and developing the science and technology of relevant swamp rice research in supporting the Ministry of Agriculture program to face climate change problem. Additionally, national workshop of agricultural land which the theme was “Acceleration of Technological Innovation for land resources and potential swamp land in supporting national self-sufficient and climate change anticipation” was conducted also in this event. The workshop was held on 13-15 July 2011. The opening ceremony of workshop was conducted with signing MoU in order to support food self-sufficient continuously.
Hipa Jatim 2 DESKRIPSI HIPA JATIM 2 Umur Tanaman 119 hari setelah tanam Tinggi Tanaman 116 cm Anakan Produktif 16 batang Kerontokan Sedang Kerebahan   Tekstur Nasi Pulen Kadar Amilosa 21,5% Indeks Glikemik   Rata-rata Hasil 9,3 t/ha Potensi Hasil MK 10,9 t/ha, MH 10,7 t/ha Ketahanan terhadap   Hama Agak rentan terhadap wereng cokelat biotipe 3   Penyakit Agak tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III. Rentan terhadap hawar daun bakteri patotipe IV dan VIII. Rentan terhadap tungro.   Anjuran Tanam Tidak dianjurkan ditanam di daerah endemik hama dan penyakit utama padi   Sifat Khusus Lainnya   Pemulia Satoto, Sudibyo TWU, Murdhani Direja, Indrastuti AR., dan Yuni W   Tim Peneliti Suparman YH, Eddy P., Arifin SK., Sudir, Suprihanto, dan Prihadi W   Teknisi Teguh, Ghufron, Bambang DPI, Sugeng, Dzanuri, Mustofa, Gunadi, Sujianto, Kadir, Hamming, Suwarto, Suwardi, Samardi, dan Cecep S   Dilepas tahun 2011  
Hipa 12 DESKRIPSI HIPA 12 Umur Tanaman 105 hari setelah semai Tinggi Tanaman 104,4 cm Anakan Produktif 15 batang Kerontokan Sedang Kerebahan   Tekstur Nasi Pulen Kadar Amilosa 23,2% Indeks Glikemik   Rata-rata Hasil 7,7 t/ha Potensi Hasil MK 10,5 t/ha, MH 8,9 t/ha Ketahanan terhadap   Hama Agak tahan terhadap wereng cokelat biotipe 2 dan 3   Penyakit Rentan terhadap hawar daun bakteri patotipe VIII dan agak tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III. Rentan terhadap tungro.   Anjuran Tanam Baik ditanam di lahan irigasi dengan mengikuti anjuran PTT   Sifat Khusus Lainnya     Pemulia Satoto, Sudibyo T. W Utomo, Murdhani Direja, Indrastuti Apri R., dan Yuni Widyastuti   Tim Peneliti Pinekantoro, Suharno, Wagiman, Arifin S.K., Sudir, Suprihanto, dan Prihadi Wibowo   Teknisi Suwarto, Suwardi, Samardi, dan Cecep S   Dilepas tahun 2011  
Inpari Sidenuk DESKRIPSI INPARI SIDENUK Umur Tanaman ± 103 hari Tinggi Tanaman ± 104 cm Anakan Produktif ± 15 batang Kerontokan Tahan Kerebahan Sedang Tekstur Nasi Pulen Kadar Amilosa ± 20,6% Indeks Glikemik   Rata-rata Hasil 6,9 ton/ha GKG Potensi Hasil 9,1 ton/ha GKG Ketahanan terhadap   Hama Agak tahan wereng batang cokelat biotipe 1,2,dan 3   Penyakit Agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri patotipe III, rentan terhadap hawar daun bakteri patotipe Iv, agak rentan terhadap hawar daun bakteri patotipe VIII, rentan terhadap penyakit tungro, serta rentan terhadap semua ras blas   Anjuran Tanam Cocok ditanam diekosistem sawah dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl dan tidak dianjurkan ditanam didaerah endemik tungro dan blas   Sifat Khusus Lainnya   Pemulia Mugiono, Hambali, Sutisna, dan Yulidar   Tim Peneliti Baehaki SE, Triny SK, Suprihanto, Siti Dewi Indrasari, Anggiani Nasution, Nia Kurniawati, Aan Dardjat, Trias Sitaresmi dan Cucu Gunarsih   Teknisi Holil Munawar dan Yahya   Dilepas tahun 2011  
Ligh Trap : Light trap is a unit to trap insect. It has a function to know the population of insects in agricultural land. Insect is trapped on the light at night. Some traps used for insect are light trap, yellowpan trap, airnet trap, and pitfall. The use of the trap depends on the condition and aim that we want to know. Baehaki (2010) designed light trap which described on picture 1. The main components are light, funnel, plastic bag, and roofed frame. Light (minimal 1000 watt) has function to attract insects at night, while funnel is the enter place for insect.  However, plastic bag is a place for trapped insect, while roped frame has a function to protect light and trapped insects since the day is rainy. The light trap can be used in the rice field. We can put the light trap suitable on the condition of place, because this trap uses light so it needs electricity. One unit of light trap is used for monitoring in 300-500 ha area, while for controlling, it can be used in 50 ha area. Light should be turned on every day at 6 p.m. to 6 a.m. All trapped insects will be observed and counted. This light trap can be used as the detection for immigrant brown plant hopper and stem borer so by this trap, we can know when the immigrant pest attack and when the attack will be on the peak However, the recommendation for seedling time is 15 days after trapped time achieve its peak. To control stem borer, insecticide should be spry after 4 days of the flight time. When the land was managed, the light trap should be used continuously to control the development of pest control, especially brown planthopper and stem borer. Insects that could be trapped are brown planthopper (adult macroperta), stem borer, (Scotinophara coarctata ), Coccinella Sp, Paederus Sp, Ophionea Sp, etc. In the high population, light trap designed by ICRR could trap 376 thousands brown planthoppers/ night/ unit, 12 thousands stem borers/night/unit, and 146 thousand bedbug grounds/night/unit. After the insects were observed, they were destroyed and natural enemies were back to their nature.  (Eko, ICRR) You can call ICRR if you need this light trap. Picture 1. Light Trap Designed by Baehaki (2010) 
BROWN PLANTHOPPERS StatusBrown Planthopper (Nilapavarta lugens Stal.) is a pest which is suffered by most of Indonesian Rice. It attacked 52,000 ha of rice planting areas in 1961-1970. In wet season 1968-1969, the brown planthoppers attacked 2,000 ha of rice planting areas in Central Java (Brebes, Tegal, Klaten) and 50,000 ha of rice planting areas in West Java (Subang and Indramayu). However, 2,500,00 ha of areas was attacked by brown planthoppers in 1971-1980. The significant attack of brown planthoppers could decrease substantially rice production and caused the financial loss for farmers. The reports of several provinces in 2004 and 2005 reported that brown planthoppers attacked several superior rice varieties. In planting time 2005, 46,000 ha of areas in East Java, Central Java, and West Java were attacked by brown planthoppers. Biotechnology of Brown planthoppers Brown planthoppers multiply sexually, while the pre-spawning time for brakiptera (winged dwarf) is 3-4 days and 3-8 days for makroptera (long winged). The eggs are usually laid on the base of the midrib leaf issue, but if the eggs population is high, the eggs will be laid at the end of the leaf midrib and leaf bone. Additionally, the eggs will be grouped then one group consists of 3-21 eggs. One female brown planthoppers could lay 100-500 eggs. In Sukamandi, the eggs have hatched after 9 days, while the hatching time in subtropics area needed more time. The time which is needed to suffer five instars for the nymphs and to complete the nymph period was 12.82 days. Nymph could develop into two adult brown planthoppers. The first form is makroptera (long winged). It is the kind of brown planthoppers which have a normal front and rear wing. The second form is brakiptera (winged dwarf). It is the adult brown planthopper which have abnormal front and rear wing, especially the rear wing which is very rudimentary. Alelokemic crop factor is a factor that is directly influent the shape of the wings. The tissues of green plant contain the high chemicals mimic juvenile hormones, but the chemicals mimic juvenile hormones on aging the rice plant will be reduced. Therefore, the makroperta often appear on the oldest plant where the brown planthoppers grow. Based on the food availability on the field, the change of wing shapes is important. The Brown Planthoppers Control The brown planthoppers control has been conducted since 1970 with using several methods. The efforts which are conducted to control the brown planthoppers included the use of resistant variety, the change of planting method, and the use of pesticide. Moreover, Presidential Instruction No. 3, 1986 will more clarify about Integrated Pest Management (IPM) of brown planthoppers such as planting pattern, resistant varieties, sanitation, and eradication, and the pesticide use. Basically, the brown planthopper control is conducted by three basic components such as a) the biological and ecological knowledge of insecticide, b) the determining economic control, and c) measurement or assessment methods of pest attack. The Resistant Varieties Steps The first control of brown planthoppers should use the varieties which are resistant to biotype of brown planthoppers which often attack the areas. The resistant varieties have the biggest role because in reducing brown planthoppers population. IR74 (Bph3) and IR64 (Bph1+) could more reduce gradually the brown planthoppers for 94.9 and 77.4% than Cisadane which could not reduce the brown planthoppers biotype 3 population, while Cisanggarung only reduce for 20.3% of br. Pest Control Technology using economic threshold based on its natural enemy Brown planthopper used the control based on natural enemy which could be used in all areas which was suffered by pests. The steps that should be conducted included: The brown planthoppers observation is conducted once in a week or lately once for two weeks. Observe 20 diagonal tillers on 5 ha areas with using the varieties which has similar age. Then two samples are taken from each 20 tillers. Count the total numbers of planthopper (Brown planthopper + white back planthopper) and natural enemies (spider Ophione nigrofasciata, Paederus fuscifes, Coccinella, and Cyrtorhinus lividipennis). Use Baehaki’s formula which is described below. Ai: Planthopper population (Brown planthoppers + white back planthopper) found on 20 tillers on the first week Bi:  Spider population as predator + Ophionea nigrfasciata + Paederus fuscifes Coccinella found on 20 tillers on the first week Ci: Cyrtorhinus lividipennis population found on 20 tillers Di: Corrected brown planthopper per tiller Insecticide Application If and only of the value Di > 5 of the corrected brown planthoppers/ tiller found on rice aged <40 DAT or the value Di >20 of the corrected brown planthoppers/ tiller found on rice aged<40 DAT should be applied by recommended insecticides. If and only if the value Di < 5 of the corrected brown planthoppers/ tiller found on rice aged <40 DAT or the value Di >20 of the corrected brown planthoppers/ tiller found on rice aged<40 DAT should not be applied by insecticides but it should be observed continuously 
TIKUS SAWAH (Rattus Argentiventer Rob & Kloss) Status Merupakan hama prapanen utama penyebab kerusakan terbesar tanaman padi, terutama pada agroekosistem dataran rendah dengan pola tanam intensif. Tikus sawah merusak tanaman padi pada semua stadia pertumbuhan dari semai hingga panen (periode prapanen), bahkan di gudang penyimpanan (periode pascapanen).     Kerusakan parah terjadi apabila tikus menyerang padi pada stadium generatif, karena tanaman sudah tidak mampu membentuk anakan baru. Ciri khas serangan tikus sawah adalah kerusakan tanaman dimulai dari tengah petak, kemudian meluas ke arah pinggir, sehingga pada keadaan serangan berat hanya menyisakan 1-2 baris padi di pinggir petakan. Biologi dan Ekologi Tikus sawah digolongkan dalam kelas vertebrata (bertulang belakang), ordo rodentia (hewan pengerat), famili muridae, dan genus Rattus. Tubuh bagian dorsal/ punggung berwarna coklat kekuningan dengan bercak-bercak hitam di rambut-rambutnya, sehingga secara keseluruhan tampak berwarna abu-abu. Bagian ventral/perut berwarna putih keperakan atau putih keabu-abuan. Permukaan atas kaki seperti warna badan, sedangkan permukaan bawah dan ekornya berwarna coklat tua. Tikus betina memiliki 12 puting susu (6 pasang), dengan susunan 1 pasang pada pektoral, 2 pasang pada postaxial, 1 pasang pada abdomen, dan 2 pasang pada inguinal. Pada tikus muda/predewasa terdapat rumbai rambut berwarna jingga di bagian depan telinga. Ekor tikus sawah biasanya lebih pendek daripada panjang kepala-badan dan moncongnya berbentuk tumpul. Panca indera tikus sawah berkembang baik dan sangat menunjang setiap aktivitas kehidupannya. Sebagai hewan nokturnal, mata tikus telah berkembang dan menyesuaikan untuk melihat dalam intensitas cahaya rendah. Indera penciuman berkembang baik. Dengan indera tersebut, tikus mendeteksi wilayah pergerakan tikus lain, jejak anggota kelompoknya, dan betina estrus. Indera pendengaran tikus sawah berkembang sempurna. Indera pengecap berkembang baik sehingga mampu mendeteksi rasa pahit, racun, dan enak/tidaknya suatu pakan. Indera peraba juga berkembang baik, kumis dan rambut-rambut panjang pada sisi tubuhnya digunakan sebagai sensor sentuhan terhadap benda-benda yang dilalui. Dengan indera yang berkembang dan terlatih tersebut, tikus sawah memiliki kemampuan fisik yang prima seperti berlari, menggali, memanjat, meloncat, melompat, mengerat, berenang, dan menyelam. Tikus sawah juga berperilaku cerdik dan memiliki kemampuan belajar/mengingat (meskipun terbatas). Tikus sawah mempunyai kemampuan reproduksi yang tinggi. Periode perkembang-biakan hanya terjadi pada saat tanaman padi periode generatif. Dalam satu musim tanam padi, tikus sawah mampu beranak hingga 3 kali dengan rata-rata 10 ekor anak per kelahiran. Tikus betina relatif cepat matang seksual (±1 bulan) dan lebih cepat daripada jantannya (±2-3 bulan). Cepat/lambatnya kematangan seksual tersebut tergantung dari ketersediaan pakan di lapangan. Masa kebuntingan tikus betina sekitar 21 hari dan mampu kawin kembali 24-48 jam setelah melahirkan (post partum oestrus). Terdapatnya padi yang belum dipanen (selisih hingga 2 minggu atau lebih) dan keberadaan ratun (Jawa : singgang) terbukti memperpanjang periode reproduksi tikus sawah. Dalam kondisi tersebut,anak tikus dari kelahiran pertama sudah mampu bereproduksi sehingga seekor tikus betina dapat menghasilkan total sebanyak 80 ekor tikus baru dalam satu musim tanam padi. Dengan kemampuan reproduksi tersebut, tikus sawah berpotensi meningkatkan populasinya dengan cepat jika daya dukung lingkungan memadai. Tikus sawah bersarang pada lubang di tanah yang digalinya (terutama untuk reproduksi dan membesarkan anaknya) dan di semak-semak (refuge area/habitat pelarian). Sebagai hewan omnivora (pemakan segala), tikus mengkonsumsi apa saja yang dapat dimakan oleh manusia. Apabila makanan berlimpah, tikus sawah cenderung memilih pakan yang paling disukainya yaitu padi. Tikus menyerang padi pada malam hari. Pada siang harinya, tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada saat lahan bera, tikus sawah menginfestasi pemukiman penduduk dan gudang-gudang penyimpanan padi dan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif. Kehadiran tikus pada daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangan. Pengendalian Pengendalian tikus dilakukan dengan pendekatan PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu) yaitu pendekatan pengendalian yang didasarkan pada pemahaman biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus dengan memanfaatkan semua teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Pelaksanaan pengendalian dilakukan oleh petani secara bersama-sama dan terkoordinasi dengan cakupan wilayah sasaran pengendalian  dalam skala luas. Kegiatan pengendalian tikus ditekankan pada awal musim tanam untuk menekan populasi awal tikus sejak awal pertanaman sebelum tikus memasuki masa reproduksi. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan gropyok masal, sanitasi habitat, pemasangan TBS dan LTBS. Gropyok dan sanitasi dilakukan pada habitat-habitat tikus seperti sepanjang tanggul irigasi, pematang besar, tanggul jalan, dan batas sawah dengan perkampungan. Pemasangan bubu perangkap pada pesemaian dan pembuatan TBS (Trap Barrier System / Sistem Bubu Perangkap) dilakukan pada daerah endemik tikus untuk menekan populasi tikus pada awal musim tanam. Kegiatan pengendalian yang sesuai dengan stadia pertumbuhan padi antara lain sbb. : TBS merupakan petak tanaman padi dengan ukuran minimal (20 x 20)m yang ditanam 3 minggu lebih awal dari tanaman di sekitarnya, dipagar dengan plastik setinggi 60 cm yang ditegakkan dengan ajir bambu pada setiap jarak 1 m, bubu perangkap dipasang pada setiap sisi dalam pagar plastik dengan lubang menghadap keluar dan jalan masuk tikus. Petak TBS dikelilingi parit dengan lebar 50 cm yang selalu terisi air untuk mencegah tikus menggali atau melubangi pagar plastik. Prinsip kerja TBS adalah menarik tikus dari lingkungan sawah di sekitarnya (hingga radius 200 m) karena tikus tertarik padi yang ditanam lebih awal dan bunting lebih dahulu, sehingga dapat mengurangi populasi tikus sepanjang pertanaman. LTBS merupakan bentangan pagar plastik sepanjang minimal 100 m, dilengkapi bubu perangkap pada kedua sisinya secara berselang-seling sehingga mampu menangkap tikus dari dua arah (habitat dan sawah). Pemasangan LTBS dilakukan di dekat habitat tikus seperti tepi kampung, sepanjang tanggul irigasi, dan tanggul jalan/pematang besar. LTBS juga efektif menangkap tikus migran, yaitu dengan memasang LTBS pada jalur migrasi yang dilalui tikus sehingga tikus dapat diarahkan masuk bubu perangkap. Fumigasi paling efektif dilakukan pada saat tanaman padi stadia generatif. Pada periode tersebut, sebagian besar tikus sawah sedang berada dalam lubang untuk reproduksi. Metode tersebut terbukti efektif membunuh tikus beserta anak-anaknya di dalam lubangnya. Rodentisida hanya digunakan apabila populasi tikus sangat tinggi, dan hanya akan efektif digunkan pada periode bera dan stadium padi awal vegetatif.
You must have Flash Player installed in order to see this player.
Add Site to FavoritesAdd Page to FavoritesShare This PageEmail This PagePrint This PageSave Page as PDF
Back to Top

Statistics

mod_vvisit_counterThis week3696
mod_vvisit_counterThis month12784
mod_vvisit_counterAll Visitor686177

Online (in 20 minutes ago) : 17
Times : 17-05-2012 10:54

Certification

Copyright 2009 | Indonesian Center For Rice Research
Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, West Java
Telp (0260) 520157, Fax. (0260) 520158
email : bbpadi@litbang.deptan.go.id